Sunday, 13 November 2016

Autumn



Ada saat-saat di hidupmu, dalam satu hari kamu akan jatuh cinta berkali-kali. Pada Tuhan, pada masakanmu sendiri, pada bunga-bunga di salah satu toko di stasiun kereta, pada ilmu yang baru saja kau pelajari, pada cerita dari seorang asing yang hanya ingin berbicara di sela-sela menunggu jadwal kereta, pada senyum dan tawa teman-temanmu, pada lagu, pada rindu, pada bangunan-bangunan, pada kesederhaan, dingin, dan alam yang perubahannya menyajikan keindahan. 



Akhir-akhir ini saya mendapati diri jatuh cinta berkali-kali pada daun-daun yang berubah warna, dibuai angin, kemudian melepas rantingnya. Mengikuti angin sampai terbawa jatuh pada tempatnya. Saya jatuh cinta pada musim gugur, dimana daun-daun menunjukkan masing-masing warna aslinya, seperti memiliki karakter yang berbeda-beda sehingga lebih mudah dikenali. Pohon honey locust di seberang jalan sana, berwarna kuning keemasan. Red oak, yang pada musim panas berwarna hijau, menunjukkan warna yang sesuai namanya: merah cerah. Beech merubah daunnya yang hijau muda menjadi kuning pucat. Maple berubah menjadi kuning, jingga hingga merah, sesuai jenisnya. Sedangkan daun-daun pohon konifer kebanyakan berwarna coklat.

Warna-warna ini menyatu membentuk sesuatu seperti nada. Berbeda, tetapi selaras. Diiringi dingin yang bagi saya merupakan sebuah kesenangan sekaligus enggan. Kadang saya menikmatinya, kadang tidak. Tetapi tidak akan berlebihan jika saya bilang jatuh cinta pada musim ini. Autumn memang seindah namanya.

Daun-daun yang jatuh mengisi ruang-ruang di halaman rumah, jalan, di atas rumput hijau, bangku dan kendaraan yang di parkir di pinggir jalan. Tidak ada yang luar biasa. Hanya kecantikan yang sederhana. Mereka akan berubah warna lagi menjadi cokelat sebelum akhirnya membusuk dan terurai bersama tanah, memberikan nutrisi untuk pohon-pohon menumbuhkan lagi daun-daunnya di penghujung musim dingin nanti.


Hari ini, autumn sepertinya mulai mengangkat kaki. Mempersilakan musim dingin mengucapkan salam, mengintip malu-malu karena datang terlalu cepat. Suhu semakin menurun hingga di bawah nol. Ranting-ranting pohon bertelanjangan. Saya pun dengan tidak rela mengucapkan selamat jalan, Autumn, sampai jumpa lagi di tahun depan.




Wednesday, 19 October 2016

Hujan Lembut Itu



Jam 8.17 CET. Hari ini turun hujan yang begitu lembut. Rintiknya sangat halus sehingga hanya terlihat seperti kabut saja. Aku baru menyelesaikan sarapan dengan setangkup roti, beberapa butir anggur dan segenggam almond. Ya, aku mulai terbiasa dengan gaya makan seperti ini. Terlebih aku memang tipe yang tidak terlalu 'harus makan nasi'. Ketika menggenggam cangkir capuccino-ku, aku melihat ke arah jendela. Air hujan yang lembut itu, beberapa butirannya tersangkut di pagar balkonku. Aku memanjat ke atas tempat tidur sambil membawa serta cangkir kopi yang masih panas itu. Tidak jauh di luar sana, beberapa pohon daunnya mulai menguning, atau memerah. Kubuka jendela kamarku. Kuabaikan saja suhu yang 10 derajat celcius itu. Aku sedikit bergidik saat udara yang di bawa hujan yang lembut itu merayap ke dalam kamarku. Bagaimana tidak, aku hanya mengenakan selapis kaos tipis dan celana olahraga yang malas kuganti seusai mengikuti kelas yoga semalam. Kuhirup udara dingin itu dalam-dalam. Musim berganti, warna pun berganti, suasana hati pun ternyata bisa dengan cepat berganti. Aku tersenyum.

Di sana, di atas lapangan sepakbola yang hijau dan dikelilingi jalur lari berwarna biru itu semalam bertengger bulan penuh terbesar yang pernah kulihat sepanjang hidupku. Seolah-olah dunia sedang menyelamatiku, entah untuk apa. Pagi ini, lapangan itu di penuhi (ya, dipenuhi) sekumpulan burung putih yang namanya akan kucari tahu nanti. Burung-burung itu hanya berdiam di sana, sesekali beberapa di antara mereka beterbangan di atasnya, kemudian kembali hinggap di atas rumput. Jalur lari di sekeliling lapangan itu mengkilap karena air hujan. Aku membayangkan diriku sedang berlari di sana, seperti yang sering kulakukan dulu di atas jalur lari berwarna merah di lapangan Lhong Raya. Hari ini, kusimpan dulu keinginan itu. Di suhu yang semakin menurun ini, aku lebih memilih melakukan yoga, zumba atau squash di dalam ruangan pusat olahraga De Bongerd yang berada tepat di samping lapangan. Mungkin nanti, beberapa bulan lagi saat cuaca mulai membaik. Insya Allah :)

Hujan yang lembut itu kini sudah berhenti. Aku pun berterimakasih telah memberi hiburan di pagi hari. Mengambil sedikit waktu belajarku untuk ujian di akhir bulan nanti. Aku tersenyum sekali lagi, bersyukur, menutup jendela dan mungkin mandi? Setelah itu lanjut belajar lagi. 

