Tuesday, 26 September 2017

Drama dan kontemplasi penerbangan yang dibatalkan


Kejadiannya hampir setahun yang lalu saat saya, Linda dan Icha a.k.a. Winter Rangers (setidaknya itu nama grup whatsapp-nya) mencoba berpetualang ke tiga negara dalam liburan singkat kami winter 2016 yang lalu. Tiga negara itu adalah Praha, Austria dan Jerman. Dari dulu, hal yang membuat saya senang jalan-jalan sebenarnya bukan sensasi sudah-pernah-ke-tempat-itu nya. Tetapi lebih kepada banyaknya pengalaman baru beserta drama dan penyelesaiannya yang ajaib yang membuat acara jalan-jalan itu sulit untuk dilupakan. Salah satunya pengalaman dari perjalanan yang satu ini.

Sore tanggal 25 Desember, saya, Linda dan Icha sudah standby di Schipol Airport. Masih bersemangat dan dengan energi yang masih full, kami berjalan cepat mencari gate sesuai boarding pass. Jam 19.30, kami sudah duduk manis di pesawat. Lima belas menit kemudian, pesawat mulai berjalan menuju landasan pacu, namun tiba-tiba berhenti. Pilot pun mengumumkan kalau keberangkatan akan ditunda selama beberapa menit karena harus mengantri untuk take off. Saya pikir ya okelah, mungkin karena jam padat. Selang 30 menit kami belum berangkat juga. Lewat sejam kemudian pilot mengumumkan lagi bahwa pesawat sedang mengalami masalah di sistem ventilasi dan kami akan menunggu teknisi untuk memeriksanya. Wait, jadi mungkin sebenarnya dari tadi bukan karena mengantri, tetapi white lie aja kali ya supaya penumpang tidak panik. Lalu pramugara dan pramugarinya mulai membagikan minuman. Hampir dua jam ternyata masalahnya belum beres juga. Penumpang mulai mencak-mencak meminta keluar saja karena kepanasan. Akhirnya pesawat di dorong menuju gate terdekat.

Berbanding terbalik dengan reaksi penumpang lainnya, saya, Icha dan Linda malah ketawa-ketawa dan take it easy saja. Kami malah berkomentar dengan candaan seperti: yey! from Schipol to Schipol. Haha. Sebenarnya kami di antara senang dan takut. Senang, karena sebenarnya kami belum punya tempat penginapan untuk malam itu di Praha. Jika penebangannya lancar, seharusnya kami sudah sampai di bandara Praha di jam sepuluhan. Dan memutuskan untuk menunggu atau bahkan tidur di bandara sampai pagi (in winter!). Takut juga, karena jika pesawat dibatalkan, maka semua itinerary perjalanan dan semua biaya akomodasi dan tiket bus dan kereta untuk destinasi-destinasi selanjutnya akan hangus begitu saja. Jam 12 malam dan kami masih menunggu di Boarding lounge. Karena semakin besar kemungkinan kalau pesawat akan dibatalkan, kami pun mulai menghitung beberapa opsi: batal jalan, membeli tiket pesawat lain yang berangkat malam itu juga yang harganya sudah sama dengan total biaya perjalanan kami, atau mengambil kereta malam itu juga yang langsung menuju austria dan mengikhlaskan Praha. Oh tidak..

Tidak ada satupun dari kami yang memilih salah satu dari pilihan di atas. Akhirnya kami memutuskan untuk sit and wait, and see what happens. Sementara di boarding lounge, penumpang lainnya yang merasa dirugikan mulai mengepung petugas bandara dan meminta pertanggung jawaban. Koordinasi dengan pihak perusahaan maskapainya ternyata butuh waktu. Sementara penumpang tidak diizinkan keluar boarding lounge atas alasan keamanan. Entah karena lapar atau takut duitnya hangus, penumpang pun semakin memanas dan ngotot. Hanya ada beberapa orang yang woles: sepasang oma dan opa, anak-anak, dan tentunya kami bertiga. Maklum, hari itu masih Christmast. Mungkin orang-orang sudah punya rencana untuk berkumpul dengan keluarganya atau agenda lainnya.

Dia sesantai ini, sampai oma-opa di depannya ketawa terus. Kontras sekali dengan suasana yang sedang memanas di sebelah sana :D

Singkat cerita, di puncak-puncaknya kemarahan penumpang, kami diarahkan untuk keluar dan ikut bus yang akan mengangkut kami ke hotel bandara. Masing-masing penumpang di berikan nomor yang bisa dihubungi. Nomor itu tidak tertera di atas kartu nama atau apa lah yang menunjukkan kalau itu nomor resmi. Tetapi ditulis di atas selembar potongan kertas. Kali ini, semua orang tidak terkecuali kami bertiga semakin bersikeras untuk mendapat pernyataan yang sejelas-jelasnya. Akan tetapi pihak bandara tidak juga dapat memastikan kami akan mendapat tiket pengganti atau tidak. Bayangkan saja, saat itu jam 2 malam, di bandara yang mulai sepi, lapar, kebingungan dan dingin. Disitulah, kesantaian berganti kepasrahan. Kami akhirnya memutuskan untuk balik saja ke wageningen dan menyelinap ke balik selimut di kamar masing-masing kalau keesokan harinya kami tidak mendapatkan tiket pesawat gratis. 

