Wageningen

Monday, 16 January 2017

Tentang Wageningen University

Forum Building WUR
Kuliah di tingkat master, tentunya lebih intensif dibandingkan di tingkat sarjana. Hal ini berlaku di universitas mana pun di seluruh dunia. Tapi pastinya setiap kampus memiliki cerita yang berbeda. Bagaimana rasanya menjalani master studies di Wageningen University? well, karena sudah ramai teman-teman yang bertanya mendingan saya tulis di sini. Jadi kalau ada yang nanya lagi tinggal saya kasih link-nya saja. haha. Dari pada pegal ngetik di chat panjang-panjang :)

Wageningen University and Research Center (WUR) adalah sebuah universitas yang berfokus pada bidang keilmuan life sciences. Semua program kuliah adalah yang berhubungan dengan ilmu hidup dan lingkungannya. Kamu tidak akan menemukan ilmu hukum, sejarah atau ilmu pendidikan disini. Kalau pun mempelajari hukum, yang akan kamu pelajari adalah, sebagai contoh, mata kuliah nature policy and governance atau environmental policy. Pengalaman saya di salah satu course, ada materi tentang ilmu komunikasi. Nah, yang saya pelajari adalah communicating science, yaitu bagaimana mengkomunikasikan science kepada masyarakat awam melalui penulisan, seni dan lain sebagainya. Kamu seorang engineer? well, kalau di WUR kamu akan belajar biosystems engineering atau water technology. Lebih lanjut soal bidang keilmuan kamu bisa langsung cek disini.



Library at Forum Building
Universitas ini paling dikenal dengan bidang Agriculture dan Forestry-nya. Dimana terhitung tahun 2016 menduduki peringkat pertama di QS world university ranking by subject agriculture and forestry. Sedangkan di times higher education, WUR berada di peringkat ke 16 untuk kategori life sciences. Secara overall WUR memang tidak masuk ke dalam peringkat terdepan. Seperti di QS, WUR hanya berada di peringkat seratusan dan THE di atas 50-an. Beberapa pendapat dari teman-teman mengatakan, hal ini bisa karena dipengaruhi bidang keilmuan universitasnya yang sangat segmented. Padahal bidang keilmuan merupakan salah satu kriteria yang digunakan kedua website tersebut untuk menentukan ranking suatu universitas. Jika kamu sangat tertarik belajar ilmu yang menyangkut makhluk hidup, kehidupannya dan lingkungannya, WUR boleh masuk ke dalam list kamu (disclaimer: tidak ada unsur advertising di sini, saya sendiri masih bergantung pada gaji beasiswa, hahaha).





Inside Lumen Building

Kuliah (master) di WUR berarti kamu harus rela sebagian besar waktu kehidupan kamu selama 2 tahun dihabiskan untuk belajar tanpa banyak jeda. Jumlah rata-rata hari libur di WUR, sangat jauh lebih sedikit daripada di beberapa universitas lainnya (berdasarkan survei kecil-kecilan saya). WUR menggunakan sistem period. Selama setahun pertama kamu akan menjalani 6 period. Setiap satu period berlangsung selama satu sampai dua bulan. Di period pendek yang terdiri dari satu bulan kamu hanya akan mengambil satu mata kuliah yang berlangsung pagi dan sore. Sedangkan di period panjang yang berlangsung dua bulan, kamu akan belajar dua mata kuliah, yang satu akan menjadi kelas pagi dan yang satunya lagi kelas sore. Jadi selama satu minggu, kamu akan kuliah dari senin hingga jumat, pagi sampai sore. Kelas pagi biasanya maksimal berlangsung dari jam 8.30 sampai jam 12.15 dan kelas sore dari jam 13.30 sampai 17.15. Self study dilakukan pada malam hari atau menggunakan waktu akhir pekan. Saya sendiri seringnya memilih cara ketiga (eh ada cara ketiga ya?) di pagi hari, 3 jam sebelum masuk kuliah. Exam diadakan di setiap akhir period. Nah, di tahun kedua barulah kamu akan mengerjakan thesis selama enam bulan dan internship atau minor thesis selama empat sampai enam bulan. Menariknya, kamu bisa mengambil internship di negara, institusi atau perusahaan mana pun di seluruh dunia, pastinya selama mereka menerima intern dan menerima kamu sebagai intern-nya :P


