Sunday, 11 September 2016

Mereka yang Selalu Ada



"Dur, di sana maghrib masih lama nggak? kalo sanggup, hari ini dan besok (10&11) puasa ya".

Saya menerima pesan ini di tengah-tengah kesibukan saya mengerjakan tugas di hari 9 Zulhijjah. Pesan ini datang dari salah seorang sahabat saya, Zara. Zara beserta tiga sahabat saya lainnya, Mulya, Vona dan Melvi adalah mereka yang sejak SMA masih tahan membersamai saya. Syukur tak terkira mempunyai mereka. Yang sudah melihat semua ke-alay-an, kecerobohan, kealpaan saya tetapi selalu memilih untuk tetap memberikan ruang di salah satu sudut hati mereka untuk saya. 

Kembali ke delapan tahun yang lalu, saat kami masih hanya sekumpulan siswi SMA dengan kualitas rata-rata yang suka ngecengin kakak kelas untuk sekedar punya bahan tertawaan dan nggak peduli dengan eksistensi. Kami unik dengan cara sendiri. Ulang tahun yang dirayakan terlambat sebulan, debat-debat panjang yang muncul hanya karena salah memesankan makanan dan curhat-curhat yang berujung kesimpulan aneh. Sampai kegilaan seperti menghadiri konser (nyaris) tengah malam dengan busana yang nggak lazim dipakai untuk menghadiri konser. Ah, terlalu kekanak-kanakan ya? tapi dengan siapa kita bisa nyaman menjadi diri sendiri kalau bukan dengan mereka yang kita anggap bagian diri kita?

"Good friends are like stars, you don't always see them, but you know they are always there"

Kamu mungkin pernah membaca quotes mainstream ini di suatu tempat. Sayang sekali, ada orang lain yang sudah lebih dulu mengemukakannya. Kalau nggak, seperti itulah saya akan menggambarkan mereka. Well, selama perjalanan, saya sudah berkenalan dengan banyak orang, beberapa juga menjadi teman dekat. But to be honest, there's no one compare to them. (meskipun tentu saja, saya juga mempunyai tempat khusus untuk teman-teman dekat saya yang lainnya). Apapun yang terjadi, hal apapun yang saya lalui, saya selalu bisa 'pulang' ke mereka. Begitupun mereka yang selalu ada untuk saya. Lebih tepatnya, untuk satu sama lain. Kami yang berkuliah di tempat yang berbeda, kadang tidak bertemu atau berkomunikasi sampai berbulan-bulan lamanya. Tetapi tetap tidak mengurangi sedikit pun kadar kedekatan yang ada. Mungkin karena kami tumbuh dewasa bersama-sama, mengumpulkan pemahaman bersama-sama, membagi kadar kedewasaan kami seiring waktu agar sama rata. Atau karena selalu dengan ikhlas mendukung, mendoakan dan membantu satu sama lain. Mungkin juga karena kami sama-sama mempercayai bahwa sumber kebahagiaan berasal dari hal-hal sederhana. Seperti ngerujak mangga muda di teras rumah, atau nongkrong di MT, warung mie kecil pinggir jalan yang dari dulu sampai sekarang nggak pernah tergantikan oleh fancy coffee shops yang banyak bertumbuhan di luar sana. Yang paling saya pahami adalah kenyataan bahwa saya selalu nyaman menjadi diri sendiri bersama mereka. Saya merasa dipahami dan diterima. Mereka lebih dari sekedar teman. 

Ngomong-ngomong, pesan yang saya terima dari Zara mengingatkan saya akan satu hal. Suatu hari di beberapa tahun yang lalu, gadis yang mengirimkan pesan itu sedang mengenakan sneakers yang talinya tidak diikat dan jeans belel yang sobek di bagian lutut dan paha. Hari ini dia seorang gadis muslimah manis yang rapi.

Ah, jareng, kamu dan kita ternyata sudah dewasa. Waktu berlari terlalu cepat, ya?



Friday, 2 September 2016

Wageningen: Pada Kesan Pertama



Setelah kurang lebih sebulan tinggal di Wageningen, barulah saya merasa bisa menuliskannya dari sudut pandang seorang pendatang baru. Saya sebut 'sudut pandang pendatang baru', karena mungkin saja pandangan saya, yang sebagai pendatang baru ini terhadap beberapa hal, nggak sama dengan kota ini pada kenyataannya. Nanti kalau sudah setahun, mari kita buktikan kebenarannya :D

Kota Wageningen

Dalam 3 minggu ini, bagi saya Wageningen adalah sebuah kota kecil yang nyaman. Saya nggak peduli kalau banyak teman-teman mahasiswa dari kota lain yang bilang (dalam guyonan mereka) kalau wageningen itu bukan kota, tapi kampung, atau disebut juga kampung wageningen. haha. Yang penting saya merasa cocok dengan kota ini. Kota besar nggak match aja dengan seorang introvert seperti saya. Mungkin benar, soalnya memang kotanya kecil sih. Tapi kalau kata teman dutch saya, di Belanda memang kotanya nggak terlalu besar-besar. Yang dibilang kota kecil itu seperti kota tempat tinggal dia dimana cuma ada dua supermarket. So, Wageningen is considered as a medium city. Oh, well. Dan lagi, sistem yang sustainable, suasana yang tenang, banyak ruang hijau, kebun, peternakan dan bahkan hutan menjadi ciri khas kota Wageningen yang menyebut dirinya sebagai "city of life sciences".

