life

Friday, 5 January 2018

Tutur kecil dari ujung barat


Di tengah laut antara Banda aceh dan Pulau breuh, saya mengucapkan sampai jumpa kepada koneksi internet. Boro-boro internet, sinyal telepon saja cuma akan bisa saya dapatkan di tempat tertentu seperti di pinggir pantai. Begitulah. Jangan heran, itu biasa. Pulau Breuh adalah salah satu pulau terdepan Indonesia. Letaknya di ujung paling barat Indonesia, di provinsi Aceh. Listrik pun masih sering mati. Cuma ada satu pembangkit listrik kecil di sana, pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) yang harus memenuhi kebutuhan listrik di dua belas desa di pulau itu. Meskipun listrik kerap padam, tapi tidak apa-apa. Masyarakat tidak butuh-butuh amat. Tidak ada smartphone yang perlu di charge sebentar-bentar, tidak ada AC yang harus terus menyala. Di sana memang panas, tapi selalu ada pohon di setiap incinya tempat berlindung dari kepanasan.

Di Pulau Breuh, kehidupan masyarakat terutama berkisar antara melaut, bertani, dan bergurau dengan tetangga. Setiap malam rumah kak Fah, tempat saya menumpang, dikunjungi tamu kecil bernama Aisha. Dia tidak pernah absen, sehingga kalau dia datang agak terlambat saja, rumah itu rasanya sunyi sekali. Selepas maghrib, bayi tiga belas bulan ini sudah siap untuk main ke rumah kak Fah bersama ibunya. Dia menjadi penyemarak rumah kak Fah setelah hari yang melelahkan. Kadang diselingi siaran musik dangdut di televisi. Saya selalu menyempatkan bermain dengan Aisha dan Nafis, anak kak fah yang berumur lima tahun. Bermain dengan anak kecil tidak pernah semenyenangkan saat di pulau Breuh. Puas bermain, saya masuk kamar dan membaca buku, sampai tertidur dengan sendirinya.

***

Saya menumpang di kampung Lampuyang. Di sana, pagi hari diwarnai kicau burung yang ramai sekali, teh hangat dan kue pulot (kue khas Aceh berupa ketan manis yang dipanggang dalam balutan daun pisang). Anak-anak berseragam merah putih pergi ke sekolah dengan berjalan kaki, naik sepeda, ada yang di antar, ada juga yang mengendarai sepeda motor membonceng adiknya. Iya, mereka masih SD dan mengendarai sepeda motor sambil membonceng adiknya.

Di sana saya tidak sadar hari. Setiap hari terasa sama saja. Hari minggu hanya akan terasa berbeda saat melihat anak-anak SD tidak memakai seragam. Mereka bermain di sepanjang tambak dan pantai, main mencari ikan, main mencari udang, main dengan kepiting, main memancing dengan pancingan kayu yang dikaitkan dengan benang atau main memberi makan kambing. Jangan remehkan kemampuan bermain anak-anak di sana. Sekali waktu saya melihat seorang anak bermain perahu yang terbuat dari botol air mineral. Botol itu diikat dengan benang pada sepotong kayu sebagai pegangan. Dia menarik-narik perahu itu di sepanjang pantai. Beberapa anak lainnya kemudian bergabung membawa perahunya masing-masing. Sebagian perahu botol air mineral mereka ada yang dibolongi agar bisa diisi muatan. Tidak puas main menarik perahu di pinggiran, mereka akhirnya berenang agak ke tengah. Perahu seharusnya berjalan di laut bukan di pantai. Kan?



Sementara, di mesjid tidak jauh dari tempat mereka bermain, shalat ashar berjamaah baru saja selesai dilaksanakan. Jamaahnya tiga orang, ada seorang imam, seorang lelaki tua dan seorang anak laki-laki berumur sekitar empat tahun. Anak kecil itu mengenakan gamis dan menggenggam tasbih kecil. Sesaat kemudian dia keluar bersama imam shalat ashar tadi.

***

Suatu malam saya diajak (karena saya minta diajak) oleh kak Fah mencari cumi di pantai. Cumi adalah sebutan mereka untuk gurita kecil. Malam sebelumnya kak Fah berhasil mendapatkan lima ekor cumi. Bermodalkan senter di kepala dan sandal jepit, kami berangkat naik motor. Bonceng tiga bersama teman saya. Malam sangat pekat meskipun masih jam delapan, karena tidak ada penerangan sama sekali. Jalanannya rusak dan jelek, diapit oleh rimbunan semak belukar. Kadang terlihat rombongan kunang-kunang di sana-sini. Banyak suara hewan-hewan malam terdengar dari kejauhan.