Kalau dipikir-pikir, memang tidak ada satu sistem pun di dunia ini yang sempurna, selain ciptaan Allah ya? bahkan salah satu bandara paling sibuk di Eropa pun terkadang bisa menunjukkan kekurangan di beberapa sisi. Saya mencoba bersangka baik aja sih, mungkin karena kasus itu adalah kejadian langka, jadi petugasnya tidak siap untuk bertindak. Bisa jadi juga karena saat itu tengah malam dan karena maskapai yang kami gunakan bukan maskapai lokalnya eropa barat, jadi tidak ada representatif dari pihak maskapai yang standby di situ sehingga koordinasi jadi agak lamban. Mungkin saja karena hal-hal lainnya yang terlalu kompleks untuk kita mengerti.

Atau mungkin...
Bayangkan kalau malam itu kami bertiga sampai tepat waktu di bandara Praha. Mungkin kami akan sangat kedinginan. Sebenarnya kami sudah mencoba mencari tau sebelumnya, apakah bandara Václav Havel Airport, Praha nyaman untuk dijadikan tempat menginap. Hasil browsing kurang lebih menjawab iya. Banyak backpacker yang katanya aman-aman saja menginap di bandara Praha. Ternyata, keesokan siang, sesampainya di sana dan melihat keadaan bandara yang agak terbuka dan tidak banyak bangku yang nyaman yang bisa dijadikan tempat tidur, kami bersyukur sekali penerbangan di malam sebelumnya batal. Meskipun panjang waktu kami untuk menikmati Praha jadi terpotong lebih dari setengah hari.



Kejadian hampir setahun lalu itu masih saja menjadi pengingat untuk saya. Sebagaimana mudahnya Allah membolak-balikkan keadaan dan betapa maha baik dan bijaksananya Dia. Dengan mudah membuat penerbangan kami batal, sehingga kami bisa tidur dengan nyaman, hangat, dan gratis di salah satu hotel bintang empat di Amsterdam. Keesokan harinya, tiket penerbangan kami pun digantikan dengan tiket dari maskapai penerbangan terbaiknya Belanda. Semestinya saya (dan kita semua) tidak perlu khawatir tentang apapun juga, karena untuk urusan tidur semalam saja, Allah bahkan mengatur dengan sedemikian rupa. Sampai membatalkan seluruh penerbangan dan sudah pasti urusan semua orang yang pesawatnya batal bersamaan dengan kami bertiga juga sudah diatur-Nya dengan rapi. Apalagi hal-hal pokok di kehidupan kita seperti rejeki, jodoh, keturunan dan sebagainya. Tidak akan luput dari perhatiannya.

"If only you knew how He manages your affairs, your heart would melt out of love for Him" Imam Shafiee

Thursday, 27 July 2017

Sejarah?

Binnenhof (tempat berlangsungnya KMB 1949)

Katanya, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya. Maka dari itu, siapapun yang menghargai sejarah pastinya tau sejarah. Ah, miris sekali, kalau dipikir-pikir, saya bukanlah seseorang yang mampu menyumbang nilai untuk menjadikan bangsa saya bangsa yang besar dalam konteks ini. Bagaimana tidak, untuk tau soal kejadian di Konferensi Meja Bundar (KMB) saja saya harus googling dulu. Untung saja Indonesia masih punya dua orang teman saya ini: Fitra dan Linda. Dengan fasihnya mereka menjelaskan kepada saya bahwa bangunan yang sedang kami kunjungi di Denhaag saat itu adalah tempat berlangsungnya Konferensi Meja Bundar tahun 1949, dimana saat itu terjadi penyerahan kedaulatan oleh Belanda kepada rakyat Indonesia dan bla bla bla.