A Class Room in Orion Building

Karena WUR bukan hanya universitas, tetapi juga sebuah research centre, menjadikan sistem kuliah di WUR memiliki keunikan tersendiri. Staf pengajar tidak bekerja di bawah fakultas, tetapi di bawah chair group (research group). Setiap fakultas memiliki beberapa chair group. Chair group inilah yang menggelar mata kuliah dan staf pengajarnya (yang adalah para peneliti dan sangat ahli dibidangnya) juga berasal dari chair group tersebut . Satu mata kuliah bisa diasuh oleh satu chair group saja, tetapi  bisa jadi juga melibatkan lebih dari satu chair group. Tergantung materi kuliahnya. Dan biasanya di waktu tertentu dalam perkuliahan (umumnya di pertemuan terakhir), mereka mempresentasikan research project yang sedang berlangsung di chair group mereka dan membuka peluang bagi mahasiswa master bergabung untuk thesis dan internship.


Open Space at Gaia Building

Ah, iya. Proses perkuliahan di WUR sendiri sebenarnya hampir sama dengan di kampus-kampus lainnya. Yaitu lecture, reading assignment, practical dan report (jika ada), tutorial (jika melibatkan materi modelling atau pemrograman tertentu), essay writing, fieldwork, dan group work. Hal yang menjadi ciri khas WUR adalah materi kuliahnya yang tidak lepas dari modelling dan (applied) statistik, dan group work di hampir semua course yang ada. Di group work, kebanyakan tugasnya berdasarkan case study dan problem solving dengan mengaplikasikan pengetahuan yang didapat dari lecture dan tutorial. Salah satu hal yang paling menarik tentang group work adalah, akan ada mata kuliah yang skemanya hanya group work dan kamu beserta teman se-grup akan mengerjakan sebuah real project (!). Mata kuliah ini wajib diambil di salah satu period pilihan. Alternatively, kamu bisa menggantinya dengan mata kuliah research master cluster, dimana kamu akan belajar mengerjakan proposal penelitian di tingkat PhD. Sounds interesting, huh? Tapi yaa, ada barang, ada harga. Salah satunya waktu dan tenaga. Lainnya adalah tingkat kewarasan. haha. Bercanda. Pastinya, selama ada semangat dan tekad, berkurangnya tingkat kewarasan tidak masalah. Asal ada teman untuk berbagi kegilaan :D



Inside Atlas Building


Inside Plus Ultra Building

PS: thanks untuk modelling exercise yang tidak selesai tadi sore. sehingga kegilaan kali ini berbuah sebuah tulisan seadanya (yang semoga bermanfaat)


Photos from: @uniwageningen

Friday, 2 September 2016

Wageningen: Pada Kesan Pertama



Setelah kurang lebih sebulan tinggal di Wageningen, barulah saya merasa bisa menuliskannya dari sudut pandang seorang pendatang baru. Saya sebut 'sudut pandang pendatang baru', karena mungkin saja pandangan saya, yang sebagai pendatang baru ini terhadap beberapa hal, nggak sama dengan kota ini pada kenyataannya. Nanti kalau sudah setahun, mari kita buktikan kebenarannya :D

Kota Wageningen

Dalam 3 minggu ini, bagi saya Wageningen adalah sebuah kota kecil yang nyaman. Saya nggak peduli kalau banyak teman-teman mahasiswa dari kota lain yang bilang (dalam guyonan mereka) kalau wageningen itu bukan kota, tapi kampung, atau disebut juga kampung wageningen. haha. Yang penting saya merasa cocok dengan kota ini. Kota besar nggak match aja dengan seorang introvert seperti saya. Mungkin benar, soalnya memang kotanya kecil sih. Tapi kalau kata teman dutch saya, di Belanda memang kotanya nggak terlalu besar-besar. Yang dibilang kota kecil itu seperti kota tempat tinggal dia dimana cuma ada dua supermarket. So, Wageningen is considered as a medium city. Oh, well. Dan lagi, sistem yang sustainable, suasana yang tenang, banyak ruang hijau, kebun, peternakan dan bahkan hutan menjadi ciri khas kota Wageningen yang menyebut dirinya sebagai "city of life sciences".