Sesampainya di pantai, ternyata air laut di area pasang surut malam itu masih agak tinggi. Menurut kak Fah, cumi sulit ditemukan kalau air sedang agak tinggi. Sambil mencari cumi, kak Fah menunjukkan kepada kami jenis-jenis keong laut yang bisa dimakan. Tidak ada satu pun cumi yang muncul malam itu. Lalu untuk mengobati rasa kecewa, kami berakhir dengan mengumpulkan keong untuk dimasak bersama mie instan. Dan mie instan itu pun menjadi salah satu mie instan terenak bagi saya. Karena mie-nya sudah ditambah bumbu usaha mengumpulkan keong, pengalaman mencari cumi di pinggir pantai dalam gelap gulita, ancaman bisa ular laut yang kerap bersembunyi di balik batu besar dan suara gemuruh pecahnya ombak yang membuat saya berkali-kali membatin: what am I getting myself into?
***
Ngomong-ngomong, selain bertani, penduduk Pulo Aceh juga pada umumnya adalah nelayan. Kak Fah bercerita bagaimana dia meminta suaminya untuk tidak menjadi nelayan. Karena dia takut dan gelisah jika suaminya pergi melaut. Banyak cerita yang dia dengar dari masyarakat nelayan lainnya. Ada waktu-waktu dimana nelayan-nelayan itu tidak sempat makan, karena harus menyeimbangkan perahu kecil mereka karena ombak besar yang tidak mereda. Ada yang harus memotong tali jangkar yang sedang terpasang karena ombak besar yang datang tiba-tiba sehingga mereka tidak sempat menariknya. Ada juga yang tali jangkarnya ditabrak ikan besar dan menyeret perahu mereka hingga terbalik. Beruntung salah satu dari mereka sempat menelepon ke darat, sehingga teman-teman nelayan lainnya berbondong-bondong mencari mereka ke tengah laut yang gelap. Ketika ditemukan, mereka sedang mengapung sambil berpegangan pada perahu mereka yang sudah terbalik.


Saya bisa membayangkan bagaimana rasanya. Atau setidaknya, saya sudah mendapat gambaran bagaimana rasanya menjadi nelayan di tengah-tengah ombak besar. Dalam sebuah perjalanan menyeberang antar pulau dari Pulau nasi ke Pulau breuh, kami melewati arus pasang disertai angin timur (yang berarti laut tidak bersahabat di kawasan Pulau Aceh). Kami menaiki boat nelayan kecil yang biasanya digunakan untuk memancing ikan di sekitaran pulau. Pertama kalinya dalam hidup saya melihat ombak besar dalam jarak yang begitu dekat. Tepat di samping boat, ada ombak yang lebih tinggi dari kepala saya. Ajaibnya, tidak lama setelah itu, kami berada di atasnya. Dan begitulah seterusnya sampai kami memasuki area yang lebih tenang. Saya takut, sekaligus excited. Dua orang bapak nelayan yang mengantarkan saya dan teman saya tampak tenang saja selama perjalanan. Ah, mungkin itu masih tidak seberapa dibandingkan pengalaman mereka. Selama perjalanan, saya mengagumi sosok mereka. Mereka sangat pemberani. Dan saya belajar bahwa setiap orang berharga dan punya peran pentingnya masing-masing yang tidak bisa digantikan oleh orang lain. Karena itu juga setiap orang berhak dihargai. Bayangkan kalau seorang pegawai kantoran tiba-tiba disuruh jadi nelayan. Belum tentu bisa.

Syukurnya, kejadian buruk seperti yang saya ceritakan di atas tidak sering terjadi. Syukurnya, nelayan-nelayan kecil di Pulau aceh masih tidak perlu pergi terlalu jauh untuk mendapatkan panen yang cukup.

Sementara kak Fah masih tetap pada pendiriannya. Rejeki bisa datang dari mana saja, katanya.