Fitra dan Linda (masih di kompleks binenhof)

Saya jadi kilas balik pembicaraan dengan teman-teman Belanda dan Jerman yang mereka dengan lancarnya mendiskusikan sejarah mereka saat perang dunia beserta kritik-kritiknya segala. Teman saya dari Ceko, dengan antengnya menjawab pertanyaan saya tentang komunisme di negaranya saat abad ke-19, bagaimana pendapatnya, dan dia, ibunya dan neneknya berdiri dipihak mana. Padahal pada saat itu terjadi mereka belum lahir. Kalau mereka mahasiswa sejarah, atau social studies lainnya pastilah saya sudah paham. Sebaliknya, mereka adalah mahasiswa ilmu lingkungan di Wageningen University yang jauh sekali dengan pembahasan tentang itu. Barulah karena hal ini saya mengerti, mengapa pengetahuan tentang sejarah bukanlah cuma milik orang-orang di jurusan sejarah. Bukan untuk menghindari gumaman eeng.. hmm.. saat ngobrol karena tidak tahu topik, tapi melihat mereka orang-orang eropa, jelas sekali sikap mereka yang paham sejarah dan menghargai sejarah tercermin dalam kehidupan sehari-hari sampai sekarang. Contoh mudahnya saja, mereka selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas dari semua sistem yang ada dari waktu ke waktu. Adalah hal yang lumrah jika sebentar-sebentar seseorang atau suatu institusi meminta feedback dan masukan tentang karya atau pelayanannya. Lalu tidak segan-segan menerima masukan dan memperbaikinya. Mereka mengambil pelajaran dari kualitas masa lalunya untuk meningkatkan masa depannya. Walaupun sejarah tidak serta merta menjadi satu-satunya penyebab dari sikap seperti ini, saya percaya, kemampuan mereka memahami dan belajar dari sejarah juga memiliki peran penting dalam membentuk karakter tersebut. And everybody knows how great their countries are.

Geram rasanya membiarkan diri saya menyia-nyiakan banyak kesempatan untuk menambah wawasan sejarah saya saat ini. Padahal saya sedang berada di negara yang merupakan gudangnya sejarah Indonesia bahkan diklaim lebih lengkap dari yang dimiliki oleh Indonesia sendiri. Padahal negara saya adalah negara yang kaya akan sejarah baik kolonial maupun peradaban. Saya ingat saat berada di pesawat Jakarta-Banda Aceh sekitar setahun yang lalu, pembicaraan dengan seorang bapak di sebelah saya berujung kepada pesannya untuk "jangan lupa nanti coba cari dan lihat karya-karya ulama Aceh seperti Hamzah Fansuri, saya dengar-dengar yang disimpan Belanda lebih lengkap, kalau dapat share ke saya juga ya". Sampai sekarang saya belum menyempatkan diri untuk memenuhi (setengah) janji saya ini ke si bapak. 

Sebenarnya dari segi budget, mengunjungi museum di Belanda terbilang tidak mahal untuk non-turis. Saya bisa membeli kartu museum seharga 50-an euro yang bisa berlaku selama setahun dan bisa bebas dipakai sesering apapun di 400-an museum di Belanda. Jauh lebih murah dibandingkan harga tiket museum sekali masuk yang rata-rata sekitar 10 euro.

Dengan masa studi saya yang insya Allah masih setahun lagi dan sepertinya akan banyak dihabiskan di luar Belanda, semoga masih ada kesempatan untuk saya mewujudkan rencana saya untuk mengunjungi museum-museum di sini, terutama yang menyimpan peninggalan dan dokumentasi sejarah Indonesia dan Aceh. Supaya nama saya bisa masuk dalam club warga negara yang baik yang menghargai sejarah :D.

Saturday, 17 June 2017

Berpuasa di Belanda: Nervous yang Berlebihan



Puasa Ramadhan di Belanda atau umumnya Eropa Barat tahun ini berdurasi 18 jam. Lebih pendek satu jam dibandingkan tahun lalu yang tepat pada musim panas. Sedangkan tahun ini, bulan puasa jatuh pada penghujung musim semi. Terus terang, saya sempat nervous dalam mempersiapkan diri menyambut Ramadhan kali ini. Delapan belas jam berpuasa bagi saya bukan hal yang sepele. Sewaktu di tanah air saya seringkali kehabisan energi saat semakin mendekati waktu berbuka. Semakin mendekati lebaran, tubuh saya yang cadangan lemaknya sangat minim ini pun semakin lunglai, cadangan lemak dipastikan sudah habis terbakar saat Ramadhan usai. Saya pun khawatir kalau panggilan sayang 'tiang listrik ayah' akan selalu melekat seumur hidup.

Karena akan menjalani puasa 5 jam lebih lama daripada biasanya, saya pun mencoba mempersiapkan diri dengan lebih sering bergerak sebelumnya. Di kampus saya membiasakan naik tangga ketimbang lift atau eskalator, jalur naik sepeda sepulang kampus saya jadikan lebih panjang dari biasanya. Sehari sebelum memasuki Ramadhan, saya belanja barang keperluan banyak sekali, dua kantung belanjaan penuh! Saya berniat mengantisipasi untuk tidak pergi ke centrum selama Ramadhan karena jaraknya yang lumayan. 



