Netherlands

Thursday, 27 July 2017

Sejarah?

Binnenhof (tempat berlangsungnya KMB 1949)

Katanya, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya. Maka dari itu, siapapun yang menghargai sejarah pastinya tau sejarah. Ah, miris sekali, kalau dipikir-pikir, saya bukanlah seseorang yang mampu menyumbang nilai untuk menjadikan bangsa saya bangsa yang besar dalam konteks ini. Bagaimana tidak, untuk tau soal kejadian di Konferensi Meja Bundar (KMB) saja saya harus googling dulu. Untung saja Indonesia masih punya dua orang teman saya ini: Fitra dan Linda. Dengan fasihnya mereka menjelaskan kepada saya bahwa bangunan yang sedang kami kunjungi di Denhaag saat itu adalah tempat berlangsungnya Konferensi Meja Bundar tahun 1949, dimana saat itu terjadi penyerahan kedaulatan oleh Belanda kepada rakyat Indonesia dan bla bla bla.

Fitra dan Linda (masih di kompleks binenhof)

Saya jadi kilas balik pembicaraan dengan teman-teman Belanda dan Jerman yang mereka dengan lancarnya mendiskusikan sejarah mereka saat perang dunia beserta kritik-kritiknya segala. Teman saya dari Ceko, dengan antengnya menjawab pertanyaan saya tentang komunisme di negaranya saat abad ke-19, bagaimana pendapatnya, dan dia, ibunya dan neneknya berdiri dipihak mana. Padahal pada saat itu terjadi mereka belum lahir. Kalau mereka mahasiswa sejarah, atau social studies lainnya pastilah saya sudah paham. Sebaliknya, mereka adalah mahasiswa ilmu lingkungan di Wageningen University yang jauh sekali dengan pembahasan tentang itu. Barulah karena hal ini saya mengerti, mengapa pengetahuan tentang sejarah bukanlah cuma milik orang-orang di jurusan sejarah. Bukan untuk menghindari gumaman eeng.. hmm.. saat ngobrol karena tidak tahu topik, tapi melihat mereka orang-orang eropa, jelas sekali sikap mereka yang paham sejarah dan menghargai sejarah tercermin dalam kehidupan sehari-hari sampai sekarang. Contoh mudahnya saja, mereka selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas dari semua sistem yang ada dari waktu ke waktu. Adalah hal yang lumrah jika sebentar-sebentar seseorang atau suatu institusi meminta feedback dan masukan tentang karya atau pelayanannya. Lalu tidak segan-segan menerima masukan dan memperbaikinya. Mereka mengambil pelajaran dari kualitas masa lalunya untuk meningkatkan masa depannya. Walaupun sejarah tidak serta merta menjadi satu-satunya penyebab dari sikap seperti ini, saya percaya, kemampuan mereka memahami dan belajar dari sejarah juga memiliki peran penting dalam membentuk karakter tersebut. And everybody knows how great their countries are.

Geram rasanya membiarkan diri saya menyia-nyiakan banyak kesempatan untuk menambah wawasan sejarah saya saat ini. Padahal saya sedang berada di negara yang merupakan gudangnya sejarah Indonesia bahkan diklaim lebih lengkap dari yang dimiliki oleh Indonesia sendiri. Padahal negara saya adalah negara yang kaya akan sejarah baik kolonial maupun peradaban. Saya ingat saat berada di pesawat Jakarta-Banda Aceh sekitar setahun yang lalu, pembicaraan dengan seorang bapak di sebelah saya berujung kepada pesannya untuk "jangan lupa nanti coba cari dan lihat karya-karya ulama Aceh seperti Hamzah Fansuri, saya dengar-dengar yang disimpan Belanda lebih lengkap, kalau dapat share ke saya juga ya". Sampai sekarang saya belum menyempatkan diri untuk memenuhi (setengah) janji saya ini ke si bapak. 

Sebenarnya dari segi budget, mengunjungi museum di Belanda terbilang tidak mahal untuk non-turis. Saya bisa membeli kartu museum seharga 50-an euro yang bisa berlaku selama setahun dan bisa bebas dipakai sesering apapun di 400-an museum di Belanda. Jauh lebih murah dibandingkan harga tiket museum sekali masuk yang rata-rata sekitar 10 euro.

Dengan masa studi saya yang insya Allah masih setahun lagi dan sepertinya akan banyak dihabiskan di luar Belanda, semoga masih ada kesempatan untuk saya mewujudkan rencana saya untuk mengunjungi museum-museum di sini, terutama yang menyimpan peninggalan dan dokumentasi sejarah Indonesia dan Aceh. Supaya nama saya bisa masuk dalam club warga negara yang baik yang menghargai sejarah :D.