***
Suatu hari, saya berkata pada kak Fah, "sepertinya di sini, kalau tidak ada uang sekalipun orang tetap hidup ya kak". Penyataan saya langsung diiyakannya. "iya dek, orang di sini mayoritas petani, beras sudah ada dari hasil bertani setahun dua kali, mau ikan tinggal mancing, cari cumi atau tiram. Kalau pingin daging pun itu dibelakang kami pelihara ayam dan bebek, umpan ayam juga dari makanan sisa. Bawang, cabe, jahe, dan lain-lainnya ada di kebun. Besok kak Fah mau bikin keripik pisang dari pisang pemberian Mak Akak tetangga sebelah". Dan saya cuma bisa berkata "wow". Sebenarnya kehidupan seperti ini pernah saya saksikan di kampung nenek saya dulu ketika saya masih kecil. Manusia hidup begitu dekatnya dengan alam. Mereka mengambil seperlunya sesuai kebutuhan. Lalu hidup dengan sederhana. Apa yang bisa saya katakan? mereka sepertinya tidak butuh apapun. Dengan semagat kak Fah bercerita pengalamannya pergi ke gunung untuk memetik cengkeh atau ke hilir untuk menangkap udang yang besar-besar, atau mencari cumi di tengah malam bersama temannya yang sedang hamil. Mereka seperti berkecukupan. Tidak merasa kurang sesuatu apapun.

***

Saat itu sedang musim panen cengkeh. Kak Fah mengajak saya ke gunung yang saya iyakan dengan senang hati.




Thursday, 27 July 2017

Sejarah?

Binnenhof (tempat berlangsungnya KMB 1949)

Katanya, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya. Maka dari itu, siapapun yang menghargai sejarah pastinya tau sejarah. Ah, miris sekali, kalau dipikir-pikir, saya bukanlah seseorang yang mampu menyumbang nilai untuk menjadikan bangsa saya bangsa yang besar dalam konteks ini. Bagaimana tidak, untuk tau soal kejadian di Konferensi Meja Bundar (KMB) saja saya harus googling dulu. Untung saja Indonesia masih punya dua orang teman saya ini: Fitra dan Linda. Dengan fasihnya mereka menjelaskan kepada saya bahwa bangunan yang sedang kami kunjungi di Denhaag saat itu adalah tempat berlangsungnya Konferensi Meja Bundar tahun 1949, dimana saat itu terjadi penyerahan kedaulatan oleh Belanda kepada rakyat Indonesia dan bla bla bla.

Fitra dan Linda (masih di kompleks binenhof)

Saya jadi kilas balik pembicaraan dengan teman-teman Belanda dan Jerman yang mereka dengan lancarnya mendiskusikan sejarah mereka saat perang dunia beserta kritik-kritiknya segala. Teman saya dari Ceko, dengan antengnya menjawab pertanyaan saya tentang komunisme di negaranya saat abad ke-19, bagaimana pendapatnya, dan dia, ibunya dan neneknya berdiri dipihak mana. Padahal pada saat itu terjadi mereka belum lahir. Kalau mereka mahasiswa sejarah, atau social studies lainnya pastilah saya sudah paham. Sebaliknya, mereka adalah mahasiswa ilmu lingkungan di Wageningen University yang jauh sekali dengan pembahasan tentang itu. Barulah karena hal ini saya mengerti, mengapa pengetahuan tentang sejarah bukanlah cuma milik orang-orang di jurusan sejarah. Bukan untuk menghindari gumaman eeng.. hmm.. saat ngobrol karena tidak tahu topik, tapi melihat mereka orang-orang eropa, jelas sekali sikap mereka yang paham sejarah dan menghargai sejarah tercermin dalam kehidupan sehari-hari sampai sekarang. Contoh mudahnya saja, mereka selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas dari semua sistem yang ada dari waktu ke waktu. Adalah hal yang lumrah jika sebentar-sebentar seseorang atau suatu institusi meminta feedback dan masukan tentang karya atau pelayanannya. Lalu tidak segan-segan menerima masukan dan memperbaikinya. Mereka mengambil pelajaran dari kualitas masa lalunya untuk meningkatkan masa depannya. Walaupun sejarah tidak serta merta menjadi satu-satunya penyebab dari sikap seperti ini, saya percaya, kemampuan mereka memahami dan belajar dari sejarah juga memiliki peran penting dalam membentuk karakter tersebut. And everybody knows how great their countries are.