Karena suasananya yang nggak terlalu ramai, Wageningen menjadi tempat yang nyaman untuk belajar dengan fokus. Nggak banyak pusat keramaian di sini sehingga nggak banyak distraksi. Meskipun pusat perbelanjaan untuk keperluan-keperluan dasarnya lengkap dan nggak kalah canggih dan banyak pilihan dibandingkan dengan di kota-kota besar. Wageningen nggak punya chain store seperti ikea, H&M, ZARA, primark (apalagi branded store!) dan sebagainya sehingga nafsu shopping seorang pelajar yang kadang stress-nya dilampiaskan ke belanja bisa dikendalikan dengan baik. Di sisi lain bisa tetap tenang, karena saat ingin belanja, cuma tinggal naik kereta 20 menit menuju Arnhem.



Sepeda oh Sepeda

Dulu saya suka kesal sendiri waktu melihat film animasi indonesia, dimana salah satu anak kecil suka membawa adiknya yang masih kecil sekali bersepada di boncengan depan. Bagi saya itu nggak wajar. Anak kecil kok ditaruh di depan, naik sepeda pula. Bahaya sekali! Nah, di Wageningen dan Belanda pada umumnya, pemandangan seperti ini sangat sangat wajar. Mengayuh sepeda sambil membalas pesan di smartphone dengan kedua tangan? wajar! sampai bawa kulkas atau kasur yang diikat di boncengan belakang juga masih wajar, meskipun saya kurang yakin cara bersepada seperti ini dianggap legal. :))



Santai

Orang di Wageningen, dan Belanda pada umumnya sangat santai dengan hidup. Mereka nggak suka bekerja terlalu lama. Bagi mereka, lebih baik bekerja sebentar tetapi efektif. Alhasil, hampir semua fasilitas layanan, mulai dari kantor hingga supermarket mulai buka dari jam 9 pagi. Kantor tutup jam 5 sedangkan pusat perbelanjaan tutup di jam 6 sore, kecuali beberapa supermarket saja yang buka sampai jam 8 malam. Ada juga sebagian yang punya jadwal buka sendiri seperti dari jam 10 pagi sampai jam 2 siang saja, dan sebagainya. Mereka juga nggak suka diganggu kalau weekend. Itu mutlak waktu pribadi yang akan dihabiskan untuk keluarga atau teman-teman. Jadi, jika mengerjakan group assignment di hari sabtu atau minggu, jangan harap akan ada dutch yang datang.

Tentu saja kata santai nggak berlaku untuk sistem kuliahnya. Kuliah nggak santai sama sekali di sini.

Pelajar Indonesia

Entah tersebab apa pelajar Indonesia di Wageningen ini ramai sekali. Sampai bulan September 2016, pelajar Indonesia di Wageningen mencapai 200-an orang. Angka ini mencakup mahasiswa bachelor, master dan PhD. Mungkin karena kotanya nggak terlalu besar, jadi ramainya makin terasa. Setiap sudut, saya bisa bertemu orang Indonesia. Meskipun nggak saling kenal, biasanya kami saling sapa atau dadah-dadah dari jauh. Orang-orang Indonesia di sini bisa langsung di kenali dari wajah dan penampilan. Jadi bisa dipastikan kemungkinan salah sapa itu cuma 5%. Saya bahkan pernah salah ngomong waktu mau naik lift di apartemen tempat tinggal saya yang 20 lantai tingginya. Karena tidak suka berlama-lama di dalam lift, dan sign tanda panahnya ada di dalam, sebelum naik saya suka bertanya dulu. Hari itu, alih-alih bertanya "is it going down" saya malah bilang "ini turun ya". Dan mas-nya yang chinese spontan menjawab "iya mbak". Oh, syukurlah. haha. Pernah juga, karena sudah yakin sekali itu orang Indonesia, saya mencoba menyapa dalam bahasa indonesia. Dan yang di sapa bengong saja. Setelah saya konfirmasi, ternyata dia orang filipina :')

