Wednesday, 19 October 2016

Hujan Lembut Itu



Jam 8.17 CET. Hari ini turun hujan yang begitu lembut. Rintiknya sangat halus sehingga hanya terlihat seperti kabut saja. Aku baru menyelesaikan sarapan dengan setangkup roti, beberapa butir anggur dan segenggam almond. Ya, aku mulai terbiasa dengan gaya makan seperti ini. Terlebih aku memang tipe yang tidak terlalu 'harus makan nasi'. Ketika menggenggam cangkir capuccino-ku, aku melihat ke arah jendela. Air hujan yang lembut itu, beberapa butirannya tersangkut di pagar balkonku. Aku memanjat ke atas tempat tidur sambil membawa serta cangkir kopi yang masih panas itu. Tidak jauh di luar sana, beberapa pohon daunnya mulai menguning, atau memerah. Kubuka jendela kamarku. Kuabaikan saja suhu yang 10 derajat celcius itu. Aku sedikit bergidik saat udara yang di bawa hujan yang lembut itu merayap ke dalam kamarku. Bagaimana tidak, aku hanya mengenakan selapis kaos tipis dan celana olahraga yang malas kuganti seusai mengikuti kelas yoga semalam. Kuhirup udara dingin itu dalam-dalam. Musim berganti, warna pun berganti, suasana hati pun ternyata bisa dengan cepat berganti. Aku tersenyum.

Di sana, di atas lapangan sepakbola yang hijau dan dikelilingi jalur lari berwarna biru itu semalam bertengger bulan penuh terbesar yang pernah kulihat sepanjang hidupku. Seolah-olah dunia sedang menyelamatiku, entah untuk apa. Pagi ini, lapangan itu di penuhi (ya, dipenuhi) sekumpulan burung putih yang namanya akan kucari tahu nanti. Burung-burung itu hanya berdiam di sana, sesekali beberapa di antara mereka beterbangan di atasnya, kemudian kembali hinggap di atas rumput. Jalur lari di sekeliling lapangan itu mengkilap karena air hujan. Aku membayangkan diriku sedang berlari di sana, seperti yang sering kulakukan dulu di atas jalur lari berwarna merah di lapangan Lhong Raya. Hari ini, kusimpan dulu keinginan itu. Di suhu yang semakin menurun ini, aku lebih memilih melakukan yoga, zumba atau squash di dalam ruangan pusat olahraga De Bongerd yang berada tepat di samping lapangan. Mungkin nanti, beberapa bulan lagi saat cuaca mulai membaik. Insya Allah :)

Hujan yang lembut itu kini sudah berhenti. Aku pun berterimakasih telah memberi hiburan di pagi hari. Mengambil sedikit waktu belajarku untuk ujian di akhir bulan nanti. Aku tersenyum sekali lagi, bersyukur, menutup jendela dan mungkin mandi? Setelah itu lanjut belajar lagi. 

Selamat merayakan hari ini.

Friday, 14 October 2016

Yang Terpenting



Saat menuliskan ini, saya sedang menikmati secangkir lemon tea hangat bersama alunan musik dari lagu-lagu milik Aditya sofyan. Jam menunjukkan pukul 21.00 CET. Saya duduk di atas tempat tidur yang tepat berada di sebelah jendela besar di kamar saya. Kebiasaan yang saya lakukan hampir setiap malam semenjak berada di sini. Musiknya selalu berganti, sesuai mood. Kadang saya mendengar musik low beat seperti Aditya Sofyan ini, kadang saya dengar indie, dance, atau soul, kadang saya dengar Joss stone, Colbie caillat, kadang John mayer, Alanis morissette, kadang random slow rock. Tidak pernah bosan saya memeperhatikan bunga-bunga yang saya letakkan di pinggir jendela atau lampu-lampu perumahan, jalan dan lapangan sepakbola dari ketinggian lantai 9 ini. Yaaa..sort of introverts thingie. haha

Seperti kata kebanyakan orang, saat berada jauh dari kampung halaman, momen-momen seperti ini bisa membuat seseorang terlempar ke kerinduan yang dalam. Duh, bahasanya. Tapi ya, sejujurnya saya sedang rindu sekali sama kampung halaman, terutama orang tua, adik-adik, teman-teman baik dan kegiatan yang sering saya lakukan dulu, yang malahan dulu sering saya keluhkan. Kita memang sering take something for granted ya :)

Bukan berarti saya tidak senang berada di sini. Saya malah sangaaat bersyukur bisa merasakan belajar dari salah satu perguruan tinggi terbaik di dunia. Atmosfir yang positif, sistem yang baik dan sikap yang profesional. Saya bersyukur bisa mengamati dan memahami budaya dari berbagai tempat di belahan bumi ini setiap harinya. Kuliah juga berlangsung menyenangkan. Meskipun pada awalnya saya agak kesulitan untuk bisa catch up dengan sistemnya yang cepat, pada akhirnya saya bisa menikmatinya juga. Sistem, dosen dan semuanya serba profesional. Semakin hari, saya semakin jatuh cinta dengan ilmu yang saya pelajari di sini. Mungkin karena memang ini yang saya harapkan, atau juga karena semua orang di sini yang begitu passionate dengan bidang yang mereka dalami. Jadi, saya pun ikut menyerap energi positif mereka. Apapun itu, saya berharap ilmu dan semangat untuk terus mengembangkannya yang sedang saya gali di sini bisa bermanfaat kelak di masa depan, baik untuk diri saya sendiri, orang lain dan bumi Tuhan.

Bicara lagi soal rindu, satu hal yang saya pelajari sejauh ini adalah, jarak dan kesendirian yang menjadikan kita semakin mengerti what and who really matters in life. Bagi saya, yang pertama sekali adalah Tuhan, kebergantungan dan ketenangan hati karena-Nya. Lalu keluarga, orang-orang terbaik lainnya dalam hidup saya dan tentunya, diri saya sendiri. Dan yang terpenting dari semua itu adalah hubungan, bukan hanya keberadaan. Jarak mengajarkan saya arti mereka yang sebenarnya dalam hidup saya. Memberikan bayangan kepada saya tentang bagaimana jadinya saya tanpa mereka. Tentang betapa saya akan menyesal jika tidak menjalin hubungan yang baik dengan mereka. Saya bersyukur, karena sudah tidak menyia-nyiakan waktu saat saya masih di dekat mereka. Saya bersyukur karena sudah sering mengekspresikan kasih sayang saya kepada mereka selama saya dekat. Meskipun rasanya tidak akan pernah cukup, tapi saya juga sangat bersyukur sudah selalu mencoba memberikan yang terbaik semampu saya. Alhamdulillah, karena itu semua, tidak ada penyelasan ketika saya harus berada jauh dari mereka. Yang ada hanya harapan dan keinginan untuk menjadi lebih baik ketika saatnya bertemu lagi kelak. Dan malam ini, walaupun dengan perasaan yang begitu berat, saya sedang merayakan rindu yang indah.


On Instagram

© durrahhs. Made with love by The Dutch Lady Designs.