Geram rasanya membiarkan diri saya menyia-nyiakan banyak kesempatan untuk menambah wawasan sejarah saya saat ini. Padahal saya sedang berada di negara yang merupakan gudangnya sejarah Indonesia bahkan diklaim lebih lengkap dari yang dimiliki oleh Indonesia sendiri. Padahal negara saya adalah negara yang kaya akan sejarah baik kolonial maupun peradaban. Saya ingat saat berada di pesawat Jakarta-Banda Aceh sekitar setahun yang lalu, pembicaraan dengan seorang bapak di sebelah saya berujung kepada pesannya untuk "jangan lupa nanti coba cari dan lihat karya-karya ulama Aceh seperti Hamzah Fansuri, saya dengar-dengar yang disimpan Belanda lebih lengkap, kalau dapat share ke saya juga ya". Sampai sekarang saya belum menyempatkan diri untuk memenuhi (setengah) janji saya ini ke si bapak. 

Sebenarnya dari segi budget, mengunjungi museum di Belanda terbilang tidak mahal untuk non-turis. Saya bisa membeli kartu museum seharga 50-an euro yang bisa berlaku selama setahun dan bisa bebas dipakai sesering apapun di 400-an museum di Belanda. Jauh lebih murah dibandingkan harga tiket museum sekali masuk yang rata-rata sekitar 10 euro.

Dengan masa studi saya yang insya Allah masih setahun lagi dan sepertinya akan banyak dihabiskan di luar Belanda, semoga masih ada kesempatan untuk saya mewujudkan rencana saya untuk mengunjungi museum-museum di sini, terutama yang menyimpan peninggalan dan dokumentasi sejarah Indonesia dan Aceh. Supaya nama saya bisa masuk dalam club warga negara yang baik yang menghargai sejarah :D.

Saturday, 17 June 2017

Berpuasa di Belanda: Nervous yang Berlebihan



Puasa Ramadhan di Belanda atau umumnya Eropa Barat tahun ini berdurasi 18 jam. Lebih pendek satu jam dibandingkan tahun lalu yang tepat pada musim panas. Sedangkan tahun ini, bulan puasa jatuh pada penghujung musim semi. Terus terang, saya sempat nervous dalam mempersiapkan diri menyambut Ramadhan kali ini. Delapan belas jam berpuasa bagi saya bukan hal yang sepele. Sewaktu di tanah air saya seringkali kehabisan energi saat semakin mendekati waktu berbuka. Semakin mendekati lebaran, tubuh saya yang cadangan lemaknya sangat minim ini pun semakin lunglai, cadangan lemak dipastikan sudah habis terbakar saat Ramadhan usai. Saya pun khawatir kalau panggilan sayang 'tiang listrik ayah' akan selalu melekat seumur hidup.

Karena akan menjalani puasa 5 jam lebih lama daripada biasanya, saya pun mencoba mempersiapkan diri dengan lebih sering bergerak sebelumnya. Di kampus saya membiasakan naik tangga ketimbang lift atau eskalator, jalur naik sepeda sepulang kampus saya jadikan lebih panjang dari biasanya. Sehari sebelum memasuki Ramadhan, saya belanja barang keperluan banyak sekali, dua kantung belanjaan penuh! Saya berniat mengantisipasi untuk tidak pergi ke centrum selama Ramadhan karena jaraknya yang lumayan. 



Nyatanya, Ramadhan kali ini menjadi yang paling tangguh dan ajaib selama hidup saya. Di sini saya sadar bahwa ternyata berpuasa selama 18 jam itu sebenarnya tidak seberat yang saya bayangkan, meskipun harus dijalani dengan kegiatan perkuliahan yang padat. Kebetulan awal Ramadhan bersamaan dengan dimulainya period dengan mata kuliah yang baru. Salah satu konten mata kuliah ini adalah merancang dan menjalankan sebuah penelitian bersama teman segrup. Topik penelitian yang dipilih kelompok saya mengharuskan kami untuk bolak balik mengambil data di lapangan hampir setiap hari selama dua minggu. Lokasi pengambilan data terbilang jauh, 5 kilometer dari kampus, yang pastinya ditempuh dengan sepeda. Lebih parah lagi jalan menuju ke lokasi sangat menanjak. Selama di lokasi pun kami tetap harus bersepeda dari satu titik ke titik lainnya. Jadi bisa dibilang, selama itu saya terus beraktifitas fisik dan pikiran seharian. Pulang ke rumah jam 5 atau 6 sore, saya juga masih harus menunggu waktu iftar di jam 10 malam.