Nyatanya, Ramadhan kali ini menjadi yang paling tangguh dan ajaib selama hidup saya. Di sini saya sadar bahwa ternyata berpuasa selama 18 jam itu sebenarnya tidak seberat yang saya bayangkan, meskipun harus dijalani dengan kegiatan perkuliahan yang padat. Kebetulan awal Ramadhan bersamaan dengan dimulainya period dengan mata kuliah yang baru. Salah satu konten mata kuliah ini adalah merancang dan menjalankan sebuah penelitian bersama teman segrup. Topik penelitian yang dipilih kelompok saya mengharuskan kami untuk bolak balik mengambil data di lapangan hampir setiap hari selama dua minggu. Lokasi pengambilan data terbilang jauh, 5 kilometer dari kampus, yang pastinya ditempuh dengan sepeda. Lebih parah lagi jalan menuju ke lokasi sangat menanjak. Selama di lokasi pun kami tetap harus bersepeda dari satu titik ke titik lainnya. Jadi bisa dibilang, selama itu saya terus beraktifitas fisik dan pikiran seharian. Pulang ke rumah jam 5 atau 6 sore, saya juga masih harus menunggu waktu iftar di jam 10 malam.





Kenapa saya bilang ajaib? karena selama berpuasa dengan durasi yang melar dari biasanya, kemampuan tubuh saya pun ikut melar. Kondisi lemas di detik menjelang berbuka, yang kalau mengikuti waktu Indonesia, seharusnya terjadi di detik-detik antara jam 6.30 sampai jam 7 (waktu Aceh), di sini saya alami di jam 9.40 sampai jam 10, which is beberapa jam lebih lama. Puasa 18 jam dari jam 3.40 pagi sampai jam 10 malam pun terasa normal-normal saja. Lelah oleh aktifitas seharian pun terasa seperti biasanya. Istirahat, dan semua baik-baik saja. Saya sempat kepikiran, apa saya saja yang terlalu beranggapan lebay terhadap puasa yang 18 jam?



Justru bagi saya, tantangan yang sebenarnya ada di malam hari, dimana saya merasa kesulitan mengadaptasikan jadwal tidur saya dengan waktu late spring. Waktu isya jatuh pada jam 11.30. Lalu jika saya selesai beribadah di jam 12, saya hanya tidur 3 jam sebelum bangun lagi untuk sahur. Tiga jam tentunya sangat kurang untuk waktu istirahat. Jadinya saya menambah waktu tidur saya seusai shalat subuh, sekitar jam 4.30 hingga jam 7.30. Jam tidur pagi seperti itu tidak terlalu menjamin kualitas istirahat yang baik, disamping karena waktu tidur yang terpotong-potong, matahari juga sudah bersinar sangat terang. Beberapa teman saya juga ada yang menyiasatinya dengan makan sebanyak-banyaknya saat berbuka, lalu tidak sahur dan hanya bangun untuk shalat subuh.

Sekarang sudah hari ke-23. Saya dan teman-teman muslim lainnya alhamdulillah masih sehat-sehat dan ceria. Belanjaan yang dua kantung penuh tadi ternyata hanya mampu bertahan hingga 2 minggu pertama. Walaupun sudah terbiasa bersepeda jarak jauh berkat tugas kelompok itu, tetap saja tubuh malas ini enggan untuk bergerak ke toko halal di centrum. Untung bisa nitip tetangga :)


Forest photos by van den Akker

Thursday, 27 April 2017

Cerita Dari Giethoorn: Smile Does Magic!




Dude! if you know what a smile can bring to your life, you may not stop smiling forever. Haha. Kalimat ini muncul ngasal di kepala saya dalam perjalanan pulang dari solo trip ke Giethoorn dua hari yang lalu. Keputusan untuk jalan ke salah satu desa cantik di Belanda ini saya buat dengan spontan. Padahal malam sebelumnya saya sudah berencana ikut bersepeda ria ke Rhenen, tetangganya Wageningen bersama beberapa orang teman. Tapi pada akhirnya saya menyerah juga sama rasa penasaran yang sudah sejak lama terpendam terhadap Giethoorn.





Saya mendengar tentang Giethoorn entah dari media apa, tetapi bisa dipastikan sudah sejak lamaaa sekali sebelum saya bahkan sadar akan sekolah ke negeri oranye ini. Giethoorn sudah masuk dalam salah satu tempat yang paling ingin saya kunjungi sejak saat itu. Giethoorn adalah sebuah desa kecil yang terletak di bagian timur Belanda. Tempat ini menjadi salah satu tujuan wisata di Belanda yang juga dikenal sebagai The Venice of Holland atau Venitie van Holland. Adalah kanal-kanal yang menghubungkan setiap sudut desa ini yang menjadikannya mendapatkan julukan seperti itu. Rumah-rumah tradisional Belanda yang cantik dan menggemaskan, tata taman dan halamannya, dan rumput hijaunya menjadikan desa ini terlihat asri. Walaupun dengan kehadiran turis, Giethoorn masih bisa menunjukkan identitasnya sebagai desa yang tenang. Suasana yang tenang ini barangkali juga didukung karena penggunaan whisper boat, boat yang mesinnya tidak berbunyi sama sekali.




