Tanpa saya sadari, pada saat saya terlalu sibuk memikirkan masalah saya sendiri, murung berlarut-larut dalam kesedihan saya, ada banyak orang lain di luar sana yang mengalami kejadian yang jauh lebih buruk. Memang, ukuran buruk atau tidaknya suatu masalah hanya Tuhan dan orang yang mengalaminya yang tahu. Namun ketika saya mencoba memposisikan diri seperti mereka, saya merasa masalah yang sedang saya hadapi jauh teramat sepele dibanding yang sedang menimpa mereka. Bukan, bukannya saya menginginkan masalah. Tapi beberapa waktu yang lalu, saya mengalami persisnya hal ini. Ketika sebuah ujian (yang saya kira berat) menimpa saya, Tuhan malah membuka mata saya untuk melihat melampaui itu semua. Dengan kuasa-Nya saya dipertemukan dengan orang-orang yang kurang beruntung hidupnya secara beruntun. Seolah-olah Tuhan ingin melapangkan hati saya dengan menunjukkan bahwa semua orang mempunyai masalahnya masing-masing. Everybody is fighting their own battle.
Hanya beberapa hari setelah mendapatkan ujian itu, saya menemani ayah saya untuk terapi ditempat baru yang katanya bagus. Di sana, saya bertemu orang-orang dengan berbagai macam penyakit. Ada yang menderita kanker, ada yang lumpuh, ada yang sesak napas, dan lain sebagainya. Saya langsung merasa kecil. Baru lah saya sadar, selama beberapa hari ini saya terlalu mengeluhkan masalah saya, padahal saya diberi kesehatan yang memudahkan saya beraktifitas dan beribadah. Istighfar.
Selang 2 minggu, saya mendengar kabar ibu dari teman saya meninggal dunia. Tidak lama setelah itu ada juga seorang teman yang ayahnya dipanggil Tuhan. Sedangkan teman sekampus saya kehilangan adiknya karena penyakit paru-paru yang sudah lama diderita. Berita-berita ini menampar saya. Disamping kehilangan yang saya alami, ternyata Tuhan masih mengizinkan saya merasakan nikmatnya memiliki keluarga yang lengkap, orang tua yang perhatian, adik-adik yang lucu, yang selama ini lupa saya syukuri. Tiba-tiba saja saya merasa kehilangan saya tidak ada apa-apanya.
Sebulan berselang, saya sekeluarga mengunjungi seorang kerabat yang sedang sakit keras. Beliau masih sangat muda, anaknya baru satu dan masih kecil. Sekarang beliau dipaksa terbaring oleh penyakit leukimia yang di deritanya. Sudah tidak terhitung biaya yang dikeluarkan untuk proses pengobatan. Semoga Allah memberikan kesehatan kepadanya.
"Sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan" (QS: Ash-Shrah: 6)
Benar, Tuhan menolong saya. Dibalik kesulitan yang saya rasakan, Tuhan menunjukkan kemudahan kepada saya. Kemudahan yang mungkin tanpa kejadian tersebut sangat sulit saya dapatkan begitu saja. Yaitu kemudahan untuk mengucap syukur atau istighfar untuk hal-hal yang tidak saya syukuri. Kemudahan untuk tidak hanya berdoa demi kepentingan diri sendiri, tetapi juga mendoakan orang lain terutama orang-orang yang saya sayangi. Kegiatan yang terkadang sering saya lupakan karena sibuk memikirkan diri sendiri. Tidak terbayang sebelumnya, bahwa kemudahan yang diberikan dalam bentuk seperti ini. Saya hanya perlu membuka mata :')
Saya pun hanya mampu mengirimkan doa. Semoga, sebagaimana Tuhan memberikan kemudahan-Nya untuk saya. Dia juga memberikan kemudahan dan kekuatan untuk orang-orang yang sedang tertimpa masalah. Semoga doa-doa yang mereka langitkan dipeluk Tuhan. Semoga ada hari-hari baik menunggu mereka setelah semuanya.