Selamat merayakan hari ini.

Friday, 14 October 2016

Yang Terpenting



Saat menuliskan ini, saya sedang menikmati secangkir lemon tea hangat bersama alunan musik dari lagu-lagu milik Aditya sofyan. Jam menunjukkan pukul 21.00 CET. Saya duduk di atas tempat tidur yang tepat berada di sebelah jendela besar di kamar saya. Kebiasaan yang saya lakukan hampir setiap malam semenjak berada di sini. Musiknya selalu berganti, sesuai mood. Kadang saya mendengar musik low beat seperti Aditya Sofyan ini, kadang saya dengar indie, dance, atau soul, kadang saya dengar Joss stone, Colbie caillat, kadang John mayer, Alanis morissette, kadang random slow rock. Tidak pernah bosan saya memeperhatikan bunga-bunga yang saya letakkan di pinggir jendela atau lampu-lampu perumahan, jalan dan lapangan sepakbola dari ketinggian lantai 9 ini. Yaaa..sort of introverts thingie. haha

Seperti kata kebanyakan orang, saat berada jauh dari kampung halaman, momen-momen seperti ini bisa membuat seseorang terlempar ke kerinduan yang dalam. Duh, bahasanya. Tapi ya, sejujurnya saya sedang rindu sekali sama kampung halaman, terutama orang tua, adik-adik, teman-teman baik dan kegiatan yang sering saya lakukan dulu, yang malahan dulu sering saya keluhkan. Kita memang sering take something for granted ya :)

Bukan berarti saya tidak senang berada di sini. Saya malah sangaaat bersyukur bisa merasakan belajar dari salah satu perguruan tinggi terbaik di dunia. Atmosfir yang positif, sistem yang baik dan sikap yang profesional. Saya bersyukur bisa mengamati dan memahami budaya dari berbagai tempat di belahan bumi ini setiap harinya. Kuliah juga berlangsung menyenangkan. Meskipun pada awalnya saya agak kesulitan untuk bisa catch up dengan sistemnya yang cepat, pada akhirnya saya bisa menikmatinya juga. Sistem, dosen dan semuanya serba profesional. Semakin hari, saya semakin jatuh cinta dengan ilmu yang saya pelajari di sini. Mungkin karena memang ini yang saya harapkan, atau juga karena semua orang di sini yang begitu passionate dengan bidang yang mereka dalami. Jadi, saya pun ikut menyerap energi positif mereka. Apapun itu, saya berharap ilmu dan semangat untuk terus mengembangkannya yang sedang saya gali di sini bisa bermanfaat kelak di masa depan, baik untuk diri saya sendiri, orang lain dan bumi Tuhan.

Bicara lagi soal rindu, satu hal yang saya pelajari sejauh ini adalah, jarak dan kesendirian yang menjadikan kita semakin mengerti what and who really matters in life. Bagi saya, yang pertama sekali adalah Tuhan, kebergantungan dan ketenangan hati karena-Nya. Lalu keluarga, orang-orang terbaik lainnya dalam hidup saya dan tentunya, diri saya sendiri. Dan yang terpenting dari semua itu adalah hubungan, bukan hanya keberadaan. Jarak mengajarkan saya arti mereka yang sebenarnya dalam hidup saya. Memberikan bayangan kepada saya tentang bagaimana jadinya saya tanpa mereka. Tentang betapa saya akan menyesal jika tidak menjalin hubungan yang baik dengan mereka. Saya bersyukur, karena sudah tidak menyia-nyiakan waktu saat saya masih di dekat mereka. Saya bersyukur karena sudah sering mengekspresikan kasih sayang saya kepada mereka selama saya dekat. Meskipun rasanya tidak akan pernah cukup, tapi saya juga sangat bersyukur sudah selalu mencoba memberikan yang terbaik semampu saya. Alhamdulillah, karena itu semua, tidak ada penyelasan ketika saya harus berada jauh dari mereka. Yang ada hanya harapan dan keinginan untuk menjadi lebih baik ketika saatnya bertemu lagi kelak. Dan malam ini, walaupun dengan perasaan yang begitu berat, saya sedang merayakan rindu yang indah.


Sunday, 11 September 2016

Mereka yang Selalu Ada



"Dur, di sana maghrib masih lama nggak? kalo sanggup, hari ini dan besok (10&11) puasa ya".

Saya menerima pesan ini di tengah-tengah kesibukan saya mengerjakan tugas di hari 9 Zulhijjah. Pesan ini datang dari salah seorang sahabat saya, Zara. Zara beserta tiga sahabat saya lainnya, Mulya, Vona dan Melvi adalah mereka yang sejak SMA masih tahan membersamai saya. Syukur tak terkira mempunyai mereka. Yang sudah melihat semua ke-alay-an, kecerobohan, kealpaan saya tetapi selalu memilih untuk tetap memberikan ruang di salah satu sudut hati mereka untuk saya. 