Ini pertama kalinya saya berwisata sendirian selama di Belanda. Sebenarnya, ada beberapa orang dari teman saya yang berangkat mengunjungi Giethoorn di hari yang sama karena bertepatan dengan easter break. Saya pun berniat bergabung saja dengan mereka, karena khawatir perjalanan saya akan berlangsung membosankan jika pergi sendirian. Tapi sepertinya niat solo trip dari awal sudah didukung dan diketuk palu oleh Tuhan. Jadilah saya ketinggalan bus yang dijadwalkan oleh teman-teman. Inisiatif untuk bertemu di lokasi saja, juga nggak tepat. Karena ternyata bus dari stasiun Zwolle yang merupakan salah satu alternatif jalur menuju Giethoorn, hanya ada setiap sejam sekali. Dengan begitu, teman-teman saya pasti akan sudah sampai di Giethoorn paling nggak sejam sebelum saya. Baiklah. Akhirnya, saya harus bersedia asik-asik saja untuk jalan sendirian.



Pada kenyataannya. Perjalanan memang tetap menyenangkan. Awalnya saya sengaja bela-belain untuk menikmatinya dengan mendengar musik dan senyum ke siapa saja yang nggak sengaja bertatapan. Eh, ternyata pembawaan seperti ini mengundang orang asing sekalipun untuk mau mengobrol dengan saya. Ya, tau sajalah, talking to strangers is not common here. Bermuka datar jika berpapasan dengan teman yang pernah sekelas sekalipun merupakan hal yang sangat biasa. Nah di hari itu, senyum mengubah segalanya (duh!).



Perjalanan yang awalnya saya kira akan membosankan menjadi sangat menyenangkan. Di kereta dari stasiun Ede-Wageningen menuju Amersfort, saya duduk berhadapan dengan seorang bapak yang menyapa saya dengan "ben je Indonesisch?" (kamu orang indonesia?). Setelah itu mengalirlah percakapan yang menyenangkan tentang Indonesia, tentunya dalam bahasa Inggris (haha). Si bapak ternyata pernah beristrikan orang Sulawesi selama 25 tahun. Meskipun dia nggak pernah ke Indonesia, dia tau banyak sekali tentang Indonesia. Dia juga mengungkapkan bagaimana dia menyukai beragam makanan Indonesia, bagaimana dia menyukai kebaya apalagi saat dikenakan oleh mantan istrinya. Saking asiknya mengobrol, percakapan pun harus terputus secara mendadak saat kami harus berganti kereta yang berbeda di stasiun Amersfoort.

Di kereta dari Amersfoort menuju Zwolle, saya berkenalan dengan seorang brazillian yang menawarkan permen karet setelah saya senyumin. Ternyata dia seorang backpacker yang sedang singgah di Belanda untuk sekaligus mengunjungi temannya. Setelah ngobrol-ngobrol, saya tau bahwa dia sudah mengunjungi banyak tempat, termasuk Indonesia. Dia mengaku pernah berselancar di Nias, dan ingin kembali lagi ke sana kapan-kapan.

Di bus, dari Zwolle ke Giethoorn, saya melempar senyum kepada seorang ibu-ibu berpenampilan nyentrik yang baru saja naik bus. Dia membalas senyum dan langsung duduk di sebelah saya. Kejadian ngobrol dengan orang asing pun berlangsung lagi. Kali ini si ibu menyangka saya orang India. Si ibu sendiri ternyata berasal dari Praha. Jadilah pembicaraan berlangsung mulus karena saya mengatakan pernah berkunjung ke Praha. What a coincidence! all of it!



Di Giethoorn, senyum saya semakin menjadi-jadi. Kalaupun wajah saya sedang tidak tersenyum, saya tetap tersenyum di dalam hati. Sambil bersyukur tentunya. Ada banyak turis yang berkunjung di hari itu. Kebanyakan dari mereka mengikuti boat tour atau menyewa boat kecil yang menampung hingga 5 orang dan bisa dikendalikan sendiri. Beberapa memilih berjalan menyusuri jalan-jalan kecil di pinggir kanal, termasuk saya.

Karena boat-boat kecil dikendalikan sendiri oleh turis, sesekali kanal menjadi seperti arena boom-boom car. Boat-boat saling bertabrakan saat berpapasan satu sama lain. Satu waktu, boat yang dikendarai sebuah keluarga bule yang ceria menabrak dinding kanal tanpa alasan tertentu, saya pun spontan tertawa, lepas. Dengan spontan juga, seorang cowok bule yang sedang berjalan di depan saya menoleh ke belakang karena mendengar tawa saya, yang langsung saya balas dengan senyuman. Dia tersenyum balik kemudian kembali berjalan. Lalu tiba-tiba dia menoleh sekali lagi dan bilang, "Do you want a picture of you? I think you are a lovely girl, you deserve a picture...." aksennya british sekali. Saya pun menjawab dengan nada ragu, karena masih agak shock, "Yea, if you don't mind" sambil menyodorkan kamera, yang di balasnya dengan "and maybe a phone number?".


