Saya nggak pernah membayangkan sebelumnya bahwa seumur hidup, saya akan menginjakkan kaki di tanah Afrika, terutama bagian barat, timur, atau selatan. A-fri-ka. Setiap kali mendengar kata itu, yang mendominasi pikiran saya adalah sebuah tempat yang jauuh sekali dan rasanya nggak mungkin saya bisa sampai kesana. Mungkin juga karena saya nggak punya kepentingan yang besar untuk pergi ke Afrika. Hal ini yang membuat saya nggak pernah berharap dan berencana berkunjung ke Afrika meskipun rasa penasaran saya cukup besar dengan kehidupan hewan liar di sana.
 |
| Puncak Kilimanjaro terlihat dari penginapan |
Saya beruntung bisa bergabung dengan sebuah proyek mahasiswa yang berbasis di Arusha, Tanzania. Arusha merupakan sebuah kota turis. Letaknya sangat strategis karena merupakan
starting point ke beberapa
national park terkenal seperti Serengiti, Ngoro-Ngoro, dan Lake Manyara. Kota ini juga merupakan salah satu kota persinggahan bagi para pendaki puncak tertinggi kedua di dunia, Kilimanjaro. Di sebelah barat Kilimanjaro, ada juga Mount Meru yang nggak kalah terkenalnya. Pengunjung kota ini, seperti juga di kebanyakan negara Afrika lainnya, mayoritas dari benua Amerika, Australia, dan Eropa. Kemana saja saya pergi, saya selalu ketemu
mereka. Bahkan saya pernah nongkrong di kafe yang isinya 80% expat yang beberapa di antara mereka memperkenalkan diri sebagai volunteer atau pekerja sosial. Interaksi saya dengan penduduk lokal mostly dengan guide, narasumber, dan beberapa pekerja di tempat saya tinggal, seperti tukang kebun, chef dan pelayannya.
Tanzania merupakan negara republik yang agak mirip Indonesia. Mereka punya puluhan etnis yang berbeda, dan setiap etnis punya bahasanya masing-masing. Tapi, saat berbicara dengan sesama orang Tanzania dari etnis yang berbeda, mereka pakai Swahili. Kata favorit saya dalam Swahili adalah:
asante ("
te" dibaca seperti di "
pete"), yang artinya terimakasih. Bagi saya terdengar unik dan elegan aja (haha). Mata uang Shilling mereka juga angkanya sampai ribuan alias ada 3 nol dibelakangnya. Saya sedikit sedih waktu mencoba mengkonversi Shilling ke Rupiah. Nilai tukar Shilling lebih besar. Tapi saat saya membandingkan harga perporsi makanan di restoran, ongkos taksi, dan printilan-printilan lainnya,
value for money-nya ternyata sama saja saudara-saudara! jadi, minus tiket pesawat, Tanzania sangat terjangkau bagi orang Indonesia. Butuh sedikit nabung jika ingin safari yang bisa menghabiskan sampai tiga jutaan rupiah perharinya. hahaha. Yah, ujung-ujungnya mahal juga ya! soalnya ngapain ke sana kalau nggak safarian :D
 |
| Daerah pinggiran di Arusha |
Arusha mempunyai bandar udaranya sendiri. Tapi yang paling efektif kalau ingin ke Arusha adalah melalui Kilimanjaro International Airport yang hanya berjarak sekitar sejam perjalanan dengan mobil dari Arusha. Bandar udara ini melayani lebih banyak penerbangan internasional, jadi lebih banyak pilihan juga. Karena bandaranya kecil, untuk kesini harus transit dulu di bandara internasional lainnya seperti di pulau Zanzibar, Dar es salaam (ibukota Tanzania), atau Nairobi, Kenya. Sekilas, Arusha sangat mirip dengan Indonesia. Jalur kendaraannya sama-sama di sebelah kiri, beberapa jenis tumbuhannya, desain bangunannya, dan pasar kagetnya terlihat seperti di Indonesia area pedalaman. Sedangkan pusat kotanya terlihat seperti versi kecil ibukota provinsi di Indonesia. Begitulah kira-kira. Saya dan salah satu teman se team saya yang berasal dari Filipina setuju kalau "
it feels like coming home" :D. Karena sama-sama daerah tropis, pemandangan alam di Arusha sebenarnya sama saja seperti di Indonesia. Banyak jenis tanaman yang tumbuh di sana juga ditemukan di Indonesia. Tempat ini mengingatkan saya akan Aceh Tengah, Berastagi dan Prapat, Sumatera utara karena Arusha merupakan daerah dataran tinggi dan banyak lahan pertanian yang ditanami jagung, sayuran, kopi, dan Alpukat. Cuma yang membedakan adalah beberapa jenis tumbuhan dan satwa uniknya seperti beberapa jenis akasia, burung endemis, dan
Colobus monkey (yang ini favorit saya).
 |
| Colobus monkeys! |
Kalau semua hampir sama seperti di Indonesia, lantas apa yang membuat Arusha sangat berkesan?