Karena suasananya yang nggak terlalu ramai, Wageningen menjadi tempat yang nyaman untuk belajar dengan fokus. Nggak banyak pusat keramaian di sini sehingga nggak banyak distraksi. Meskipun pusat perbelanjaan untuk keperluan-keperluan dasarnya lengkap dan nggak kalah canggih dan banyak pilihan dibandingkan dengan di kota-kota besar. Wageningen nggak punya chain store seperti ikea, H&M, ZARA, primark (apalagi branded store!) dan sebagainya sehingga nafsu shopping seorang pelajar yang kadang stress-nya dilampiaskan ke belanja bisa dikendalikan dengan baik. Di sisi lain bisa tetap tenang, karena saat ingin belanja, cuma tinggal naik kereta 20 menit menuju Arnhem.



Sepeda oh Sepeda

Dulu saya suka kesal sendiri waktu melihat film animasi indonesia, dimana salah satu anak kecil suka membawa adiknya yang masih kecil sekali bersepada di boncengan depan. Bagi saya itu nggak wajar. Anak kecil kok ditaruh di depan, naik sepeda pula. Bahaya sekali! Nah, di Wageningen dan Belanda pada umumnya, pemandangan seperti ini sangat sangat wajar. Mengayuh sepeda sambil membalas pesan di smartphone dengan kedua tangan? wajar! sampai bawa kulkas atau kasur yang diikat di boncengan belakang juga masih wajar, meskipun saya kurang yakin cara bersepada seperti ini dianggap legal. :))



Santai

Orang di Wageningen, dan Belanda pada umumnya sangat santai dengan hidup. Mereka nggak suka bekerja terlalu lama. Bagi mereka, lebih baik bekerja sebentar tetapi efektif. Alhasil, hampir semua fasilitas layanan, mulai dari kantor hingga supermarket mulai buka dari jam 9 pagi. Kantor tutup jam 5 sedangkan pusat perbelanjaan tutup di jam 6 sore, kecuali beberapa supermarket saja yang buka sampai jam 8 malam. Ada juga sebagian yang punya jadwal buka sendiri seperti dari jam 10 pagi sampai jam 2 siang saja, dan sebagainya. Mereka juga nggak suka diganggu kalau weekend. Itu mutlak waktu pribadi yang akan dihabiskan untuk keluarga atau teman-teman. Jadi, jika mengerjakan group assignment di hari sabtu atau minggu, jangan harap akan ada dutch yang datang.

Tentu saja kata santai nggak berlaku untuk sistem kuliahnya. Kuliah nggak santai sama sekali di sini.

Pelajar Indonesia

Entah tersebab apa pelajar Indonesia di Wageningen ini ramai sekali. Sampai bulan September 2016, pelajar Indonesia di Wageningen mencapai 200-an orang. Angka ini mencakup mahasiswa bachelor, master dan PhD. Mungkin karena kotanya nggak terlalu besar, jadi ramainya makin terasa. Setiap sudut, saya bisa bertemu orang Indonesia. Meskipun nggak saling kenal, biasanya kami saling sapa atau dadah-dadah dari jauh. Orang-orang Indonesia di sini bisa langsung di kenali dari wajah dan penampilan. Jadi bisa dipastikan kemungkinan salah sapa itu cuma 5%. Saya bahkan pernah salah ngomong waktu mau naik lift di apartemen tempat tinggal saya yang 20 lantai tingginya. Karena tidak suka berlama-lama di dalam lift, dan sign tanda panahnya ada di dalam, sebelum naik saya suka bertanya dulu. Hari itu, alih-alih bertanya "is it going down" saya malah bilang "ini turun ya". Dan mas-nya yang chinese spontan menjawab "iya mbak". Oh, syukurlah. haha. Pernah juga, karena sudah yakin sekali itu orang Indonesia, saya mencoba menyapa dalam bahasa indonesia. Dan yang di sapa bengong saja. Setelah saya konfirmasi, ternyata dia orang filipina :')

Tapi, meskipun banyak sekali orang indonesia di sini. Jangan disangka akan terus-terusan bersama orang indonesia. Karena kalau sudah musim kuliah, kesempatan untuk ngobrol banyak itu cuma di lift atau kebetulan ketemu di centrum saat beli ice cream (pegalaman pribadi), selebihnya, semua sibuk dengan urusan masing-masing dan cuma bisa say hi dari jauh jika berpapasan. Tapi setidaknya kalau homesick, bisa bikin potluck, kalau stress atau bosan sendirian, mereka bersedia dikunjungi. Kalau butuh bantuan, dengan senang hati membantu. Bahkan saat nggak diminta sekalipun. Contohnya saya yang dikasih kulkas, sama tetangga sebelah yang kebetulan orang indonesia, dan kebetulan punya kulkas dua.

Sepertinya...



Kalau dipikir-pikir, walaupun luar biasa rindu rumah, sepertinya dua tahun lagi, reverse culture shock akan menjadi berat bagi saya. Kalau dirasa-rasa, meskipun sistem kuliahnya berat, saya akan merindukan tempat ini saat kembali nanti. Sepertinya, Wageningen memang tipe tempat tinggal yang ngangenin.

On Instagram

© durrahhs. Made with love by The Dutch Lady Designs.