Sunday, 21 August 2016

Tiba-Tiba ke Belgia


This is my very first trip in Europe!

Ah, Belgia. Sebenarnya udah pernah nyangka sih kalau trip pertama di eropa kemungkinan besar adalah negara Belgia atau Perancis atau Jerman karena paling dekat dengan Belanda. Tapi saya nggak pernah nyangka akan mulai ngetrip di hari keempat saya baru menjejakkan kaki di Eropa. Kok bisa? ah sudahlah. Alasannya banyak dan complicated. hehe. Yang jelas, sebagai calon mahasiswa (yang seharusnya belajar dulu baru jalan-jalan) saya merasa ini agak keterlaluan sih.

Well, saya akui itinerary yang disusun tiba-tiba sekali menjadikan perjalanan ini a bit touristy. Kami nggak sempat mencari tahu banyak tentang tempat tujuan wisata di Belgia. Jadinya hanya mengunjungi tempat-tempat wisata terkenal aja. Ditambah lagi waktu summer seperti ini, lokasi-lokasi wisata jadi padat sekali. Untungnya saya dan Rahma memutuskan menginap di AirBnB, lagi-lagi karena alasan biaya, yang membawa kami ke beberapa country side di Belgia.

Brussels

Kesan pertama sesampai di Brussels adalah: bau pesing. haha! kami turun bus di Brussels North Central Station. Nah, untuk mencapai tempat penginapan kami harus naik bus dalam kota, halte busnya terletak agak di belakang stasiun. Dari sinilah bau pesing itu berasal, mungkin kalau malam banyak orang mabuk yang pipis sembarangan?

Tujuan utama di Brussels apalagi kalau bukan Grand Place alias La Grand-Place alias Grote Markt. Saya dan Rahma memang udah niat sekali untuk bisa melihat flower carpet festival. Tapi, baik saya maupun Rahma sebelumnya nggak mengantisipasi sama sekali kalau festival itu ada jadwalnya dan ternyata diadakan setiap dua tahun sekali. Luckily, sewaktu di bus menuju penginapan, kami melihat baliho yang bilang kalau flower festival ini sedang berlangsung. Yay!





Grand Place merupakan central square-nya Brussels. Di sinilah tempat berkumpulnya para turis di Brussels. Yang paling saya sukai adalah beberapa bangunannya yang memiliki arsitektur kerajaan yang megah dengan detail yang mengesankan. Di sisi lain, saya sendiri punya misi yang udah disimpan sejak lama kalau berkunjung ke Belgia. To try belgian chocolate, waffle and fries. Ternyata ketiga item ini dengan mudah ditemukan di sekitaran Grand Place. Rasanya? ya rasa coklat, waffle dan kentang goreng. Yang membedakan, di sini semuanya lebih enak. Bahkan seorang teman saya mengaku kalau dia yang sebelumnya nggak suka waffle, jadi suka makan waffle sejak mencoba waffle Belgia. Saya sendiri membeli seporsi fries lagi ketika di Ghent dan seporsi waffle saat di Bruges.






Ghent

Dari Brussels kami melanjutkan perjalanan ke Ghent, dimana lagi-lagi saya merasakan mimpi saya terwujud dengan cara yang nggak diduga-duga. Ceritanya, sejak dulu saya ingin sekali merasakan tidur di dalam mini cabin yang biasanya dipakai road trip itu lho. Ternyata kamar AirBnB yang kami tempati adalah sebuah kabin yang terletak di halaman belakang rumah si pemilik penginapan. Yaahh.. meskipun nggak di pinggir pantai seperti yang sering saya bayangkan dulu, tapi saya sangat bersyukur ternyata Tuhan telah menyimpan rencana dan mewujudkan keinginan saya ini bahkan ketika saya sudah melupakan dan tidak terlalu mengharapkannya lagi.





Bruges

Kalau Giethorn merupakan venice-nya Belanda, maka Bruges adalah Venice of Belgium. Bruges diisi oleh bangunan-bangunan tua dengan arsitektur yang khas. Dipercantik oleh kanal-kanalnya yang panjang dan terkoneksi satu sama lain. Di antara ketiga kota di Belgia yang kami kunjungi ini, menurut saya Bruges adalah yang terindah. Sayang sekali, saya dan Rahma cuma melakukan perjalanan one day trip dari tempat penginapan kami di Ghent sehingga harus melewatkan pemandangan malam hari di sana yang katanya sangat romantis. Setelah melihat sendiri kotanya, dan mencoba membayangkan kota ini di malam hari, saya percaya aja sih sama yang katanya tadi. Semoga suatu hari nanti bisa melihat pemandangan Bruges ini di malam hari bersama orang terkasih :)








Post a Comment

On Instagram

© durrahhs. Made with love by The Dutch Lady Designs.