Jujur saja, nggak banyak yang bisa saya ceritakan tentang kota, kultur, makanan, dan segala macam hal lainnya tentang kota dan negara ini. Sebagian besar waktu yang saya habiskan di sana hanya berkisar di lokasi kerja yang merangkap tempat tinggal. Makanan yang saya makan sehari-hari juga hampir semuanya makanan internasional yang disediakan di penginapan. Hanya sesekali kami makan di luar yang membuat saya sedikit tau kalau makanan di sana agak dipengaruhi oleh budaya india. Dua kali dapur kami menyajikan
Chapati dan ada banyak menu makanan India di restoran yang kami kunjungi. Tapi dibalik itu semua, bagi saya, Arusha berkesan karena saya belajar satu hal penting (di antara banyak hal lainnya) selama di kota ini: ada banyak perjalanan yang menyenangkan, beberapa perjalanan berakhir biasa-biasa saja bahkan mengecewakan, dan ada perjalanan yang saking berkesannya sampai sulit dilupakan. Sering saya jalan, sendiri atau dengan teman-teman. Mengunjungi tempat yang belum pernah dikunjungi, melihat hal-hal baru, bangunan unik, mengunjungi kafe-kafe lucu, mencoba makanan baru sambil ngobrol-ngobrol, ketawa dan foto-foto. Ya, cukup menyenangkan. Beberapa kali perjalanannya mengecewakan. Kadang karena teman jalan yang kurang cocok, kadang karena cuaca yang kurang mendukung, kadang kondisi diri sendiri yang sedang tidak stabil, dan banyak hal lainnya. Jarang sekali saya mendapatkan perjalanan yang masuk kategori "sangat berkesan" atau tidak "terlupakan". Karena sepertinya perjalanan-perjalanan yang seperti ini adalah barang
limited edition. Dan Arusha adalah perjalanan
limited edition yang kebetulan saja beruntung saya dapatkan. Semakin kesini, bagi saya perjalanan bukan lagi soal kuantitas dan bahkan bukan sepenuhnya soal jarak dan tempat, tetapi lebih kepada kualitas yang ditentukan oleh kondisi saya sendiri, teman jalan, apa yang saya dapatkan dan apa yang saya bawa pulang selama dan dari perjalanan. Kalau singkatnya, saya menyebut ini dengan perjalanan "sepaket".
Sedikit deg-degan awalnya karena teman se-team kali ini belum pernah saya kenal sebelumnya karena kami semua berasal dari jurusan yang berbeda. Ada empat laki-laki dan dua perempuan, berasal dari lima negara yang berbeda. Nervous sekali waktu memasuki kantin kampus tempat kami janji ketemuan. Dari awal jabat tangan dan memperkenalkan diri masing-masing, saya langsung
had a good feeling bahwa mereka ini orang-orang yang asik. Topik yang pertama kali dibahas adalah '
everyone's favorite food' and '
we need to plan a dinner'. Dalam hati saya langsung '
what?', gawat! sepertinya ini orang-orang yang nggak terlalu serius sama kerjaan. Haha. Lagi-lagi saya judgemental, karena bahkan di hari pertama bekerja, mereka sudah bisa membuat saya megap-megap dengan keterampilan, kecerdasan, dan efisiensi kerja mereka yang membuat saya merasa berada di tempat yang salah. Ada dua orang Belanda di group kami yang dua-duanya sama sekali menurut pandangan saya nggak seperti tikipal orang Belanda lainnya yang sikapnya suka formal dan
jaim sama orang baru - nggak semuanya gitu ya, ini bukan mau stereotype. Dua orang ini agak cengengesan. Ada satu orang dari afrika yang lucu dan suka bercanda, ada seorang portugis yang sok cool karena waktu ngelawak cool-nya langsung hilang. Satu lagi cewek asal filipina yang akhirnya jadi teman curhat saya selama perjalanan. Dia ini yang beneran cool karena super berpengalaman dengan berbagai hal, kalem, tapi sedikit
agile saat berhadapan dengan outdoor activities. Kombinasi ini yang membangun dinamika yang unik di antara kami. Selama perjalanan, kami nggak pernah kehabisan topik obrolan karena semua orang punya latar belakang dan pengalaman yang berbeda, baik itu dari segi akademis dan non-akademis seperti budaya dan hobi. Dari segi obrolan akademik, kami disatukan dengan ketertarikan yang sama, yaitu environment dan sustainability, dan tentunya obsesi untuk menyelesaikan tugas dengan baik. Sedangkan saat ngobrol tentang tema non-akademis, rasa tertarik dan penasaran akan hal-hal asing lah yang menyambung pembicaraan kesana kemari sampai nggak kenal waktu. Topik yang kami bicarakan bisa se-random memulai dari kepercayaan supernatural di Filipina dan Indonesia kalau seseorang bermimpi soal ular, pengalaman seseorang diving ketemu ular laut, jenis burung yang baru saja lewat di sekitar kami, lalu tentang orang Afrika yang jogetnya paling asik di dunia, lalu ditutup dengan bagaimana kedudukan guru secara sosial di negara masing-masing. Well, kurang lebih seperti itulah. haha. Alhasil, saya belajar banyak hal, sangat sangat banyak untuk waktu sesingkat dua bulan bersama mereka.