Friday, 17 February 2017

The Highly Sensitive Person (HSP)



Highly Sensitive Person (HSP) is one of personality traits. It was researched by Elaine N. Aron in early 1990s. He then wrote a book 'The Highly Sensitive Person' which can be found everywhere now. Lately, I discovered myself a highly sensitive person after I stumbled upon a youtube video of a vlogger. I was having dinner by myself while watching videos on youtube. Then a vlog was automatically played after my previous spectacle finished. Says a girl, "Hi guysss welcome back to my chhhanel...", I kept watching because somehow this video was appealing (the opening reminded me of my sister because she always says that greeting every time I have a video call with her :p). She, the vlogger, then spoke about herself and her as a highly sensitive person, what HSP is and how it feels to be an HSP. Then all the facts she conveyed seemed to be similar to what I know about myself.

Well actually, this is just one of hundreds of personality traits people know about, like extrovert, introvert, charismatic, dutiful, sexy, etc. It seems like nothing serious about it. But seriously, it is quite exhausting to be an HSP without knowing that you are an HSP. Because once you know who you are, you will also know how to take care yourself. 

I refer to an article in The Huffington Post which more or less can give you a picture of how HSP is.

According to the article, HSP feels more deeply and emotionally reactive. I don't know how is it to other people. To me, I feel very deep about everything. Such as love, sadness, happiness, understanding, excitement, etc. I am not only reactive of what I feel, but also of what people might feel about a certain event. 

HSP prefer to exercise solo. It is explained in the article that this is because when playing in a team, there's a sense that people are watching their move. I feel the same thing when I tried squash and aerobic. Then I found out that I am still more comfortable with yoga.

HSP take longer to make decisions. This is because they consider every detail of the output but once they know what the right decision is, they will make it very quick in another time. And because they are highly sensitive, you can imagine how they feel when they make a bad or wrong decision. HSP are more prone to anxiety and depression. well, you know why. But they are also deep thinker that makes them a valuable team worker. 

HSP can be so bothered by the intense sound. To me, it also applies when I am exposed to a place with too many people. Horror and violent movies are said bad for HSP because they are also more easily to be overstimulated. I always avoid those kinds of movies as well, but there is one exceptional. I follow The Walking Dead series like crazy. Haha. I can deal with the thriller in the series because I think the violence is not on human, but dead ones which are walkers (zombies). Whatever the justification is, I just manage to deal with it because I like it. So HSP isn't that bad :D

And so on. You can find other facts on the article which I linked to here, or also take the test on a website here.

Before knowing these all, I always covered myself with self-guilt, like why am I so weak that I cry a lot, why can't I just ignore whatever and do my thing, why can't I do all the tasks at a time like people do, why didn't I stay a little bit longer when the event was going on, and why and why and other whys. That was overwhelming. 

When I understand now, I no longer curse myself for everything I can't do, instead, I know how to take care of things. Of how to control the emotion, the urge when it popped up because I am more aware of the situation and its impact on me, and most importantly, how to enjoy being me. This could also occur on you, that you or your close ones, don't really know why you are very sensitive and reactive to your surroundings, and you find it hard to control.

I don't, (and I believe we supposed not to), take this in a negative way. Instead, I am grateful for the ability to feel so deeply, that I can love my closest people passionately, to feel more connected to myself, to be so empathetic, considerate about someone's feeling and to see things beyond how others do.

Photo source

Monday, 6 February 2017

Heather

Tahun 2009
Saya termasuk penyuka film bergenre romantic comedy dan drama-romance. Karena ceritanya yang ringan dan menghibur, biasanya saya menonton film-film ini jika sedang ingin beristirahat dari tugas sekolah, atau karena lagi butuh hiburan saja. Sekitar tahun 2000 sampai tahun 2010, film dengan genre ini banyak diproduksi dan sebab itu banyak juga film komedi romantis dan drama dengan kualitas yang baik di rentang tahun ini. Kriteria film komedi romantis - drama yang baik dalam kamus saya adalah ceritanya yang tidak basi dan norak, dan akting dari pemerannya yang bagus. Kriteria kedua jadi semakin penting kalau pemerannya juga rupawan :D

Salah satu favorit saya adalah P.S. I Love You yang diperankan oleh Gerard Butler. Cerita di film ini diangkat dari novel dengan judul yang sama karya Cecelia Ahern. Saya duluan menonton film ketimbang membaca novelnya. Disamping jalan ceritanya yang bagus dan pemerannya yang keren, saya juga terkesan oleh salah satu latar ceritanya, yang tidak lain adalah lanscape-nya Irlandia. Di salah satu scene saat Holly, si pemeran wanita, sedang tersesat di sebuah taman nasional, yang menjadi konsen saya adalah tumbuhan seperti semak-semak berwarna ungu yang menjadi latar dari gambar cerita tersebut. Setelah mencari tau, ternyata tumbuhan itu bernama heather, sejenis tumbuhan berbunga. Lalu, seperti biasanya setiap melihat sesuatu yang saya sukai di dalam sebuah gambar, saya selalu berujar dengan innocent: saya ingin melihat itu secara langsung!