Kembali ke delapan tahun yang lalu, saat kami masih hanya sekumpulan siswi SMA dengan kualitas rata-rata yang suka ngecengin kakak kelas untuk sekedar punya bahan tertawaan dan nggak peduli dengan eksistensi. Kami unik dengan cara sendiri. Ulang tahun yang dirayakan terlambat sebulan, debat-debat panjang yang muncul hanya karena salah memesankan makanan dan curhat-curhat yang berujung kesimpulan aneh. Sampai kegilaan seperti menghadiri konser (nyaris) tengah malam dengan busana yang nggak lazim dipakai untuk menghadiri konser. Ah, terlalu kekanak-kanakan ya? tapi dengan siapa kita bisa nyaman menjadi diri sendiri kalau bukan dengan mereka yang kita anggap bagian diri kita?

"Good friends are like stars, you don't always see them, but you know they are always there"

Kamu mungkin pernah membaca quotes mainstream ini di suatu tempat. Sayang sekali, ada orang lain yang sudah lebih dulu mengemukakannya. Kalau nggak, seperti itulah saya akan menggambarkan mereka. Well, selama perjalanan, saya sudah berkenalan dengan banyak orang, beberapa juga menjadi teman dekat. But to be honest, there's no one compare to them. (meskipun tentu saja, saya juga mempunyai tempat khusus untuk teman-teman dekat saya yang lainnya). Apapun yang terjadi, hal apapun yang saya lalui, saya selalu bisa 'pulang' ke mereka. Begitupun mereka yang selalu ada untuk saya. Lebih tepatnya, untuk satu sama lain. Kami yang berkuliah di tempat yang berbeda, kadang tidak bertemu atau berkomunikasi sampai berbulan-bulan lamanya. Tetapi tetap tidak mengurangi sedikit pun kadar kedekatan yang ada. Mungkin karena kami tumbuh dewasa bersama-sama, mengumpulkan pemahaman bersama-sama, membagi kadar kedewasaan kami seiring waktu agar sama rata. Atau karena selalu dengan ikhlas mendukung, mendoakan dan membantu satu sama lain. Mungkin juga karena kami sama-sama mempercayai bahwa sumber kebahagiaan berasal dari hal-hal sederhana. Seperti ngerujak mangga muda di teras rumah, atau nongkrong di MT, warung mie kecil pinggir jalan yang dari dulu sampai sekarang nggak pernah tergantikan oleh fancy coffee shops yang banyak bertumbuhan di luar sana. Yang paling saya pahami adalah kenyataan bahwa saya selalu nyaman menjadi diri sendiri bersama mereka. Saya merasa dipahami dan diterima. Mereka lebih dari sekedar teman. 

Ngomong-ngomong, pesan yang saya terima dari Zara mengingatkan saya akan satu hal. Suatu hari di beberapa tahun yang lalu, gadis yang mengirimkan pesan itu sedang mengenakan sneakers yang talinya tidak diikat dan jeans belel yang sobek di bagian lutut dan paha. Hari ini dia seorang gadis muslimah manis yang rapi.

Ah, jareng, kamu dan kita ternyata sudah dewasa. Waktu berlari terlalu cepat, ya?



Friday, 2 September 2016

Wageningen: Pada Kesan Pertama



Setelah kurang lebih sebulan tinggal di Wageningen, barulah saya merasa bisa menuliskannya dari sudut pandang seorang pendatang baru. Saya sebut 'sudut pandang pendatang baru', karena mungkin saja pandangan saya, yang sebagai pendatang baru ini terhadap beberapa hal, nggak sama dengan kota ini pada kenyataannya. Nanti kalau sudah setahun, mari kita buktikan kebenarannya :D

Kota Wageningen

Dalam 3 minggu ini, bagi saya Wageningen adalah sebuah kota kecil yang nyaman. Saya nggak peduli kalau banyak teman-teman mahasiswa dari kota lain yang bilang (dalam guyonan mereka) kalau wageningen itu bukan kota, tapi kampung, atau disebut juga kampung wageningen. haha. Yang penting saya merasa cocok dengan kota ini. Kota besar nggak match aja dengan seorang introvert seperti saya. Mungkin benar, soalnya memang kotanya kecil sih. Tapi kalau kata teman dutch saya, di Belanda memang kotanya nggak terlalu besar-besar. Yang dibilang kota kecil itu seperti kota tempat tinggal dia dimana cuma ada dua supermarket. So, Wageningen is considered as a medium city. Oh, well. Dan lagi, sistem yang sustainable, suasana yang tenang, banyak ruang hijau, kebun, peternakan dan bahkan hutan menjadi ciri khas kota Wageningen yang menyebut dirinya sebagai "city of life sciences".

