Wednesday, 24 August 2016

Sunset Rasa Wageningen


Salah satu hal yang sangat saya sukai dari tinggal di Banda Aceh adalah pantainya yang hanya berjarak tempuh sekitar 20 menit dari rumah saya. Sewaktu kuliah, jarak antara kampus dan pantai bahkan hanya kurang dari 1 kilometer. Saya dan teman-teman sering mengunjungi pantai ini di sore hari seusai kuliah. Kadang-kadang kami ditemani gorengan, air mineral, pernah juga nasi padang. Kalau cuaca sedang cerah, saya suka merengek kepada mereka untuk tinggal sebentar sampai matahari terbenam, barulah mencari mesjid untuk shalat maghrib.

Kalau ditanya kenapa saya suka sekali dengan sunset, saya cuma bisa menjawab, siapa sih yang nggak suka sunset? Ada aura menenangkan saat diliputi suasana pergantian warna langit. Sewaktu melihat matahari terbenam, saya merasa lebih mudah memahami bahwa hidup ini sesederhana melakukan aktivitas di siang hari lalu menutupnya di akhir hari. Lalu akan berulang lagi keesokan harinya. Semua hal menyenangkan, menyedihkan, perasaan bahagia maupun sedih di setiap harinya hanyalah bentuk-bentuk terpisah yang akan berganti seiring pergantian matahari. Saya bisa lebih menyadari bahwa semua hal akan terus datang dan pergi. That everything is temporary.



Saya tidak pernah menyangka akan bisa menikmati sunset selama tinggal di Wageningen. Makanya sebelum berangkat ke sini, saya menyempatkan diri untuk pergi ke pantai pada saat matahari terbenam. Rupanya dugaan saya salah karena semua orang juga tahu kalau sunset akan ada dimana-mana selama bumi masih berputar pada porosnya :)

Sunset di Wageningen mempunyai rasa yang berbeda. Di sini tentu saja tidak ada pantai. Landscape kota wageningen hanyalah tanah datar yang di isi oleh pemukiman, hutan, dan tanah-tanah peternakan. Tapi justru kondisi seperti ini yang juga membuat matahari di Wageningen terbenam dengan indahnya, tidak kalah indah dengan sunset di pantai Lampuuk atau Lhoknga di kampung halaman sana.


A Notebook and A Pen



Kebiasaan saya menulis jurnal pribadi di sebuah buku membuat saya hobi mengoleksi buku-buku catatan yang lucu-lucu. Kalau bukan karena niat untuk belajar mengatur keuangan dengan baik, mungkin semua notebook cantik yang saya temui sudah tertimbun di rumah. Tapi walaupun saya sudah berusaha menahan diri, hasrat untuk membeli buku catatan ini terkadang nggak bisa ditahan. Alhasil ada saja yang saya bawa pulang meskipun saya tahu buku itu belum akan dipakai karena buku-buku yang lama pun belum habis saya tulisi. Nggak jarang juga beberapa buku berakhir sebagai wadah untuk catatan atau coret-coretan iseng saja.

By the way, tahun 2014 yang lalu saya naksir berat sama sebuah notebook milik seorang teman di kelas les bahasa Inggris. Karena si teman nggak mau memberitahu tempat di mana dia membeli buku itu, saya akhirnya mutar-mutar keliling Banda Aceh dan akhirnya ketemu di sebuah toko buku. Yay, saya berusaha menahan diri untuk nggak loncat-loncat gembira sewaktu melihat buku itu terpampang di salah satu rak. Sedikit mengecewakan karena bukunya tinggal satu dan gambar cover depannya tidak sesuai dengan harapan saya. Tapiii, karena sudah perjuangan sekali untuk mendapatkannya, akhirnya tetap saya beli juga.

Ada sesuatu yang spesial tentang buku ini. Saya membuat janji dan memasang tekad bahwa buku itu akan menjadi tempat saya menuliskan jurnal saya selama menjalani kuliah master di salah satu negara di Eropa suatu hari nanti. Saya akan menulisi buku ini dengan sebuah pulpen hadiah pemberian dekan fakultas saya di hari yudisium kelulusan dulu. Pulpen itu juga sengaja saya simpan untuk cita-cita yang sama. Kalau dipikir-pikir, alangkah naifnya karena saat itu jalannya saja saya nggak tahu. But there is no wish left to a waste, as long as we believe. Here’s my first content :)




Sunday, 21 August 2016

Tiba-Tiba ke Belgia


This is my very first trip in Europe!