Saturday, 17 June 2017

Berpuasa di Belanda: Nervous yang Berlebihan



Puasa Ramadhan di Belanda atau umumnya Eropa Barat tahun ini berdurasi 18 jam. Lebih pendek satu jam dibandingkan tahun lalu yang tepat pada musim panas. Sedangkan tahun ini, bulan puasa jatuh pada penghujung musim semi. Terus terang, saya sempat nervous dalam mempersiapkan diri menyambut Ramadhan kali ini. Delapan belas jam berpuasa bagi saya bukan hal yang sepele. Sewaktu di tanah air saya seringkali kehabisan energi saat semakin mendekati waktu berbuka. Semakin mendekati lebaran, tubuh saya yang cadangan lemaknya sangat minim ini pun semakin lunglai, cadangan lemak dipastikan sudah habis terbakar saat Ramadhan usai. Saya pun khawatir kalau panggilan sayang 'tiang listrik ayah' akan selalu melekat seumur hidup.

Karena akan menjalani puasa 5 jam lebih lama daripada biasanya, saya pun mencoba mempersiapkan diri dengan lebih sering bergerak sebelumnya. Di kampus saya membiasakan naik tangga ketimbang lift atau eskalator, jalur naik sepeda sepulang kampus saya jadikan lebih panjang dari biasanya. Sehari sebelum memasuki Ramadhan, saya belanja barang keperluan banyak sekali, dua kantung belanjaan penuh! Saya berniat mengantisipasi untuk tidak pergi ke centrum selama Ramadhan karena jaraknya yang lumayan. 



Nyatanya, Ramadhan kali ini menjadi yang paling tangguh dan ajaib selama hidup saya. Di sini saya sadar bahwa ternyata berpuasa selama 18 jam itu sebenarnya tidak seberat yang saya bayangkan, meskipun harus dijalani dengan kegiatan perkuliahan yang padat. Kebetulan awal Ramadhan bersamaan dengan dimulainya period dengan mata kuliah yang baru. Salah satu konten mata kuliah ini adalah merancang dan menjalankan sebuah penelitian bersama teman segrup. Topik penelitian yang dipilih kelompok saya mengharuskan kami untuk bolak balik mengambil data di lapangan hampir setiap hari selama dua minggu. Lokasi pengambilan data terbilang jauh, 5 kilometer dari kampus, yang pastinya ditempuh dengan sepeda. Lebih parah lagi jalan menuju ke lokasi sangat menanjak. Selama di lokasi pun kami tetap harus bersepeda dari satu titik ke titik lainnya. Jadi bisa dibilang, selama itu saya terus beraktifitas fisik dan pikiran seharian. Pulang ke rumah jam 5 atau 6 sore, saya juga masih harus menunggu waktu iftar di jam 10 malam.





Kenapa saya bilang ajaib? karena selama berpuasa dengan durasi yang melar dari biasanya, kemampuan tubuh saya pun ikut melar. Kondisi lemas di detik menjelang berbuka, yang kalau mengikuti waktu Indonesia, seharusnya terjadi di detik-detik antara jam 6.30 sampai jam 7 (waktu Aceh), di sini saya alami di jam 9.40 sampai jam 10, which is beberapa jam lebih lama. Puasa 18 jam dari jam 3.40 pagi sampai jam 10 malam pun terasa normal-normal saja. Lelah oleh aktifitas seharian pun terasa seperti biasanya. Istirahat, dan semua baik-baik saja. Saya sempat kepikiran, apa saya saja yang terlalu beranggapan lebay terhadap puasa yang 18 jam?



Justru bagi saya, tantangan yang sebenarnya ada di malam hari, dimana saya merasa kesulitan mengadaptasikan jadwal tidur saya dengan waktu late spring. Waktu isya jatuh pada jam 11.30. Lalu jika saya selesai beribadah di jam 12, saya hanya tidur 3 jam sebelum bangun lagi untuk sahur. Tiga jam tentunya sangat kurang untuk waktu istirahat. Jadinya saya menambah waktu tidur saya seusai shalat subuh, sekitar jam 4.30 hingga jam 7.30. Jam tidur pagi seperti itu tidak terlalu menjamin kualitas istirahat yang baik, disamping karena waktu tidur yang terpotong-potong, matahari juga sudah bersinar sangat terang. Beberapa teman saya juga ada yang menyiasatinya dengan makan sebanyak-banyaknya saat berbuka, lalu tidak sahur dan hanya bangun untuk shalat subuh.

Sekarang sudah hari ke-23. Saya dan teman-teman muslim lainnya alhamdulillah masih sehat-sehat dan ceria. Belanjaan yang dua kantung penuh tadi ternyata hanya mampu bertahan hingga 2 minggu pertama. Walaupun sudah terbiasa bersepeda jarak jauh berkat tugas kelompok itu, tetap saja tubuh malas ini enggan untuk bergerak ke toko halal di centrum. Untung bisa nitip tetangga :)


Forest photos by van den Akker

On Instagram

© durrahhs. Made with love by The Dutch Lady Designs.