Kejadiannya hampir setahun yang lalu saat saya, Linda dan Icha a.k.a. Winter Rangers (setidaknya itu nama grup whatsapp-nya) mencoba berpetualang ke tiga negara dalam liburan singkat kami winter 2016 yang lalu. Tiga negara itu adalah Praha, Austria dan Jerman. Dari dulu, hal yang membuat saya senang jalan-jalan sebenarnya bukan sensasi sudah-pernah-ke-tempat-itu nya. Tetapi lebih kepada banyaknya pengalaman baru beserta drama dan penyelesaiannya yang ajaib yang membuat acara jalan-jalan itu sulit untuk dilupakan. Salah satunya pengalaman dari perjalanan yang satu ini.
Sore tanggal 25 Desember, saya, Linda dan Icha sudah standby di Schipol Airport. Masih bersemangat dan dengan energi yang masih full, kami berjalan cepat mencari gate sesuai boarding pass. Jam 19.30, kami sudah duduk manis di pesawat. Lima belas menit kemudian, pesawat mulai berjalan menuju landasan pacu, namun tiba-tiba berhenti. Pilot pun mengumumkan kalau keberangkatan akan ditunda selama beberapa menit karena harus mengantri untuk take off. Saya pikir ya okelah, mungkin karena jam padat. Selang 30 menit kami belum berangkat juga. Lewat sejam kemudian pilot mengumumkan lagi bahwa pesawat sedang mengalami masalah di sistem ventilasi dan kami akan menunggu teknisi untuk memeriksanya. Wait, jadi mungkin sebenarnya dari tadi bukan karena mengantri, tetapi white lie aja kali ya supaya penumpang tidak panik. Lalu pramugara dan pramugarinya mulai membagikan minuman. Hampir dua jam ternyata masalahnya belum beres juga. Penumpang mulai mencak-mencak meminta keluar saja karena kepanasan. Akhirnya pesawat di dorong menuju gate terdekat.
Berbanding terbalik dengan reaksi penumpang lainnya, saya, Icha dan Linda malah ketawa-ketawa dan take it easy saja. Kami malah berkomentar dengan candaan seperti: yey! from Schipol to Schipol. Haha. Sebenarnya kami di antara senang dan takut. Senang, karena sebenarnya kami belum punya tempat penginapan untuk malam itu di Praha. Jika penebangannya lancar, seharusnya kami sudah sampai di bandara Praha di jam sepuluhan. Dan memutuskan untuk menunggu atau bahkan tidur di bandara sampai pagi (in winter!). Takut juga, karena jika pesawat dibatalkan, maka semua itinerary perjalanan dan semua biaya akomodasi dan tiket bus dan kereta untuk destinasi-destinasi selanjutnya akan hangus begitu saja. Jam 12 malam dan kami masih menunggu di Boarding lounge. Karena semakin besar kemungkinan kalau pesawat akan dibatalkan, kami pun mulai menghitung beberapa opsi: batal jalan, membeli tiket pesawat lain yang berangkat malam itu juga yang harganya sudah sama dengan total biaya perjalanan kami, atau mengambil kereta malam itu juga yang langsung menuju austria dan mengikhlaskan Praha. Oh tidak..
Tidak ada satupun dari kami yang memilih salah satu dari pilihan di atas. Akhirnya kami memutuskan untuk sit and wait, and see what happens. Sementara di boarding lounge, penumpang lainnya yang merasa dirugikan mulai mengepung petugas bandara dan meminta pertanggung jawaban. Koordinasi dengan pihak perusahaan maskapainya ternyata butuh waktu. Sementara penumpang tidak diizinkan keluar boarding lounge atas alasan keamanan. Entah karena lapar atau takut duitnya hangus, penumpang pun semakin memanas dan ngotot. Hanya ada beberapa orang yang woles: sepasang oma dan opa, anak-anak, dan tentunya kami bertiga. Maklum, hari itu masih Christmast. Mungkin orang-orang sudah punya rencana untuk berkumpul dengan keluarganya atau agenda lainnya.
