Friday, 29 July 2016

Membuka Mata


Tanpa saya sadari, pada saat saya terlalu sibuk memikirkan masalah saya sendiri, murung berlarut-larut dalam kesedihan saya, ada banyak orang lain di luar sana yang mengalami kejadian yang jauh lebih buruk. Memang, ukuran buruk atau tidaknya suatu masalah hanya Tuhan dan orang yang mengalaminya yang tahu. Namun ketika saya mencoba memposisikan diri seperti mereka, saya merasa masalah yang sedang saya hadapi jauh teramat sepele dibanding yang sedang menimpa mereka. Bukan, bukannya saya menginginkan masalah. Tapi beberapa waktu yang lalu, saya mengalami persisnya hal ini. Ketika sebuah ujian (yang saya kira berat) menimpa saya, Tuhan malah membuka mata saya untuk melihat melampaui itu semua. Dengan kuasa-Nya saya dipertemukan dengan orang-orang yang kurang beruntung hidupnya secara beruntun. Seolah-olah Tuhan ingin melapangkan hati saya dengan menunjukkan bahwa semua orang mempunyai masalahnya masing-masing. Everybody is fighting their own battle.

Hanya beberapa hari setelah mendapatkan ujian itu, saya menemani ayah saya untuk terapi ditempat baru yang katanya bagus. Di sana, saya bertemu orang-orang dengan berbagai macam penyakit. Ada yang menderita kanker, ada yang lumpuh, ada yang sesak napas, dan lain sebagainya. Saya langsung merasa kecil. Baru lah saya sadar, selama beberapa hari ini saya terlalu mengeluhkan masalah saya, padahal saya diberi kesehatan yang memudahkan saya beraktifitas dan beribadah. Istighfar.

Selang 2 minggu, saya mendengar kabar ibu dari teman saya meninggal dunia. Tidak lama setelah itu ada juga seorang teman yang ayahnya dipanggil Tuhan. Sedangkan teman sekampus saya kehilangan adiknya karena penyakit paru-paru yang sudah lama diderita. Berita-berita ini menampar saya. Disamping kehilangan yang saya alami, ternyata Tuhan masih mengizinkan saya merasakan nikmatnya memiliki keluarga yang lengkap, orang tua yang perhatian, adik-adik yang lucu, yang selama ini lupa saya syukuri. Tiba-tiba saja saya merasa kehilangan saya tidak ada apa-apanya.

Sebulan berselang, saya sekeluarga mengunjungi seorang kerabat yang sedang sakit keras. Beliau masih sangat muda, anaknya baru satu dan masih kecil. Sekarang beliau dipaksa terbaring oleh penyakit leukimia yang di deritanya. Sudah tidak terhitung biaya yang dikeluarkan untuk proses pengobatan. Semoga Allah memberikan kesehatan kepadanya.

"Sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan" (QS: Ash-Shrah: 6)

Benar, Tuhan menolong saya. Dibalik kesulitan yang saya rasakan, Tuhan menunjukkan kemudahan kepada saya. Kemudahan yang mungkin tanpa kejadian tersebut sangat sulit saya dapatkan begitu saja. Yaitu kemudahan untuk mengucap syukur atau istighfar untuk hal-hal yang tidak saya syukuri. Kemudahan untuk tidak hanya berdoa demi kepentingan diri sendiri, tetapi juga mendoakan orang lain terutama orang-orang yang saya sayangi. Kegiatan yang terkadang sering saya lupakan karena sibuk memikirkan diri sendiri. Tidak terbayang sebelumnya, bahwa kemudahan yang diberikan dalam bentuk seperti ini. Saya hanya perlu membuka mata :')

Saya pun hanya mampu mengirimkan doa. Semoga, sebagaimana Tuhan memberikan kemudahan-Nya untuk saya. Dia juga memberikan kemudahan dan kekuatan untuk orang-orang yang sedang tertimpa masalah. Semoga doa-doa yang mereka langitkan dipeluk Tuhan. Semoga ada hari-hari baik menunggu mereka setelah semuanya.