Ah, Belgia. Sebenarnya udah pernah nyangka sih kalau trip pertama di eropa kemungkinan besar adalah negara Belgia atau Perancis atau Jerman karena paling dekat dengan Belanda. Tapi saya nggak pernah nyangka akan mulai ngetrip di hari keempat saya baru menjejakkan kaki di Eropa. Kok bisa? ah sudahlah. Alasannya banyak dan complicated. hehe. Yang jelas, sebagai calon mahasiswa (yang seharusnya belajar dulu baru jalan-jalan) saya merasa ini agak keterlaluan sih.

Well, saya akui itinerary yang disusun tiba-tiba sekali menjadikan perjalanan ini a bit touristy. Kami nggak sempat mencari tahu banyak tentang tempat tujuan wisata di Belgia. Jadinya hanya mengunjungi tempat-tempat wisata terkenal aja. Ditambah lagi waktu summer seperti ini, lokasi-lokasi wisata jadi padat sekali. Untungnya saya dan Rahma memutuskan menginap di AirBnB, lagi-lagi karena alasan biaya, yang membawa kami ke beberapa country side di Belgia.

Brussels

Kesan pertama sesampai di Brussels adalah: bau pesing. haha! kami turun bus di Brussels North Central Station. Nah, untuk mencapai tempat penginapan kami harus naik bus dalam kota, halte busnya terletak agak di belakang stasiun. Dari sinilah bau pesing itu berasal, mungkin kalau malam banyak orang mabuk yang pipis sembarangan?

Tujuan utama di Brussels apalagi kalau bukan Grand Place alias La Grand-Place alias Grote Markt. Saya dan Rahma memang udah niat sekali untuk bisa melihat flower carpet festival. Tapi, baik saya maupun Rahma sebelumnya nggak mengantisipasi sama sekali kalau festival itu ada jadwalnya dan ternyata diadakan setiap dua tahun sekali. Luckily, sewaktu di bus menuju penginapan, kami melihat baliho yang bilang kalau flower festival ini sedang berlangsung. Yay!





Grand Place merupakan central square-nya Brussels. Di sinilah tempat berkumpulnya para turis di Brussels. Yang paling saya sukai adalah beberapa bangunannya yang memiliki arsitektur kerajaan yang megah dengan detail yang mengesankan. Di sisi lain, saya sendiri punya misi yang udah disimpan sejak lama kalau berkunjung ke Belgia. To try belgian chocolate, waffle and fries. Ternyata ketiga item ini dengan mudah ditemukan di sekitaran Grand Place. Rasanya? ya rasa coklat, waffle dan kentang goreng. Yang membedakan, di sini semuanya lebih enak. Bahkan seorang teman saya mengaku kalau dia yang sebelumnya nggak suka waffle, jadi suka makan waffle sejak mencoba waffle Belgia. Saya sendiri membeli seporsi fries lagi ketika di Ghent dan seporsi waffle saat di Bruges.






Ghent

Dari Brussels kami melanjutkan perjalanan ke Ghent, dimana lagi-lagi saya merasakan mimpi saya terwujud dengan cara yang nggak diduga-duga. Ceritanya, sejak dulu saya ingin sekali merasakan tidur di dalam mini cabin yang biasanya dipakai road trip itu lho. Ternyata kamar AirBnB yang kami tempati adalah sebuah kabin yang terletak di halaman belakang rumah si pemilik penginapan. Yaahh.. meskipun nggak di pinggir pantai seperti yang sering saya bayangkan dulu, tapi saya sangat bersyukur ternyata Tuhan telah menyimpan rencana dan mewujudkan keinginan saya ini bahkan ketika saya sudah melupakan dan tidak terlalu mengharapkannya lagi.