Karena suasananya yang nggak terlalu ramai, Wageningen menjadi tempat yang nyaman untuk belajar dengan fokus. Nggak banyak pusat keramaian di sini sehingga nggak banyak distraksi. Meskipun pusat perbelanjaan untuk keperluan-keperluan dasarnya lengkap dan nggak kalah canggih dan banyak pilihan dibandingkan dengan di kota-kota besar. Wageningen nggak punya chain store seperti ikea, H&M, ZARA, primark (apalagi branded store!) dan sebagainya sehingga nafsu shopping seorang pelajar yang kadang stress-nya dilampiaskan ke belanja bisa dikendalikan dengan baik. Di sisi lain bisa tetap tenang, karena saat ingin belanja, cuma tinggal naik kereta 20 menit menuju Arnhem.



Sepeda oh Sepeda

Dulu saya suka kesal sendiri waktu melihat film animasi indonesia, dimana salah satu anak kecil suka membawa adiknya yang masih kecil sekali bersepada di boncengan depan. Bagi saya itu nggak wajar. Anak kecil kok ditaruh di depan, naik sepeda pula. Bahaya sekali! Nah, di Wageningen dan Belanda pada umumnya, pemandangan seperti ini sangat sangat wajar. Mengayuh sepeda sambil membalas pesan di smartphone dengan kedua tangan? wajar! sampai bawa kulkas atau kasur yang diikat di boncengan belakang juga masih wajar, meskipun saya kurang yakin cara bersepada seperti ini dianggap legal. :))



Santai

Orang di Wageningen, dan Belanda pada umumnya sangat santai dengan hidup. Mereka nggak suka bekerja terlalu lama. Bagi mereka, lebih baik bekerja sebentar tetapi efektif. Alhasil, hampir semua fasilitas layanan, mulai dari kantor hingga supermarket mulai buka dari jam 9 pagi. Kantor tutup jam 5 sedangkan pusat perbelanjaan tutup di jam 6 sore, kecuali beberapa supermarket saja yang buka sampai jam 8 malam. Ada juga sebagian yang punya jadwal buka sendiri seperti dari jam 10 pagi sampai jam 2 siang saja, dan sebagainya. Mereka juga nggak suka diganggu kalau weekend. Itu mutlak waktu pribadi yang akan dihabiskan untuk keluarga atau teman-teman. Jadi, jika mengerjakan group assignment di hari sabtu atau minggu, jangan harap akan ada dutch yang datang.

Tentu saja kata santai nggak berlaku untuk sistem kuliahnya. Kuliah nggak santai sama sekali di sini.

Pelajar Indonesia

Entah tersebab apa pelajar Indonesia di Wageningen ini ramai sekali. Sampai bulan September 2016, pelajar Indonesia di Wageningen mencapai 200-an orang. Angka ini mencakup mahasiswa bachelor, master dan PhD. Mungkin karena kotanya nggak terlalu besar, jadi ramainya makin terasa. Setiap sudut, saya bisa bertemu orang Indonesia. Meskipun nggak saling kenal, biasanya kami saling sapa atau dadah-dadah dari jauh. Orang-orang Indonesia di sini bisa langsung di kenali dari wajah dan penampilan. Jadi bisa dipastikan kemungkinan salah sapa itu cuma 5%. Saya bahkan pernah salah ngomong waktu mau naik lift di apartemen tempat tinggal saya yang 20 lantai tingginya. Karena tidak suka berlama-lama di dalam lift, dan sign tanda panahnya ada di dalam, sebelum naik saya suka bertanya dulu. Hari itu, alih-alih bertanya "is it going down" saya malah bilang "ini turun ya". Dan mas-nya yang chinese spontan menjawab "iya mbak". Oh, syukurlah. haha. Pernah juga, karena sudah yakin sekali itu orang Indonesia, saya mencoba menyapa dalam bahasa indonesia. Dan yang di sapa bengong saja. Setelah saya konfirmasi, ternyata dia orang filipina :')

Tapi, meskipun banyak sekali orang indonesia di sini. Jangan disangka akan terus-terusan bersama orang indonesia. Karena kalau sudah musim kuliah, kesempatan untuk ngobrol banyak itu cuma di lift atau kebetulan ketemu di centrum saat beli ice cream (pegalaman pribadi), selebihnya, semua sibuk dengan urusan masing-masing dan cuma bisa say hi dari jauh jika berpapasan. Tapi setidaknya kalau homesick, bisa bikin potluck, kalau stress atau bosan sendirian, mereka bersedia dikunjungi. Kalau butuh bantuan, dengan senang hati membantu. Bahkan saat nggak diminta sekalipun. Contohnya saya yang dikasih kulkas, sama tetangga sebelah yang kebetulan orang indonesia, dan kebetulan punya kulkas dua.

Sepertinya...



Kalau dipikir-pikir, walaupun luar biasa rindu rumah, sepertinya dua tahun lagi, reverse culture shock akan menjadi berat bagi saya. Kalau dirasa-rasa, meskipun sistem kuliahnya berat, saya akan merindukan tempat ini saat kembali nanti. Sepertinya, Wageningen memang tipe tempat tinggal yang ngangenin.

