Dude! if you know what a smile can bring to your life, you may not stop smiling forever. Haha. Kalimat ini muncul ngasal di kepala saya dalam perjalanan pulang dari solo trip ke Giethoorn dua hari yang lalu. Keputusan untuk jalan ke salah satu desa cantik di Belanda ini saya buat dengan spontan. Padahal malam sebelumnya saya sudah berencana ikut bersepeda ria ke Rhenen, tetangganya Wageningen bersama beberapa orang teman. Tapi pada akhirnya saya menyerah juga sama rasa penasaran yang sudah sejak lama terpendam terhadap Giethoorn.
Saya mendengar tentang Giethoorn entah dari media apa, tetapi bisa dipastikan sudah sejak lamaaa sekali sebelum saya bahkan sadar akan sekolah ke negeri oranye ini. Giethoorn sudah masuk dalam salah satu tempat yang paling ingin saya kunjungi sejak saat itu. Giethoorn adalah sebuah desa kecil yang terletak di bagian timur Belanda. Tempat ini menjadi salah satu tujuan wisata di Belanda yang juga dikenal sebagai The Venice of Holland atau Venitie van Holland. Adalah kanal-kanal yang menghubungkan setiap sudut desa ini yang menjadikannya mendapatkan julukan seperti itu. Rumah-rumah tradisional Belanda yang cantik dan menggemaskan, tata taman dan halamannya, dan rumput hijaunya menjadikan desa ini terlihat asri. Walaupun dengan kehadiran turis, Giethoorn masih bisa menunjukkan identitasnya sebagai desa yang tenang. Suasana yang tenang ini barangkali juga didukung karena penggunaan whisper boat, boat yang mesinnya tidak berbunyi sama sekali.
Ini pertama kalinya saya berwisata sendirian selama di Belanda. Sebenarnya, ada beberapa orang dari teman saya yang berangkat mengunjungi Giethoorn di hari yang sama karena bertepatan dengan easter break. Saya pun berniat bergabung saja dengan mereka, karena khawatir perjalanan saya akan berlangsung membosankan jika pergi sendirian. Tapi sepertinya niat solo trip dari awal sudah didukung dan diketuk palu oleh Tuhan. Jadilah saya ketinggalan bus yang dijadwalkan oleh teman-teman. Inisiatif untuk bertemu di lokasi saja, juga nggak tepat. Karena ternyata bus dari stasiun Zwolle yang merupakan salah satu alternatif jalur menuju Giethoorn, hanya ada setiap sejam sekali. Dengan begitu, teman-teman saya pasti akan sudah sampai di Giethoorn paling nggak sejam sebelum saya. Baiklah. Akhirnya, saya harus bersedia asik-asik saja untuk jalan sendirian.
Pada kenyataannya. Perjalanan memang tetap menyenangkan. Awalnya saya sengaja bela-belain untuk menikmatinya dengan mendengar musik dan senyum ke siapa saja yang nggak sengaja bertatapan. Eh, ternyata pembawaan seperti ini mengundang orang asing sekalipun untuk mau mengobrol dengan saya. Ya, tau sajalah, talking to strangers is not common here. Bermuka datar jika berpapasan dengan teman yang pernah sekelas sekalipun merupakan hal yang sangat biasa. Nah di hari itu, senyum mengubah segalanya (duh!).
Perjalanan yang awalnya saya kira akan membosankan menjadi sangat menyenangkan. Di kereta dari stasiun Ede-Wageningen menuju Amersfort, saya duduk berhadapan dengan seorang bapak yang menyapa saya dengan "ben je Indonesisch?" (kamu orang indonesia?). Setelah itu mengalirlah percakapan yang menyenangkan tentang Indonesia, tentunya dalam bahasa Inggris (haha). Si bapak ternyata pernah beristrikan orang Sulawesi selama 25 tahun. Meskipun dia nggak pernah ke Indonesia, dia tau banyak sekali tentang Indonesia. Dia juga mengungkapkan bagaimana dia menyukai beragam makanan Indonesia, bagaimana dia menyukai kebaya apalagi saat dikenakan oleh mantan istrinya. Saking asiknya mengobrol, percakapan pun harus terputus secara mendadak saat kami harus berganti kereta yang berbeda di stasiun Amersfoort.
Di kereta dari Amersfoort menuju Zwolle, saya berkenalan dengan seorang brazillian yang menawarkan permen karet setelah saya senyumin. Ternyata dia seorang backpacker yang sedang singgah di Belanda untuk sekaligus mengunjungi temannya. Setelah ngobrol-ngobrol, saya tau bahwa dia sudah mengunjungi banyak tempat, termasuk Indonesia. Dia mengaku pernah berselancar di Nias, dan ingin kembali lagi ke sana kapan-kapan.
Di bus, dari Zwolle ke Giethoorn, saya melempar senyum kepada seorang ibu-ibu berpenampilan nyentrik yang baru saja naik bus. Dia membalas senyum dan langsung duduk di sebelah saya. Kejadian ngobrol dengan orang asing pun berlangsung lagi. Kali ini si ibu menyangka saya orang India. Si ibu sendiri ternyata berasal dari Praha. Jadilah pembicaraan berlangsung mulus karena saya mengatakan pernah berkunjung ke Praha. What a coincidence! all of it!
Di Giethoorn, senyum saya semakin menjadi-jadi. Kalaupun wajah saya sedang tidak tersenyum, saya tetap tersenyum di dalam hati. Sambil bersyukur tentunya. Ada banyak turis yang berkunjung di hari itu. Kebanyakan dari mereka mengikuti boat tour atau menyewa boat kecil yang menampung hingga 5 orang dan bisa dikendalikan sendiri. Beberapa memilih berjalan menyusuri jalan-jalan kecil di pinggir kanal, termasuk saya.
Karena boat-boat kecil dikendalikan sendiri oleh turis, sesekali kanal menjadi seperti arena boom-boom car. Boat-boat saling bertabrakan saat berpapasan satu sama lain. Satu waktu, boat yang dikendarai sebuah keluarga bule yang ceria menabrak dinding kanal tanpa alasan tertentu, saya pun spontan tertawa, lepas. Dengan spontan juga, seorang cowok bule yang sedang berjalan di depan saya menoleh ke belakang karena mendengar tawa saya, yang langsung saya balas dengan senyuman. Dia tersenyum balik kemudian kembali berjalan. Lalu tiba-tiba dia menoleh sekali lagi dan bilang, "Do you want a picture of you? I think you are a lovely girl, you deserve a picture...." aksennya british sekali. Saya pun menjawab dengan nada ragu, karena masih agak shock, "Yea, if you don't mind" sambil menyodorkan kamera, yang di balasnya dengan "and maybe a phone number?".









Post a Comment