Tahun 2017
Januari lalu saya mengambil satu mata kuliah saja yang berlangsung selama satu bulan. Baru tanggal 3 Februari lalu saya dan teman se-segrup melakukan presentasi final. Dalam kuliah ini terselip materi tentang kompetisi tumbuhan di hutan belanda berdasarkan pengaruh siklus nitrogen. Tunggu, saya bukan mau membahas kuliah. Tapi ceritanya saat memberikan materi tentang kompetisi itu, dosen saya menyebut-nyebut heather, saya hanya merasa familiar saja dengan nama itu. Lalu langsung mencoba googling dan ketemu! ah ternyata heather yang ini. Kepala saya pun langsung menyusun rencana untuk berkunjung ke Hoge Veluwe, sebuah taman nasional di belanda demi menuntaskan rasa penasaran saya terhadap heather.

tree climbing berlatarkan heather


Tahun 2016
Beberapa menit yang lalu sebelum menulis ini, saya sedang merapikan folder foto di laptop. Saya membuka salah satu folder berjudul "Wolheze-Nov2016". Folder ini berisi foto-foto saat saya main ke hutan Wolfheze tahun lalu sambil menemani teman melatih kemampuan memanjat pohonnya.
Setelah melihat-lihat sampai zoom-in segala, saya menyadari satu hal. Ternyata saya sudah melintasi padang heather! sudah menyentuh dan memetik heather! Berjalan di setapak yang kiri kanannya heather! oh Tuhan, kemana saja saya? kenapa baru sadar sekarang? Saya memang mendengar teman-teman menyebut-nyebut bahwa tempat yang kami lintasi itu adalah heathland. Dan sudah barang pasti kalau heather tumbuhnya di heathland. Mari tertawakan saya sekarang, saya rela sepenuh hati :')

Jika ingin memaknai, cerita kecil seperti ini pun bisa berarti. Untuk yang satu ini, saya merasa diingatkan lagi: ternyata hidup memang penuh dengan kejutan-kejutan menyenangkan, apalagi kalau kita tau cara mensyukurinya. Alhamdulillah untuk semuanya.

Monday, 16 January 2017

Tentang Wageningen University

Forum Building WUR
Kuliah di tingkat master, tentunya lebih intensif dibandingkan di tingkat sarjana. Hal ini berlaku di universitas mana pun di seluruh dunia. Tapi pastinya setiap kampus memiliki cerita yang berbeda. Bagaimana rasanya menjalani master studies di Wageningen University? well, karena sudah ramai teman-teman yang bertanya mendingan saya tulis di sini. Jadi kalau ada yang nanya lagi tinggal saya kasih link-nya saja. haha. Dari pada pegal ngetik di chat panjang-panjang :)

Wageningen University and Research Center (WUR) adalah sebuah universitas yang berfokus pada bidang keilmuan life sciences. Semua program kuliah adalah yang berhubungan dengan ilmu hidup dan lingkungannya. Kamu tidak akan menemukan ilmu hukum, sejarah atau ilmu pendidikan disini. Kalau pun mempelajari hukum, yang akan kamu pelajari adalah, sebagai contoh, mata kuliah nature policy and governance atau environmental policy. Pengalaman saya di salah satu course, ada materi tentang ilmu komunikasi. Nah, yang saya pelajari adalah communicating science, yaitu bagaimana mengkomunikasikan science kepada masyarakat awam melalui penulisan, seni dan lain sebagainya. Kamu seorang engineer? well, kalau di WUR kamu akan belajar biosystems engineering atau water technology. Lebih lanjut soal bidang keilmuan kamu bisa langsung cek disini.



Library at Forum Building
Universitas ini paling dikenal dengan bidang Agriculture dan Forestry-nya. Dimana terhitung tahun 2016 menduduki peringkat pertama di QS world university ranking by subject agriculture and forestry. Sedangkan di times higher education, WUR berada di peringkat ke 16 untuk kategori life sciences. Secara overall WUR memang tidak masuk ke dalam peringkat terdepan. Seperti di QS, WUR hanya berada di peringkat seratusan dan THE di atas 50-an. Beberapa pendapat dari teman-teman mengatakan, hal ini bisa karena dipengaruhi bidang keilmuan universitasnya yang sangat segmented. Padahal bidang keilmuan merupakan salah satu kriteria yang digunakan kedua website tersebut untuk menentukan ranking suatu universitas. Jika kamu sangat tertarik belajar ilmu yang menyangkut makhluk hidup, kehidupannya dan lingkungannya, WUR boleh masuk ke dalam list kamu (disclaimer: tidak ada unsur advertising di sini, saya sendiri masih bergantung pada gaji beasiswa, hahaha).