Wednesday, 24 August 2016

Sunset Rasa Wageningen


Salah satu hal yang sangat saya sukai dari tinggal di Banda Aceh adalah pantainya yang hanya berjarak tempuh sekitar 20 menit dari rumah saya. Sewaktu kuliah, jarak antara kampus dan pantai bahkan hanya kurang dari 1 kilometer. Saya dan teman-teman sering mengunjungi pantai ini di sore hari seusai kuliah. Kadang-kadang kami ditemani gorengan, air mineral, pernah juga nasi padang. Kalau cuaca sedang cerah, saya suka merengek kepada mereka untuk tinggal sebentar sampai matahari terbenam, barulah mencari mesjid untuk shalat maghrib.

Kalau ditanya kenapa saya suka sekali dengan sunset, saya cuma bisa menjawab, siapa sih yang nggak suka sunset? Ada aura menenangkan saat diliputi suasana pergantian warna langit. Sewaktu melihat matahari terbenam, saya merasa lebih mudah memahami bahwa hidup ini sesederhana melakukan aktivitas di siang hari lalu menutupnya di akhir hari. Lalu akan berulang lagi keesokan harinya. Semua hal menyenangkan, menyedihkan, perasaan bahagia maupun sedih di setiap harinya hanyalah bentuk-bentuk terpisah yang akan berganti seiring pergantian matahari. Saya bisa lebih menyadari bahwa semua hal akan terus datang dan pergi. That everything is temporary.



Saya tidak pernah menyangka akan bisa menikmati sunset selama tinggal di Wageningen. Makanya sebelum berangkat ke sini, saya menyempatkan diri untuk pergi ke pantai pada saat matahari terbenam. Rupanya dugaan saya salah karena semua orang juga tahu kalau sunset akan ada dimana-mana selama bumi masih berputar pada porosnya :)

Sunset di Wageningen mempunyai rasa yang berbeda. Di sini tentu saja tidak ada pantai. Landscape kota wageningen hanyalah tanah datar yang di isi oleh pemukiman, hutan, dan tanah-tanah peternakan. Tapi justru kondisi seperti ini yang juga membuat matahari di Wageningen terbenam dengan indahnya, tidak kalah indah dengan sunset di pantai Lampuuk atau Lhoknga di kampung halaman sana.


A Notebook and A Pen



Kebiasaan saya menulis jurnal pribadi di sebuah buku membuat saya hobi mengoleksi buku-buku catatan yang lucu-lucu. Kalau bukan karena niat untuk belajar mengatur keuangan dengan baik, mungkin semua notebook cantik yang saya temui sudah tertimbun di rumah. Tapi walaupun saya sudah berusaha menahan diri, hasrat untuk membeli buku catatan ini terkadang nggak bisa ditahan. Alhasil ada saja yang saya bawa pulang meskipun saya tahu buku itu belum akan dipakai karena buku-buku yang lama pun belum habis saya tulisi. Nggak jarang juga beberapa buku berakhir sebagai wadah untuk catatan atau coret-coretan iseng saja.

By the way, tahun 2014 yang lalu saya naksir berat sama sebuah notebook milik seorang teman di kelas les bahasa Inggris. Karena si teman nggak mau memberitahu tempat di mana dia membeli buku itu, saya akhirnya mutar-mutar keliling Banda Aceh dan akhirnya ketemu di sebuah toko buku. Yay, saya berusaha menahan diri untuk nggak loncat-loncat gembira sewaktu melihat buku itu terpampang di salah satu rak. Sedikit mengecewakan karena bukunya tinggal satu dan gambar cover depannya tidak sesuai dengan harapan saya. Tapiii, karena sudah perjuangan sekali untuk mendapatkannya, akhirnya tetap saya beli juga.

Ada sesuatu yang spesial tentang buku ini. Saya membuat janji dan memasang tekad bahwa buku itu akan menjadi tempat saya menuliskan jurnal saya selama menjalani kuliah master di salah satu negara di Eropa suatu hari nanti. Saya akan menulisi buku ini dengan sebuah pulpen hadiah pemberian dekan fakultas saya di hari yudisium kelulusan dulu. Pulpen itu juga sengaja saya simpan untuk cita-cita yang sama. Kalau dipikir-pikir, alangkah naifnya karena saat itu jalannya saja saya nggak tahu. But there is no wish left to a waste, as long as we believe. Here’s my first content :)




Sunday, 21 August 2016

Tiba-Tiba ke Belgia


This is my very first trip in Europe!

Ah, Belgia. Sebenarnya udah pernah nyangka sih kalau trip pertama di eropa kemungkinan besar adalah negara Belgia atau Perancis atau Jerman karena paling dekat dengan Belanda. Tapi saya nggak pernah nyangka akan mulai ngetrip di hari keempat saya baru menjejakkan kaki di Eropa. Kok bisa? ah sudahlah. Alasannya banyak dan complicated. hehe. Yang jelas, sebagai calon mahasiswa (yang seharusnya belajar dulu baru jalan-jalan) saya merasa ini agak keterlaluan sih.