Kenapa saya bilang ajaib? karena selama berpuasa dengan durasi yang melar dari biasanya, kemampuan tubuh saya pun ikut melar. Kondisi lemas di detik menjelang berbuka, yang kalau mengikuti waktu Indonesia, seharusnya terjadi di detik-detik antara jam 6.30 sampai jam 7 (waktu Aceh), di sini saya alami di jam 9.40 sampai jam 10, which is beberapa jam lebih lama. Puasa 18 jam dari jam 3.40 pagi sampai jam 10 malam pun terasa normal-normal saja. Lelah oleh aktifitas seharian pun terasa seperti biasanya. Istirahat, dan semua baik-baik saja. Saya sempat kepikiran, apa saya saja yang terlalu beranggapan lebay terhadap puasa yang 18 jam?



Justru bagi saya, tantangan yang sebenarnya ada di malam hari, dimana saya merasa kesulitan mengadaptasikan jadwal tidur saya dengan waktu late spring. Waktu isya jatuh pada jam 11.30. Lalu jika saya selesai beribadah di jam 12, saya hanya tidur 3 jam sebelum bangun lagi untuk sahur. Tiga jam tentunya sangat kurang untuk waktu istirahat. Jadinya saya menambah waktu tidur saya seusai shalat subuh, sekitar jam 4.30 hingga jam 7.30. Jam tidur pagi seperti itu tidak terlalu menjamin kualitas istirahat yang baik, disamping karena waktu tidur yang terpotong-potong, matahari juga sudah bersinar sangat terang. Beberapa teman saya juga ada yang menyiasatinya dengan makan sebanyak-banyaknya saat berbuka, lalu tidak sahur dan hanya bangun untuk shalat subuh.

Sekarang sudah hari ke-23. Saya dan teman-teman muslim lainnya alhamdulillah masih sehat-sehat dan ceria. Belanjaan yang dua kantung penuh tadi ternyata hanya mampu bertahan hingga 2 minggu pertama. Walaupun sudah terbiasa bersepeda jarak jauh berkat tugas kelompok itu, tetap saja tubuh malas ini enggan untuk bergerak ke toko halal di centrum. Untung bisa nitip tetangga :)


Forest photos by van den Akker

Wednesday, 19 October 2016

Hujan Lembut Itu



Jam 8.17 CET. Hari ini turun hujan yang begitu lembut. Rintiknya sangat halus sehingga hanya terlihat seperti kabut saja. Aku baru menyelesaikan sarapan dengan setangkup roti, beberapa butir anggur dan segenggam almond. Ya, aku mulai terbiasa dengan gaya makan seperti ini. Terlebih aku memang tipe yang tidak terlalu 'harus makan nasi'. Ketika menggenggam cangkir capuccino-ku, aku melihat ke arah jendela. Air hujan yang lembut itu, beberapa butirannya tersangkut di pagar balkonku. Aku memanjat ke atas tempat tidur sambil membawa serta cangkir kopi yang masih panas itu. Tidak jauh di luar sana, beberapa pohon daunnya mulai menguning, atau memerah. Kubuka jendela kamarku. Kuabaikan saja suhu yang 10 derajat celcius itu. Aku sedikit bergidik saat udara yang di bawa hujan yang lembut itu merayap ke dalam kamarku. Bagaimana tidak, aku hanya mengenakan selapis kaos tipis dan celana olahraga yang malas kuganti seusai mengikuti kelas yoga semalam. Kuhirup udara dingin itu dalam-dalam. Musim berganti, warna pun berganti, suasana hati pun ternyata bisa dengan cepat berganti. Aku tersenyum.

Di sana, di atas lapangan sepakbola yang hijau dan dikelilingi jalur lari berwarna biru itu semalam bertengger bulan penuh terbesar yang pernah kulihat sepanjang hidupku. Seolah-olah dunia sedang menyelamatiku, entah untuk apa. Pagi ini, lapangan itu di penuhi (ya, dipenuhi) sekumpulan burung putih yang namanya akan kucari tahu nanti. Burung-burung itu hanya berdiam di sana, sesekali beberapa di antara mereka beterbangan di atasnya, kemudian kembali hinggap di atas rumput. Jalur lari di sekeliling lapangan itu mengkilap karena air hujan. Aku membayangkan diriku sedang berlari di sana, seperti yang sering kulakukan dulu di atas jalur lari berwarna merah di lapangan Lhong Raya. Hari ini, kusimpan dulu keinginan itu. Di suhu yang semakin menurun ini, aku lebih memilih melakukan yoga, zumba atau squash di dalam ruangan pusat olahraga De Bongerd yang berada tepat di samping lapangan. Mungkin nanti, beberapa bulan lagi saat cuaca mulai membaik. Insya Allah :)

Hujan yang lembut itu kini sudah berhenti. Aku pun berterimakasih telah memberi hiburan di pagi hari. Mengambil sedikit waktu belajarku untuk ujian di akhir bulan nanti. Aku tersenyum sekali lagi, bersyukur, menutup jendela dan mungkin mandi? Setelah itu lanjut belajar lagi. 