Bruges

Kalau Giethorn merupakan venice-nya Belanda, maka Bruges adalah Venice of Belgium. Bruges diisi oleh bangunan-bangunan tua dengan arsitektur yang khas. Dipercantik oleh kanal-kanalnya yang panjang dan terkoneksi satu sama lain. Di antara ketiga kota di Belgia yang kami kunjungi ini, menurut saya Bruges adalah yang terindah. Sayang sekali, saya dan Rahma cuma melakukan perjalanan one day trip dari tempat penginapan kami di Ghent sehingga harus melewatkan pemandangan malam hari di sana yang katanya sangat romantis. Setelah melihat sendiri kotanya, dan mencoba membayangkan kota ini di malam hari, saya percaya aja sih sama yang katanya tadi. Semoga suatu hari nanti bisa melihat pemandangan Bruges ini di malam hari bersama orang terkasih :)








Monday, 8 August 2016

Europe, Here I Come!


Jangan sepelekan impian. Jangan remehkan doa. Jangan kendurkan usaha. Jangan berhenti percaya. Just don't stop!

Kalimat-kalimat ini yang selalu saya ucapkan dalam hati ketika seringkali saya merasa putus asa akan usaha yang saya lakukan. Saya hanyalah seorang yang biasa saja. Saya tidak pintar. Yang menjadi andalan saya adalah kemauan kuat untuk menjadi lebih baik di segi apapun. Baik pendidikan, kepribadian, sikap, pengetahuan, pandangan hidup dan lain-lain. 

Beberapa tahun yang lalu saat masih duduk di bangku kuliah sarjana, saya punya tekad yang gila untuk ukuran kemampuan saya. Salah satunya adalah kuliah ke luar negeri. Saya pun memasang target eropa sebagai tujuan saya. Sejak saat itu saya jadi sering menyebut-nyebut eropa, membaca segala hal tentang eropa. Tidak jarang dengan pede-nya saya mengucapkan kepada teman-teman seperjuangan, see you in Europe! Saat mengucapkan hal itu, sebagian dari diri saya merasa malu. Bagaimana tidak, bahasa inggris saja saya belum bisa. Score TOEFL prediksi saja masih 400-an. Jauuuh sekali dari score minimal yang dibutuhkan untuk melamar beasiswa. Baru-baru inilah saya menyadari keajaiban kata-kata yang dihitung sebagai doa. Percayalah, Tuhan mendengar dan memeluk setiap impian sejauh impian itu disertai dengan niat yang baik.

Di perjalanannya, perjuangan menawarkan segala hal-hal mentah. Jangan harapkan hal itu bisa matang dengan sendirinya. Kita lah yang harus membentuknya. Prosesnya mungkin akan melelahkan. Namun kelak, setelah melaluinya, barulah kita merasakan manfaatnya. Apapun itu nantinya. Jika niat sejak awal sudah kuat, tidak ada excuse untuk berhenti dan menyerah. Kalau menyerah, artinya memang tidak benar-benar berniat. Coba dan coba terus sampai kita tidak menemukan apapun lagi untuk dicoba (dan harusnya selalu ada jalan untuk dicoba, Tuhan maha kaya kan?).

berbagai bentuk kegagalan, keputusasaan, kemunduran sudah saya hadapi. Mengeluh, meringis? tentu saja pernah. Tapi sebisa mungkin saya tepis. Saya berusaha tidak mempedulikan pikiran-pikiran yang melemahkan dan mengajak untuk menyerah. Setelah sampai di titik ini, barulah saya menyadari, tantangan yang saya lalui itu telah mengubah diri saya menjadi seorang yang lebih kuat dibanding saya di beberapa tahun yang lalu. Maka, saya pun berusaha menanamkan pada diri saya, bahwa saat memutuskan untuk berjuang mencapai suatu hal, antisipasi konsekuensinya. Tidak ada perjuangan yang mudah. Tidak ada nasi dan lauk-pauk yang tersaji begitu saja di atas meja sebelum seseorang mengolah bahannya, memasak, menggoreng, merebus, mengaduk-aduk, meng-garnish sehingga menjadi indah dan enak dikonsumsi.

Anyway, sekarang sudah saatnya saya memulai perjuangan baru. Saya tahu di depan akan ada banyak tantangan lainnya. Tapi satu hal yang indah dari semua itu adalah kesadaran bahwa saya di hari depan bukan lagi orang yang sama, yang (semoga saja) jauh lebih baik dari saya yang sekarang ini. Bismillah. 

Europe, Here I come!

*ditulis di bandara Soekarno Hatta, dalam transit 4 jam dengan perasaan campur aduk. Pray for me, pray for me.



On Instagram

© durrahhs. Made with love by The Dutch Lady Designs.