Selain karena teman-teman, faktor yang mendukung 'kaya'-nya perjalanan kali ini adalah kegiatan yang kami lakukan. Proyek yang kami kerjakan memiliki beberapa topik yang terintegrasi satu sama lain, meskipun masih dalam tema yang sama. Singkatnya, kami semua harus membagi tugas dan harus mengadakan rapat sesering mungkin untuk meng-update progress dari bagian masing-masing. Ada yang bertanggung jawab tentang manajemen hutan, agrikultur, desain perkebunan dan real estate, sosial masyarakat, identifikasi spesies hewan dan tumbuhan, sistem hidrologi dan pemetaan, hingga akhirnya menjadi satu rencana bisnis. Pagi sampai sore hari, kami berpencar ke lapangan atau ke depan laptop, mengerjakan tugas masing-masing, lalu harinya ditutup dengan rapat dan perencanaan untuk hari selanjutnya. Kadang, kami mengadakan pertemuan dengan orang-orang lokal terkait, atau konsultasi dengan ahli yang ada disana. Beberapa kali kami harus mengunjungi lokasi lainnya yang bisa menambah inspirasi untuk rancangan yang sedang dikerjakan. Kadang kami harus mengadakan rapat dengan supervisor yang ada di kampus melalui telepon atau video call. Sesekali kami berjalan ke lapangan bersama-sama untuk memahami dan menyamakan pengetahuan dan progress dari topik yang dikerjakan masing-masing. Sepadat itu sehingga nggak ada waktu yang boleh terbuang sia-sia. Bahkan, pertama kalinya dalam hidup saya, saya nggak menghabiskan sedetik pun untuk memikirkan hal yang nggak bermanfaat, apalagi untuk buka sosial media. Bisa dibayangkan bagaimana lelahnya badan dan pikiran. Tapi semuanya terhapuskan dengan perhatian-perhatian kecil yang diberikan teman-teman, silly jokes, dan kegiatan-kegiatan di luar pekerjaan untuk menjaga kestabilan mental seperti night safari di sekitar lokasi kegiatan, movie night, berenang, games, dan masak-memasak. Meski energi terkuras habis-habisan oleh semua kegiatan fisik dan pikiran,
but I felt most alive than ever! Memang nggak semua kegiatan kami berjalan lancar, tapi sikap positif yang dijaga oleh semua orang sangat menginspirasi saya. Intinya, saya belajar banyak.
Jadi sebenarnya bukan cuma Afrika yang istimewa, tapi waktu, aktifitas, dan teman jalan yang tepat yang membuat perjalanan kali ini saya kategorikan sebagai perjalanan langka. Perjalanan ini bahkan membuat saya melihat lagi ke perjalanan-perjalanan saya yang sebelumnya ke beberapa tempat. Yang membuat saya sadar, bahwa sebelumnya saya lebih banyak main dan buang-buang uangnya dari pada manfaatnya. Tapi gimana pun juga, tanah Afrika ini, lebih tepatnya Tanzania, juga memainkan peran yang besar dalam dinamika perjalanan kali ini. Mungkin
fun-nya nggak akan lengkap kalau nggak didukung oleh cuaca Arusha yang cuma 20-25 derajat di siang hari, sehingga kami nggak kepanasan dan nggak kedinginan, dan hujan yang hampir setiap malam, sehingga istirahat kami benar-benar maksimal. Mungkin nggak akan lengkap kalo nggak ada hewan-hewan asing yang kami temui dimana-mana dan selalu membuat kami penasaran. Atau burung-burung cantik dan unik sehingga kami selalu menjaga teropong di jangkauan tangan. Dan nggak akan lengkap juga kalau nggak ada taman nasional sehingga kami bisa merasakan safari bersama-sama (dan untuk saya, itu pertama kalinya, hehe). Mungkin
strunggle-nya juga akan lebih besar kalau dengan
workload yang sebegitunya kami bekerja di kantor yang konvensional, bukannya
office with a view :)
Ada sesuatu tentang Arusha yang mengubah pandangan saya tentang perjalanan. Ada sesuatu tentang Arusha yang merubah pandangan saya terhadap Afrika. Ada sesuatu tentang Arusha yang membuat saya ingin menjelajahi tanah Afrika lainnya. Oh God, Saya serius, saya ingin sekali kembali mengunjungi negara Afrika lainnya dan kalau boleh, perjalanan "sepaket" juga.