Wednesday, 20 July 2016

Online Course, A New Thing (For Me)

Saya sering heran kenapa kadang-kadang saya bisa sangat malas, tapi di lain waktu, saya bisa begitu rajin untuk belajar. Waktu datang malasnya, saya sampai membutuhkan waktu berhari-hari untuk mengembalikan mood belajar. Setelah dipikir-pikir, ternyata saya mengalami hal demikian setiap suatu kegiatan sudah terlalu rutin. Yep, saya nggak tahan sama rutinitas. Kalau pun harus melakukan hal tertentu secara rutin, saya selalu berusaha menghadirkan hal-hal baru di kegiatan itu. Contohnya aja, kalau mau belajar terus selama seminggu di rumah, jadinya saya belajar di sudut yang berbeda setiap harinya. Hari ini di kamar, besoknya di ruang tamu, dan besoknya lagi bisa aja di ruang makan. Mungkin karena ini juga saya jadi sangat bersemangat waktu sedang mencoba suatu hal baru.
Nah ceritanya, baru-baru ini saya sedang senang-senangnya ikut online course. Awalnya saya hanya ingin coba-coba, hitung-hitung untuk killing time sambil menunggu jadwal keberangkatan, juga nambah wawasan dan pengalaman ikutan online course. Saya menggunakan dua situs kursus online gratis yaitu futurelearn.com dan coursera.org. Di coursera, saya hanya mendaftar satu course aja, berhubung baru satu yang membuat saya tertarik. Sebaliknya, saya bergabung dengan banyak kursus di futurelearn. Selain karena tampilan dan sistemnya yang (menurut saya) lebih bagus, pilihan-pilihan kelasnya juga sangat menarik hati, bahkan beberapa kelas memang benar-benar sedang saya butuhkan :’)
Kelewat semangat di awal ternyata nggak baik juga. Saya sampai kewalahan mengikuti kursus-kursus yang sudah saya ‘borong’ itu. Untuk mengikuti satu kelas, saya harus menyediakan waktu sekitar 3 jam perminggunya. Di minggu pertama, karena ada 3 kelas berlangsung dengan jadwal bersamaan, jadi saya membutuhkan 9 jam untuk online course. Tadinya saya pikir saya akan bisa-bisa aja mengejar semua materinya karena saya memang sudah punya banyak waktu luang sejak nggak aktif bekerja. Salah besar. Rupanya waktu senggang saya nggak sebanyak yang saya kira. Saya lumayan sibuk juga ternyata :)
Akhirnya, setelah jalan 4 minggu dan jadwal beberapa course lainnya juga mulai berdatangan, saya berhenti mengejar 3 course, dan memilih lanjut di 2 courselainnya yang saya rasa penting. Sedikit kecewa meninggalkan 3 kelas tersebut, tapi beruntungnya, di futurelearn saya tetap bisa kembali mengikuti materi di kelas-kelas yang nggak terkejar tadi meskipun jadwal course-nya sudah berakhir.
Buat kamu yang penasaran seberapa menarik kursus-kursus yang saya ambil (yang membuat saya sampai kalap mau ikutan semuanya), ini saya sebutin satu-satu: Students Taking Charge of Higher Education, Food as Medicine, Introduction to Italian, dan 2 course yang sedang saya jalani sekarang adalahIntroduction to dutch dan A Guide to Writing in English for University Study. Kelas-kelas ini di diselenggarakan oleh universitas-universitas ternama seperti University of Groningen, Monash University, UCL dan University of Reading. Selain itu masih ada beberapa course yang masih upcoming (tapi saya sudah daftar, dong) seperti How Do we age? The Molecular Mechanism of Ageing,Introduction to Ecosystem dan (yang saya sendiri masih bertanya-tanya kenapa saya langsung join padahal belum membaca course review-nya) Making Babies in the 21st century :))


On Instagram

© durrahhs. Made with love by The Dutch Lady Designs.