Setelah kurang lebih sebulan tinggal di Wageningen, barulah saya merasa bisa menuliskannya dari sudut pandang seorang pendatang baru. Saya sebut 'sudut pandang pendatang baru', karena mungkin saja pandangan saya, yang sebagai pendatang baru ini terhadap beberapa hal, nggak sama dengan kota ini pada kenyataannya. Nanti kalau sudah setahun, mari kita buktikan kebenarannya :D
Kota Wageningen
Dalam 3 minggu ini, bagi saya Wageningen adalah sebuah kota kecil yang nyaman. Saya nggak peduli kalau banyak teman-teman mahasiswa dari kota lain yang bilang (dalam guyonan mereka) kalau wageningen itu bukan kota, tapi kampung, atau disebut juga kampung wageningen. haha. Yang penting saya merasa cocok dengan kota ini. Kota besar nggak match aja dengan seorang introvert seperti saya. Mungkin benar, soalnya memang kotanya kecil sih. Tapi kalau kata teman dutch saya, di Belanda memang kotanya nggak terlalu besar-besar. Yang dibilang kota kecil itu seperti kota tempat tinggal dia dimana cuma ada dua supermarket. So, Wageningen is considered as a medium city. Oh, well. Dan lagi, sistem yang sustainable, suasana yang tenang, banyak ruang hijau, kebun, peternakan dan bahkan hutan menjadi ciri khas kota Wageningen yang menyebut dirinya sebagai "city of life sciences".
Karena suasananya yang nggak terlalu ramai, Wageningen menjadi tempat yang nyaman untuk belajar dengan fokus. Nggak banyak pusat keramaian di sini sehingga nggak banyak distraksi. Meskipun pusat perbelanjaan untuk keperluan-keperluan dasarnya lengkap dan nggak kalah canggih dan banyak pilihan dibandingkan dengan di kota-kota besar. Wageningen nggak punya chain store seperti ikea, H&M, ZARA, primark (apalagi branded store!) dan sebagainya sehingga nafsu shopping seorang pelajar yang kadang stress-nya dilampiaskan ke belanja bisa dikendalikan dengan baik. Di sisi lain bisa tetap tenang, karena saat ingin belanja, cuma tinggal naik kereta 20 menit menuju Arnhem.
Sepeda oh Sepeda
Dulu saya suka kesal sendiri waktu melihat film animasi indonesia, dimana salah satu anak kecil suka membawa adiknya yang masih kecil sekali bersepada di boncengan depan. Bagi saya itu nggak wajar. Anak kecil kok ditaruh di depan, naik sepeda pula. Bahaya sekali! Nah, di Wageningen dan Belanda pada umumnya, pemandangan seperti ini sangat sangat wajar. Mengayuh sepeda sambil membalas pesan di smartphone dengan kedua tangan? wajar! sampai bawa kulkas atau kasur yang diikat di boncengan belakang juga masih wajar, meskipun saya kurang yakin cara bersepada seperti ini dianggap legal. :))
Santai
Orang di Wageningen, dan Belanda pada umumnya sangat santai dengan hidup. Mereka nggak suka bekerja terlalu lama. Bagi mereka, lebih baik bekerja sebentar tetapi efektif. Alhasil, hampir semua fasilitas layanan, mulai dari kantor hingga supermarket mulai buka dari jam 9 pagi. Kantor tutup jam 5 sedangkan pusat perbelanjaan tutup di jam 6 sore, kecuali beberapa supermarket saja yang buka sampai jam 8 malam. Ada juga sebagian yang punya jadwal buka sendiri seperti dari jam 10 pagi sampai jam 2 siang saja, dan sebagainya. Mereka juga nggak suka diganggu kalau weekend. Itu mutlak waktu pribadi yang akan dihabiskan untuk keluarga atau teman-teman. Jadi, jika mengerjakan group assignment di hari sabtu atau minggu, jangan harap akan ada dutch yang datang.
Tentu saja kata santai nggak berlaku untuk sistem kuliahnya. Kuliah nggak santai sama sekali di sini.
Pelajar Indonesia
Entah tersebab apa pelajar Indonesia di Wageningen ini ramai sekali. Sampai bulan September 2016, pelajar Indonesia di Wageningen mencapai 200-an orang. Angka ini mencakup mahasiswa bachelor, master dan PhD. Mungkin karena kotanya nggak terlalu besar, jadi ramainya makin terasa. Setiap sudut, saya bisa bertemu orang Indonesia. Meskipun nggak saling kenal, biasanya kami saling sapa atau dadah-dadah dari jauh. Orang-orang Indonesia di sini bisa langsung di kenali dari wajah dan penampilan. Jadi bisa dipastikan kemungkinan salah sapa itu cuma 5%. Saya bahkan pernah salah ngomong waktu mau naik lift di apartemen tempat tinggal saya yang 20 lantai tingginya. Karena tidak suka berlama-lama di dalam lift, dan sign tanda panahnya ada di dalam, sebelum naik saya suka bertanya dulu. Hari itu, alih-alih bertanya "is it going down" saya malah bilang "ini turun ya". Dan mas-nya yang chinese spontan menjawab "iya mbak". Oh, syukurlah. haha. Pernah juga, karena sudah yakin sekali itu orang Indonesia, saya mencoba menyapa dalam bahasa indonesia. Dan yang di sapa bengong saja. Setelah saya konfirmasi, ternyata dia orang filipina :')
Tapi, meskipun banyak sekali orang indonesia di sini. Jangan disangka akan terus-terusan bersama orang indonesia. Karena kalau sudah musim kuliah, kesempatan untuk ngobrol banyak itu cuma di lift atau kebetulan ketemu di centrum saat beli ice cream (pegalaman pribadi), selebihnya, semua sibuk dengan urusan masing-masing dan cuma bisa say hi dari jauh jika berpapasan. Tapi setidaknya kalau homesick, bisa bikin potluck, kalau stress atau bosan sendirian, mereka bersedia dikunjungi. Kalau butuh bantuan, dengan senang hati membantu. Bahkan saat nggak diminta sekalipun. Contohnya saya yang dikasih kulkas, sama tetangga sebelah yang kebetulan orang indonesia, dan kebetulan punya kulkas dua.
Sepertinya...
Kalau dipikir-pikir, walaupun luar biasa rindu rumah, sepertinya dua tahun lagi, reverse culture shock akan menjadi berat bagi saya. Kalau dirasa-rasa, meskipun sistem kuliahnya berat, saya akan merindukan tempat ini saat kembali nanti. Sepertinya, Wageningen memang tipe tempat tinggal yang ngangenin.