Well, saya akui itinerary yang disusun tiba-tiba sekali menjadikan perjalanan ini a bit touristy. Kami nggak sempat mencari tahu banyak tentang tempat tujuan wisata di Belgia. Jadinya hanya mengunjungi tempat-tempat wisata terkenal aja. Ditambah lagi waktu summer seperti ini, lokasi-lokasi wisata jadi padat sekali. Untungnya saya dan Rahma memutuskan menginap di AirBnB, lagi-lagi karena alasan biaya, yang membawa kami ke beberapa country side di Belgia.

Brussels

Kesan pertama sesampai di Brussels adalah: bau pesing. haha! kami turun bus di Brussels North Central Station. Nah, untuk mencapai tempat penginapan kami harus naik bus dalam kota, halte busnya terletak agak di belakang stasiun. Dari sinilah bau pesing itu berasal, mungkin kalau malam banyak orang mabuk yang pipis sembarangan?

Tujuan utama di Brussels apalagi kalau bukan Grand Place alias La Grand-Place alias Grote Markt. Saya dan Rahma memang udah niat sekali untuk bisa melihat flower carpet festival. Tapi, baik saya maupun Rahma sebelumnya nggak mengantisipasi sama sekali kalau festival itu ada jadwalnya dan ternyata diadakan setiap dua tahun sekali. Luckily, sewaktu di bus menuju penginapan, kami melihat baliho yang bilang kalau flower festival ini sedang berlangsung. Yay!





Grand Place merupakan central square-nya Brussels. Di sinilah tempat berkumpulnya para turis di Brussels. Yang paling saya sukai adalah beberapa bangunannya yang memiliki arsitektur kerajaan yang megah dengan detail yang mengesankan. Di sisi lain, saya sendiri punya misi yang udah disimpan sejak lama kalau berkunjung ke Belgia. To try belgian chocolate, waffle and fries. Ternyata ketiga item ini dengan mudah ditemukan di sekitaran Grand Place. Rasanya? ya rasa coklat, waffle dan kentang goreng. Yang membedakan, di sini semuanya lebih enak. Bahkan seorang teman saya mengaku kalau dia yang sebelumnya nggak suka waffle, jadi suka makan waffle sejak mencoba waffle Belgia. Saya sendiri membeli seporsi fries lagi ketika di Ghent dan seporsi waffle saat di Bruges.






Ghent

Dari Brussels kami melanjutkan perjalanan ke Ghent, dimana lagi-lagi saya merasakan mimpi saya terwujud dengan cara yang nggak diduga-duga. Ceritanya, sejak dulu saya ingin sekali merasakan tidur di dalam mini cabin yang biasanya dipakai road trip itu lho. Ternyata kamar AirBnB yang kami tempati adalah sebuah kabin yang terletak di halaman belakang rumah si pemilik penginapan. Yaahh.. meskipun nggak di pinggir pantai seperti yang sering saya bayangkan dulu, tapi saya sangat bersyukur ternyata Tuhan telah menyimpan rencana dan mewujudkan keinginan saya ini bahkan ketika saya sudah melupakan dan tidak terlalu mengharapkannya lagi.





Bruges

Kalau Giethorn merupakan venice-nya Belanda, maka Bruges adalah Venice of Belgium. Bruges diisi oleh bangunan-bangunan tua dengan arsitektur yang khas. Dipercantik oleh kanal-kanalnya yang panjang dan terkoneksi satu sama lain. Di antara ketiga kota di Belgia yang kami kunjungi ini, menurut saya Bruges adalah yang terindah. Sayang sekali, saya dan Rahma cuma melakukan perjalanan one day trip dari tempat penginapan kami di Ghent sehingga harus melewatkan pemandangan malam hari di sana yang katanya sangat romantis. Setelah melihat sendiri kotanya, dan mencoba membayangkan kota ini di malam hari, saya percaya aja sih sama yang katanya tadi. Semoga suatu hari nanti bisa melihat pemandangan Bruges ini di malam hari bersama orang terkasih :)








Monday, 8 August 2016

Europe, Here I Come!


Jangan sepelekan impian. Jangan remehkan doa. Jangan kendurkan usaha. Jangan berhenti percaya. Just don't stop!

Kalimat-kalimat ini yang selalu saya ucapkan dalam hati ketika seringkali saya merasa putus asa akan usaha yang saya lakukan. Saya hanyalah seorang yang biasa saja. Saya tidak pintar. Yang menjadi andalan saya adalah kemauan kuat untuk menjadi lebih baik di segi apapun. Baik pendidikan, kepribadian, sikap, pengetahuan, pandangan hidup dan lain-lain. 

Beberapa tahun yang lalu saat masih duduk di bangku kuliah sarjana, saya punya tekad yang gila untuk ukuran kemampuan saya. Salah satunya adalah kuliah ke luar negeri. Saya pun memasang target eropa sebagai tujuan saya. Sejak saat itu saya jadi sering menyebut-nyebut eropa, membaca segala hal tentang eropa. Tidak jarang dengan pede-nya saya mengucapkan kepada teman-teman seperjuangan, see you in Europe! Saat mengucapkan hal itu, sebagian dari diri saya merasa malu. Bagaimana tidak, bahasa inggris saja saya belum bisa. Score TOEFL prediksi saja masih 400-an. Jauuuh sekali dari score minimal yang dibutuhkan untuk melamar beasiswa. Baru-baru inilah saya menyadari keajaiban kata-kata yang dihitung sebagai doa. Percayalah, Tuhan mendengar dan memeluk setiap impian sejauh impian itu disertai dengan niat yang baik.

