"Dur, di sana maghrib masih lama nggak? kalo sanggup, hari ini dan besok (10&11) puasa ya".
Saya menerima pesan ini di tengah-tengah kesibukan saya mengerjakan tugas di hari 9 Zulhijjah. Pesan ini datang dari salah seorang sahabat saya, Zara. Zara beserta tiga sahabat saya lainnya, Mulya, Vona dan Melvi adalah mereka yang sejak SMA masih tahan membersamai saya. Syukur tak terkira mempunyai mereka. Yang sudah melihat semua ke-alay-an, kecerobohan, kealpaan saya tetapi selalu memilih untuk tetap memberikan ruang di salah satu sudut hati mereka untuk saya.
Kembali ke delapan tahun yang lalu, saat kami masih hanya sekumpulan siswi SMA dengan kualitas rata-rata yang suka ngecengin kakak kelas untuk sekedar punya bahan tertawaan dan nggak peduli dengan eksistensi. Kami unik dengan cara sendiri. Ulang tahun yang dirayakan terlambat sebulan, debat-debat panjang yang muncul hanya karena salah memesankan makanan dan curhat-curhat yang berujung kesimpulan aneh. Sampai kegilaan seperti menghadiri konser (nyaris) tengah malam dengan busana yang nggak lazim dipakai untuk menghadiri konser. Ah, terlalu kekanak-kanakan ya? tapi dengan siapa kita bisa nyaman menjadi diri sendiri kalau bukan dengan mereka yang kita anggap bagian diri kita?
"Good friends are like stars, you don't always see them, but you know they are always there"
Kamu mungkin pernah membaca quotes mainstream ini di suatu tempat. Sayang sekali, ada orang lain yang sudah lebih dulu mengemukakannya. Kalau nggak, seperti itulah saya akan menggambarkan mereka. Well, selama perjalanan, saya sudah berkenalan dengan banyak orang, beberapa juga menjadi teman dekat. But to be honest, there's no one compare to them. (meskipun tentu saja, saya juga mempunyai tempat khusus untuk teman-teman dekat saya yang lainnya). Apapun yang terjadi, hal apapun yang saya lalui, saya selalu bisa 'pulang' ke mereka. Begitupun mereka yang selalu ada untuk saya. Lebih tepatnya, untuk satu sama lain. Kami yang berkuliah di tempat yang berbeda, kadang tidak bertemu atau berkomunikasi sampai berbulan-bulan lamanya. Tetapi tetap tidak mengurangi sedikit pun kadar kedekatan yang ada. Mungkin karena kami tumbuh dewasa bersama-sama, mengumpulkan pemahaman bersama-sama, membagi kadar kedewasaan kami seiring waktu agar sama rata. Atau karena selalu dengan ikhlas mendukung, mendoakan dan membantu satu sama lain. Mungkin juga karena kami sama-sama mempercayai bahwa sumber kebahagiaan berasal dari hal-hal sederhana. Seperti ngerujak mangga muda di teras rumah, atau nongkrong di MT, warung mie kecil pinggir jalan yang dari dulu sampai sekarang nggak pernah tergantikan oleh fancy coffee shops yang banyak bertumbuhan di luar sana. Yang paling saya pahami adalah kenyataan bahwa saya selalu nyaman menjadi diri sendiri bersama mereka. Saya merasa dipahami dan diterima. Mereka lebih dari sekedar teman.
Ngomong-ngomong, pesan yang saya terima dari Zara mengingatkan saya akan satu hal. Suatu hari di beberapa tahun yang lalu, gadis yang mengirimkan pesan itu sedang mengenakan sneakers yang talinya tidak diikat dan jeans belel yang sobek di bagian lutut dan paha. Hari ini dia seorang gadis muslimah manis yang rapi.
Ah, jareng, kamu dan kita ternyata sudah dewasa. Waktu berlari terlalu cepat, ya?
Ah, jareng, kamu dan kita ternyata sudah dewasa. Waktu berlari terlalu cepat, ya?