Inside Lumen Building

Kuliah (master) di WUR berarti kamu harus rela sebagian besar waktu kehidupan kamu selama 2 tahun dihabiskan untuk belajar tanpa banyak jeda. Jumlah rata-rata hari libur di WUR, sangat jauh lebih sedikit daripada di beberapa universitas lainnya (berdasarkan survei kecil-kecilan saya). WUR menggunakan sistem period. Selama setahun pertama kamu akan menjalani 6 period. Setiap satu period berlangsung selama satu sampai dua bulan. Di period pendek yang terdiri dari satu bulan kamu hanya akan mengambil satu mata kuliah yang berlangsung pagi dan sore. Sedangkan di period panjang yang berlangsung dua bulan, kamu akan belajar dua mata kuliah, yang satu akan menjadi kelas pagi dan yang satunya lagi kelas sore. Jadi selama satu minggu, kamu akan kuliah dari senin hingga jumat, pagi sampai sore. Kelas pagi biasanya maksimal berlangsung dari jam 8.30 sampai jam 12.15 dan kelas sore dari jam 13.30 sampai 17.15. Self study dilakukan pada malam hari atau menggunakan waktu akhir pekan. Saya sendiri seringnya memilih cara ketiga (eh ada cara ketiga ya?) di pagi hari, 3 jam sebelum masuk kuliah. Exam diadakan di setiap akhir period. Nah, di tahun kedua barulah kamu akan mengerjakan thesis selama enam bulan dan internship atau minor thesis selama empat sampai enam bulan. Menariknya, kamu bisa mengambil internship di negara, institusi atau perusahaan mana pun di seluruh dunia, pastinya selama mereka menerima intern dan menerima kamu sebagai intern-nya :P


A Class Room in Orion Building

Karena WUR bukan hanya universitas, tetapi juga sebuah research centre, menjadikan sistem kuliah di WUR memiliki keunikan tersendiri. Staf pengajar tidak bekerja di bawah fakultas, tetapi di bawah chair group (research group). Setiap fakultas memiliki beberapa chair group. Chair group inilah yang menggelar mata kuliah dan staf pengajarnya (yang adalah para peneliti dan sangat ahli dibidangnya) juga berasal dari chair group tersebut . Satu mata kuliah bisa diasuh oleh satu chair group saja, tetapi  bisa jadi juga melibatkan lebih dari satu chair group. Tergantung materi kuliahnya. Dan biasanya di waktu tertentu dalam perkuliahan (umumnya di pertemuan terakhir), mereka mempresentasikan research project yang sedang berlangsung di chair group mereka dan membuka peluang bagi mahasiswa master bergabung untuk thesis dan internship.


Open Space at Gaia Building

Ah, iya. Proses perkuliahan di WUR sendiri sebenarnya hampir sama dengan di kampus-kampus lainnya. Yaitu lecture, reading assignment, practical dan report (jika ada), tutorial (jika melibatkan materi modelling atau pemrograman tertentu), essay writing, fieldwork, dan group work. Hal yang menjadi ciri khas WUR adalah materi kuliahnya yang tidak lepas dari modelling dan (applied) statistik, dan group work di hampir semua course yang ada. Di group work, kebanyakan tugasnya berdasarkan case study dan problem solving dengan mengaplikasikan pengetahuan yang didapat dari lecture dan tutorial. Salah satu hal yang paling menarik tentang group work adalah, akan ada mata kuliah yang skemanya hanya group work dan kamu beserta teman se-grup akan mengerjakan sebuah real project (!). Mata kuliah ini wajib diambil di salah satu period pilihan. Alternatively, kamu bisa menggantinya dengan mata kuliah research master cluster, dimana kamu akan belajar mengerjakan proposal penelitian di tingkat PhD. Sounds interesting, huh? Tapi yaa, ada barang, ada harga. Salah satunya waktu dan tenaga. Lainnya adalah tingkat kewarasan. haha. Bercanda. Pastinya, selama ada semangat dan tekad, berkurangnya tingkat kewarasan tidak masalah. Asal ada teman untuk berbagi kegilaan :D



Inside Atlas Building


Inside Plus Ultra Building

PS: thanks untuk modelling exercise yang tidak selesai tadi sore. sehingga kegilaan kali ini berbuah sebuah tulisan seadanya (yang semoga bermanfaat)


Photos from: @uniwageningen

On Instagram

© durrahhs. Made with love by The Dutch Lady Designs.