Selamat merayakan hari ini.

Sunday, 11 September 2016

Mereka yang Selalu Ada



"Dur, di sana maghrib masih lama nggak? kalo sanggup, hari ini dan besok (10&11) puasa ya".

Saya menerima pesan ini di tengah-tengah kesibukan saya mengerjakan tugas di hari 9 Zulhijjah. Pesan ini datang dari salah seorang sahabat saya, Zara. Zara beserta tiga sahabat saya lainnya, Mulya, Vona dan Melvi adalah mereka yang sejak SMA masih tahan membersamai saya. Syukur tak terkira mempunyai mereka. Yang sudah melihat semua ke-alay-an, kecerobohan, kealpaan saya tetapi selalu memilih untuk tetap memberikan ruang di salah satu sudut hati mereka untuk saya. 

Kembali ke delapan tahun yang lalu, saat kami masih hanya sekumpulan siswi SMA dengan kualitas rata-rata yang suka ngecengin kakak kelas untuk sekedar punya bahan tertawaan dan nggak peduli dengan eksistensi. Kami unik dengan cara sendiri. Ulang tahun yang dirayakan terlambat sebulan, debat-debat panjang yang muncul hanya karena salah memesankan makanan dan curhat-curhat yang berujung kesimpulan aneh. Sampai kegilaan seperti menghadiri konser (nyaris) tengah malam dengan busana yang nggak lazim dipakai untuk menghadiri konser. Ah, terlalu kekanak-kanakan ya? tapi dengan siapa kita bisa nyaman menjadi diri sendiri kalau bukan dengan mereka yang kita anggap bagian diri kita?

"Good friends are like stars, you don't always see them, but you know they are always there"

Kamu mungkin pernah membaca quotes mainstream ini di suatu tempat. Sayang sekali, ada orang lain yang sudah lebih dulu mengemukakannya. Kalau nggak, seperti itulah saya akan menggambarkan mereka. Well, selama perjalanan, saya sudah berkenalan dengan banyak orang, beberapa juga menjadi teman dekat. But to be honest, there's no one compare to them. (meskipun tentu saja, saya juga mempunyai tempat khusus untuk teman-teman dekat saya yang lainnya). Apapun yang terjadi, hal apapun yang saya lalui, saya selalu bisa 'pulang' ke mereka. Begitupun mereka yang selalu ada untuk saya. Lebih tepatnya, untuk satu sama lain. Kami yang berkuliah di tempat yang berbeda, kadang tidak bertemu atau berkomunikasi sampai berbulan-bulan lamanya. Tetapi tetap tidak mengurangi sedikit pun kadar kedekatan yang ada. Mungkin karena kami tumbuh dewasa bersama-sama, mengumpulkan pemahaman bersama-sama, membagi kadar kedewasaan kami seiring waktu agar sama rata. Atau karena selalu dengan ikhlas mendukung, mendoakan dan membantu satu sama lain. Mungkin juga karena kami sama-sama mempercayai bahwa sumber kebahagiaan berasal dari hal-hal sederhana. Seperti ngerujak mangga muda di teras rumah, atau nongkrong di MT, warung mie kecil pinggir jalan yang dari dulu sampai sekarang nggak pernah tergantikan oleh fancy coffee shops yang banyak bertumbuhan di luar sana. Yang paling saya pahami adalah kenyataan bahwa saya selalu nyaman menjadi diri sendiri bersama mereka. Saya merasa dipahami dan diterima. Mereka lebih dari sekedar teman. 

Ngomong-ngomong, pesan yang saya terima dari Zara mengingatkan saya akan satu hal. Suatu hari di beberapa tahun yang lalu, gadis yang mengirimkan pesan itu sedang mengenakan sneakers yang talinya tidak diikat dan jeans belel yang sobek di bagian lutut dan paha. Hari ini dia seorang gadis muslimah manis yang rapi.

Ah, jareng, kamu dan kita ternyata sudah dewasa. Waktu berlari terlalu cepat, ya?



On Instagram

© durrahhs. Made with love by The Dutch Lady Designs.