Di perjalanannya, perjuangan menawarkan segala hal-hal mentah. Jangan harapkan hal itu bisa matang dengan sendirinya. Kita lah yang harus membentuknya. Prosesnya mungkin akan melelahkan. Namun kelak, setelah melaluinya, barulah kita merasakan manfaatnya. Apapun itu nantinya. Jika niat sejak awal sudah kuat, tidak ada excuse untuk berhenti dan menyerah. Kalau menyerah, artinya memang tidak benar-benar berniat. Coba dan coba terus sampai kita tidak menemukan apapun lagi untuk dicoba (dan harusnya selalu ada jalan untuk dicoba, Tuhan maha kaya kan?).

berbagai bentuk kegagalan, keputusasaan, kemunduran sudah saya hadapi. Mengeluh, meringis? tentu saja pernah. Tapi sebisa mungkin saya tepis. Saya berusaha tidak mempedulikan pikiran-pikiran yang melemahkan dan mengajak untuk menyerah. Setelah sampai di titik ini, barulah saya menyadari, tantangan yang saya lalui itu telah mengubah diri saya menjadi seorang yang lebih kuat dibanding saya di beberapa tahun yang lalu. Maka, saya pun berusaha menanamkan pada diri saya, bahwa saat memutuskan untuk berjuang mencapai suatu hal, antisipasi konsekuensinya. Tidak ada perjuangan yang mudah. Tidak ada nasi dan lauk-pauk yang tersaji begitu saja di atas meja sebelum seseorang mengolah bahannya, memasak, menggoreng, merebus, mengaduk-aduk, meng-garnish sehingga menjadi indah dan enak dikonsumsi.

Anyway, sekarang sudah saatnya saya memulai perjuangan baru. Saya tahu di depan akan ada banyak tantangan lainnya. Tapi satu hal yang indah dari semua itu adalah kesadaran bahwa saya di hari depan bukan lagi orang yang sama, yang (semoga saja) jauh lebih baik dari saya yang sekarang ini. Bismillah. 

Europe, Here I come!

*ditulis di bandara Soekarno Hatta, dalam transit 4 jam dengan perasaan campur aduk. Pray for me, pray for me.



Friday, 29 July 2016

Membuka Mata


Tanpa saya sadari, pada saat saya terlalu sibuk memikirkan masalah saya sendiri, murung berlarut-larut dalam kesedihan saya, ada banyak orang lain di luar sana yang mengalami kejadian yang jauh lebih buruk. Memang, ukuran buruk atau tidaknya suatu masalah hanya Tuhan dan orang yang mengalaminya yang tahu. Namun ketika saya mencoba memposisikan diri seperti mereka, saya merasa masalah yang sedang saya hadapi jauh teramat sepele dibanding yang sedang menimpa mereka. Bukan, bukannya saya menginginkan masalah. Tapi beberapa waktu yang lalu, saya mengalami persisnya hal ini. Ketika sebuah ujian (yang saya kira berat) menimpa saya, Tuhan malah membuka mata saya untuk melihat melampaui itu semua. Dengan kuasa-Nya saya dipertemukan dengan orang-orang yang kurang beruntung hidupnya secara beruntun. Seolah-olah Tuhan ingin melapangkan hati saya dengan menunjukkan bahwa semua orang mempunyai masalahnya masing-masing. Everybody is fighting their own battle.

Hanya beberapa hari setelah mendapatkan ujian itu, saya menemani ayah saya untuk terapi ditempat baru yang katanya bagus. Di sana, saya bertemu orang-orang dengan berbagai macam penyakit. Ada yang menderita kanker, ada yang lumpuh, ada yang sesak napas, dan lain sebagainya. Saya langsung merasa kecil. Baru lah saya sadar, selama beberapa hari ini saya terlalu mengeluhkan masalah saya, padahal saya diberi kesehatan yang memudahkan saya beraktifitas dan beribadah. Istighfar.

Selang 2 minggu, saya mendengar kabar ibu dari teman saya meninggal dunia. Tidak lama setelah itu ada juga seorang teman yang ayahnya dipanggil Tuhan. Sedangkan teman sekampus saya kehilangan adiknya karena penyakit paru-paru yang sudah lama diderita. Berita-berita ini menampar saya. Disamping kehilangan yang saya alami, ternyata Tuhan masih mengizinkan saya merasakan nikmatnya memiliki keluarga yang lengkap, orang tua yang perhatian, adik-adik yang lucu, yang selama ini lupa saya syukuri. Tiba-tiba saja saya merasa kehilangan saya tidak ada apa-apanya.

Sebulan berselang, saya sekeluarga mengunjungi seorang kerabat yang sedang sakit keras. Beliau masih sangat muda, anaknya baru satu dan masih kecil. Sekarang beliau dipaksa terbaring oleh penyakit leukimia yang di deritanya. Sudah tidak terhitung biaya yang dikeluarkan untuk proses pengobatan. Semoga Allah memberikan kesehatan kepadanya.

"Sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan" (QS: Ash-Shrah: 6)

Benar, Tuhan menolong saya. Dibalik kesulitan yang saya rasakan, Tuhan menunjukkan kemudahan kepada saya. Kemudahan yang mungkin tanpa kejadian tersebut sangat sulit saya dapatkan begitu saja. Yaitu kemudahan untuk mengucap syukur atau istighfar untuk hal-hal yang tidak saya syukuri. Kemudahan untuk tidak hanya berdoa demi kepentingan diri sendiri, tetapi juga mendoakan orang lain terutama orang-orang yang saya sayangi. Kegiatan yang terkadang sering saya lupakan karena sibuk memikirkan diri sendiri. Tidak terbayang sebelumnya, bahwa kemudahan yang diberikan dalam bentuk seperti ini. Saya hanya perlu membuka mata :')

Saya pun hanya mampu mengirimkan doa. Semoga, sebagaimana Tuhan memberikan kemudahan-Nya untuk saya. Dia juga memberikan kemudahan dan kekuatan untuk orang-orang yang sedang tertimpa masalah. Semoga doa-doa yang mereka langitkan dipeluk Tuhan. Semoga ada hari-hari baik menunggu mereka setelah semuanya.

Wednesday, 20 July 2016

Online Course, A New Thing (For Me)

Saya sering heran kenapa kadang-kadang saya bisa sangat malas, tapi di lain waktu, saya bisa begitu rajin untuk belajar. Waktu datang malasnya, saya sampai membutuhkan waktu berhari-hari untuk mengembalikan mood belajar. Setelah dipikir-pikir, ternyata saya mengalami hal demikian setiap suatu kegiatan sudah terlalu rutin. Yep, saya nggak tahan sama rutinitas. Kalau pun harus melakukan hal tertentu secara rutin, saya selalu berusaha menghadirkan hal-hal baru di kegiatan itu. Contohnya aja, kalau mau belajar terus selama seminggu di rumah, jadinya saya belajar di sudut yang berbeda setiap harinya. Hari ini di kamar, besoknya di ruang tamu, dan besoknya lagi bisa aja di ruang makan. Mungkin karena ini juga saya jadi sangat bersemangat waktu sedang mencoba suatu hal baru.
Nah ceritanya, baru-baru ini saya sedang senang-senangnya ikut online course. Awalnya saya hanya ingin coba-coba, hitung-hitung untuk killing time sambil menunggu jadwal keberangkatan, juga nambah wawasan dan pengalaman ikutan online course. Saya menggunakan dua situs kursus online gratis yaitu futurelearn.com dan coursera.org. Di coursera, saya hanya mendaftar satu course aja, berhubung baru satu yang membuat saya tertarik. Sebaliknya, saya bergabung dengan banyak kursus di futurelearn. Selain karena tampilan dan sistemnya yang (menurut saya) lebih bagus, pilihan-pilihan kelasnya juga sangat menarik hati, bahkan beberapa kelas memang benar-benar sedang saya butuhkan :’)
Kelewat semangat di awal ternyata nggak baik juga. Saya sampai kewalahan mengikuti kursus-kursus yang sudah saya ‘borong’ itu. Untuk mengikuti satu kelas, saya harus menyediakan waktu sekitar 3 jam perminggunya. Di minggu pertama, karena ada 3 kelas berlangsung dengan jadwal bersamaan, jadi saya membutuhkan 9 jam untuk online course. Tadinya saya pikir saya akan bisa-bisa aja mengejar semua materinya karena saya memang sudah punya banyak waktu luang sejak nggak aktif bekerja. Salah besar. Rupanya waktu senggang saya nggak sebanyak yang saya kira. Saya lumayan sibuk juga ternyata :)
Akhirnya, setelah jalan 4 minggu dan jadwal beberapa course lainnya juga mulai berdatangan, saya berhenti mengejar 3 course, dan memilih lanjut di 2 courselainnya yang saya rasa penting. Sedikit kecewa meninggalkan 3 kelas tersebut, tapi beruntungnya, di futurelearn saya tetap bisa kembali mengikuti materi di kelas-kelas yang nggak terkejar tadi meskipun jadwal course-nya sudah berakhir.
Buat kamu yang penasaran seberapa menarik kursus-kursus yang saya ambil (yang membuat saya sampai kalap mau ikutan semuanya), ini saya sebutin satu-satu: Students Taking Charge of Higher Education, Food as Medicine, Introduction to Italian, dan 2 course yang sedang saya jalani sekarang adalahIntroduction to dutch dan A Guide to Writing in English for University Study. Kelas-kelas ini di diselenggarakan oleh universitas-universitas ternama seperti University of Groningen, Monash University, UCL dan University of Reading. Selain itu masih ada beberapa course yang masih upcoming (tapi saya sudah daftar, dong) seperti How Do we age? The Molecular Mechanism of Ageing,Introduction to Ecosystem dan (yang saya sendiri masih bertanya-tanya kenapa saya langsung join padahal belum membaca course review-nya) Making Babies in the 21st century :))


On Instagram

© durrahhs. Made with love by The Dutch Lady Designs.