![]() |
| Binnenhof (tempat berlangsungnya KMB 1949) |
Katanya, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya. Maka dari itu, siapapun yang menghargai sejarah pastinya tau sejarah. Ah, miris sekali, kalau dipikir-pikir, saya bukanlah seseorang yang mampu menyumbang nilai untuk menjadikan bangsa saya bangsa yang besar dalam konteks ini. Bagaimana tidak, untuk tau soal kejadian di Konferensi Meja Bundar (KMB) saja saya harus googling dulu. Untung saja Indonesia masih punya dua orang teman saya ini: Fitra dan Linda. Dengan fasihnya mereka menjelaskan kepada saya bahwa bangunan yang sedang kami kunjungi di Denhaag saat itu adalah tempat berlangsungnya Konferensi Meja Bundar tahun 1949, dimana saat itu terjadi penyerahan kedaulatan oleh Belanda kepada rakyat Indonesia dan bla bla bla.
![]() |
| Fitra dan Linda (masih di kompleks binenhof) |
Saya jadi kilas balik pembicaraan dengan teman-teman Belanda dan Jerman yang mereka dengan lancarnya mendiskusikan sejarah mereka saat perang dunia beserta kritik-kritiknya segala. Teman saya dari Ceko, dengan antengnya menjawab pertanyaan saya tentang komunisme di negaranya saat abad ke-19, bagaimana pendapatnya, dan dia, ibunya dan neneknya berdiri dipihak mana. Padahal pada saat itu terjadi mereka belum lahir. Kalau mereka mahasiswa sejarah, atau social studies lainnya pastilah saya sudah paham. Sebaliknya, mereka adalah mahasiswa ilmu lingkungan di Wageningen University yang jauh sekali dengan pembahasan tentang itu. Barulah karena hal ini saya mengerti, mengapa pengetahuan tentang sejarah bukanlah cuma milik orang-orang di jurusan sejarah. Bukan untuk menghindari gumaman eeng.. hmm.. saat ngobrol karena tidak tahu topik, tapi melihat mereka orang-orang eropa, jelas sekali sikap mereka yang paham sejarah dan menghargai sejarah tercermin dalam kehidupan sehari-hari sampai sekarang. Contoh mudahnya saja, mereka selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas dari semua sistem yang ada dari waktu ke waktu. Adalah hal yang lumrah jika sebentar-sebentar seseorang atau suatu institusi meminta feedback dan masukan tentang karya atau pelayanannya. Lalu tidak segan-segan menerima masukan dan memperbaikinya. Mereka mengambil pelajaran dari kualitas masa lalunya untuk meningkatkan masa depannya. Walaupun sejarah tidak serta merta menjadi satu-satunya penyebab dari sikap seperti ini, saya percaya, kemampuan mereka memahami dan belajar dari sejarah juga memiliki peran penting dalam membentuk karakter tersebut. And everybody knows how great their countries are.
Geram rasanya membiarkan diri saya menyia-nyiakan banyak kesempatan untuk menambah wawasan sejarah saya saat ini. Padahal saya sedang berada di negara yang merupakan gudangnya sejarah Indonesia bahkan diklaim lebih lengkap dari yang dimiliki oleh Indonesia sendiri. Padahal negara saya adalah negara yang kaya akan sejarah baik kolonial maupun peradaban. Saya ingat saat berada di pesawat Jakarta-Banda Aceh sekitar setahun yang lalu, pembicaraan dengan seorang bapak di sebelah saya berujung kepada pesannya untuk "jangan lupa nanti coba cari dan lihat karya-karya ulama Aceh seperti Hamzah Fansuri, saya dengar-dengar yang disimpan Belanda lebih lengkap, kalau dapat share ke saya juga ya". Sampai sekarang saya belum menyempatkan diri untuk memenuhi (setengah) janji saya ini ke si bapak.
Sebenarnya dari segi budget, mengunjungi museum di Belanda terbilang tidak mahal untuk non-turis. Saya bisa membeli kartu museum seharga 50-an euro yang bisa berlaku selama setahun dan bisa bebas dipakai sesering apapun di 400-an museum di Belanda. Jauh lebih murah dibandingkan harga tiket museum sekali masuk yang rata-rata sekitar 10 euro.
Dengan masa studi saya yang insya Allah masih setahun lagi dan sepertinya akan banyak dihabiskan di luar Belanda, semoga masih ada kesempatan untuk saya mewujudkan rencana saya untuk mengunjungi museum-museum di sini, terutama yang menyimpan peninggalan dan dokumentasi sejarah Indonesia dan Aceh. Supaya nama saya bisa masuk dalam club warga negara yang baik yang menghargai sejarah :D.