| Dia sesantai ini, sampai oma-opa di depannya ketawa terus. Kontras sekali dengan suasana yang sedang memanas di sebelah sana :D |
Singkat cerita, di puncak-puncaknya kemarahan penumpang, kami diarahkan untuk keluar dan ikut bus yang akan mengangkut kami ke hotel bandara. Masing-masing penumpang di berikan nomor yang bisa dihubungi. Nomor itu tidak tertera di atas kartu nama atau apa lah yang menunjukkan kalau itu nomor resmi. Tetapi ditulis di atas selembar potongan kertas. Kali ini, semua orang tidak terkecuali kami bertiga semakin bersikeras untuk mendapat pernyataan yang sejelas-jelasnya. Akan tetapi pihak bandara tidak juga dapat memastikan kami akan mendapat tiket pengganti atau tidak. Bayangkan saja, saat itu jam 2 malam, di bandara yang mulai sepi, lapar, kebingungan dan dingin. Disitulah, kesantaian berganti kepasrahan. Kami akhirnya memutuskan untuk balik saja ke wageningen dan menyelinap ke balik selimut di kamar masing-masing kalau keesokan harinya kami tidak mendapatkan tiket pesawat gratis.
Kalau dipikir-pikir, memang tidak ada satu sistem pun di dunia ini yang sempurna, selain ciptaan Allah ya? bahkan salah satu bandara paling sibuk di Eropa pun terkadang bisa menunjukkan kekurangan di beberapa sisi. Saya mencoba bersangka baik aja sih, mungkin karena kasus itu adalah kejadian langka, jadi petugasnya tidak siap untuk bertindak. Bisa jadi juga karena saat itu tengah malam dan karena maskapai yang kami gunakan bukan maskapai lokalnya eropa barat, jadi tidak ada representatif dari pihak maskapai yang standby di situ sehingga koordinasi jadi agak lamban. Mungkin saja karena hal-hal lainnya yang terlalu kompleks untuk kita mengerti.
Atau mungkin...
Bayangkan kalau malam itu kami bertiga sampai tepat waktu di bandara Praha. Mungkin kami akan sangat kedinginan. Sebenarnya kami sudah mencoba mencari tau sebelumnya, apakah bandara Václav Havel Airport, Praha nyaman untuk dijadikan tempat menginap. Hasil browsing kurang lebih menjawab iya. Banyak backpacker yang katanya aman-aman saja menginap di bandara Praha. Ternyata, keesokan siang, sesampainya di sana dan melihat keadaan bandara yang agak terbuka dan tidak banyak bangku yang nyaman yang bisa dijadikan tempat tidur, kami bersyukur sekali penerbangan di malam sebelumnya batal. Meskipun panjang waktu kami untuk menikmati Praha jadi terpotong lebih dari setengah hari.
Kejadian hampir setahun lalu itu masih saja menjadi pengingat untuk saya. Sebagaimana mudahnya Allah membolak-balikkan keadaan dan betapa maha baik dan bijaksananya Dia. Dengan mudah membuat penerbangan kami batal, sehingga kami bisa tidur dengan nyaman, hangat, dan gratis di salah satu hotel bintang empat di Amsterdam. Keesokan harinya, tiket penerbangan kami pun digantikan dengan tiket dari maskapai penerbangan terbaiknya Belanda. Semestinya saya (dan kita semua) tidak perlu khawatir tentang apapun juga, karena untuk urusan tidur semalam saja, Allah bahkan mengatur dengan sedemikian rupa. Sampai membatalkan seluruh penerbangan dan sudah pasti urusan semua orang yang pesawatnya batal bersamaan dengan kami bertiga juga sudah diatur-Nya dengan rapi. Apalagi hal-hal pokok di kehidupan kita seperti rejeki, jodoh, keturunan dan sebagainya. Tidak akan luput dari perhatiannya.
"If only you knew how He manages your affairs, your heart would melt out of love for Him" - Imam Shafiee
