Tapi, meskipun banyak sekali orang indonesia di sini. Jangan disangka akan terus-terusan bersama orang indonesia. Karena kalau sudah musim kuliah, kesempatan untuk ngobrol banyak itu cuma di lift atau kebetulan ketemu di centrum saat beli ice cream (pegalaman pribadi), selebihnya, semua sibuk dengan urusan masing-masing dan cuma bisa say hi dari jauh jika berpapasan. Tapi setidaknya kalau homesick, bisa bikin potluck, kalau stress atau bosan sendirian, mereka bersedia dikunjungi. Kalau butuh bantuan, dengan senang hati membantu. Bahkan saat nggak diminta sekalipun. Contohnya saya yang dikasih kulkas, sama tetangga sebelah yang kebetulan orang indonesia, dan kebetulan punya kulkas dua.

Sepertinya...



Kalau dipikir-pikir, walaupun luar biasa rindu rumah, sepertinya dua tahun lagi, reverse culture shock akan menjadi berat bagi saya. Kalau dirasa-rasa, meskipun sistem kuliahnya berat, saya akan merindukan tempat ini saat kembali nanti. Sepertinya, Wageningen memang tipe tempat tinggal yang ngangenin.

Wednesday, 24 August 2016

Sunset Rasa Wageningen


Salah satu hal yang sangat saya sukai dari tinggal di Banda Aceh adalah pantainya yang hanya berjarak tempuh sekitar 20 menit dari rumah saya. Sewaktu kuliah, jarak antara kampus dan pantai bahkan hanya kurang dari 1 kilometer. Saya dan teman-teman sering mengunjungi pantai ini di sore hari seusai kuliah. Kadang-kadang kami ditemani gorengan, air mineral, pernah juga nasi padang. Kalau cuaca sedang cerah, saya suka merengek kepada mereka untuk tinggal sebentar sampai matahari terbenam, barulah mencari mesjid untuk shalat maghrib.

Kalau ditanya kenapa saya suka sekali dengan sunset, saya cuma bisa menjawab, siapa sih yang nggak suka sunset? Ada aura menenangkan saat diliputi suasana pergantian warna langit. Sewaktu melihat matahari terbenam, saya merasa lebih mudah memahami bahwa hidup ini sesederhana melakukan aktivitas di siang hari lalu menutupnya di akhir hari. Lalu akan berulang lagi keesokan harinya. Semua hal menyenangkan, menyedihkan, perasaan bahagia maupun sedih di setiap harinya hanyalah bentuk-bentuk terpisah yang akan berganti seiring pergantian matahari. Saya bisa lebih menyadari bahwa semua hal akan terus datang dan pergi. That everything is temporary.



Saya tidak pernah menyangka akan bisa menikmati sunset selama tinggal di Wageningen. Makanya sebelum berangkat ke sini, saya menyempatkan diri untuk pergi ke pantai pada saat matahari terbenam. Rupanya dugaan saya salah karena semua orang juga tahu kalau sunset akan ada dimana-mana selama bumi masih berputar pada porosnya :)

Sunset di Wageningen mempunyai rasa yang berbeda. Di sini tentu saja tidak ada pantai. Landscape kota wageningen hanyalah tanah datar yang di isi oleh pemukiman, hutan, dan tanah-tanah peternakan. Tapi justru kondisi seperti ini yang juga membuat matahari di Wageningen terbenam dengan indahnya, tidak kalah indah dengan sunset di pantai Lampuuk atau Lhoknga di kampung halaman sana.


On Instagram

© durrahhs. Made with love by The Dutch Lady Designs.