Friday, 5 January 2018

Tutur kecil dari ujung barat


Di tengah laut antara Banda aceh dan Pulau breuh, saya mengucapkan sampai jumpa kepada koneksi internet. Boro-boro internet, sinyal telepon saja cuma akan bisa saya dapatkan di tempat tertentu seperti di pinggir pantai. Begitulah. Jangan heran, itu biasa. Pulau Breuh adalah salah satu pulau terdepan Indonesia. Letaknya di ujung paling barat Indonesia, di provinsi Aceh. Listrik pun masih sering mati. Cuma ada satu pembangkit listrik kecil di sana, pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) yang harus memenuhi kebutuhan listrik di dua belas desa di pulau itu. Meskipun listrik kerap padam, tapi tidak apa-apa. Masyarakat tidak butuh-butuh amat. Tidak ada smartphone yang perlu di charge sebentar-bentar, tidak ada AC yang harus terus menyala. Di sana memang panas, tapi selalu ada pohon di setiap incinya tempat berlindung dari kepanasan.

Di Pulau Breuh, kehidupan masyarakat terutama berkisar antara melaut, bertani, dan bergurau dengan tetangga. Setiap malam rumah kak Fah, tempat saya menumpang, dikunjungi tamu kecil bernama Aisha. Dia tidak pernah absen, sehingga kalau dia datang agak terlambat saja, rumah itu rasanya sunyi sekali. Selepas maghrib, bayi tiga belas bulan ini sudah siap untuk main ke rumah kak Fah bersama ibunya. Dia menjadi penyemarak rumah kak Fah setelah hari yang melelahkan. Kadang diselingi siaran musik dangdut di televisi. Saya selalu menyempatkan bermain dengan Aisha dan Nafis, anak kak fah yang berumur lima tahun. Bermain dengan anak kecil tidak pernah semenyenangkan saat di pulau Breuh. Puas bermain, saya masuk kamar dan membaca buku, sampai tertidur dengan sendirinya.

***

Saya menumpang di kampung Lampuyang. Di sana, pagi hari diwarnai kicau burung yang ramai sekali, teh hangat dan kue pulot (kue khas Aceh berupa ketan manis yang dipanggang dalam balutan daun pisang). Anak-anak berseragam merah putih pergi ke sekolah dengan berjalan kaki, naik sepeda, ada yang di antar, ada juga yang mengendarai sepeda motor membonceng adiknya. Iya, mereka masih SD dan mengendarai sepeda motor sambil membonceng adiknya.

Di sana saya tidak sadar hari. Setiap hari terasa sama saja. Hari minggu hanya akan terasa berbeda saat melihat anak-anak SD tidak memakai seragam. Mereka bermain di sepanjang tambak dan pantai, main mencari ikan, main mencari udang, main dengan kepiting, main memancing dengan pancingan kayu yang dikaitkan dengan benang atau main memberi makan kambing. Jangan remehkan kemampuan bermain anak-anak di sana. Sekali waktu saya melihat seorang anak bermain perahu yang terbuat dari botol air mineral. Botol itu diikat dengan benang pada sepotong kayu sebagai pegangan. Dia menarik-narik perahu itu di sepanjang pantai. Beberapa anak lainnya kemudian bergabung membawa perahunya masing-masing. Sebagian perahu botol air mineral mereka ada yang dibolongi agar bisa diisi muatan. Tidak puas main menarik perahu di pinggiran, mereka akhirnya berenang agak ke tengah. Perahu seharusnya berjalan di laut bukan di pantai. Kan?



Sementara, di mesjid tidak jauh dari tempat mereka bermain, shalat ashar berjamaah baru saja selesai dilaksanakan. Jamaahnya tiga orang, ada seorang imam, seorang lelaki tua dan seorang anak laki-laki berumur sekitar empat tahun. Anak kecil itu mengenakan gamis dan menggenggam tasbih kecil. Sesaat kemudian dia keluar bersama imam shalat ashar tadi.

***

Suatu malam saya diajak (karena saya minta diajak) oleh kak Fah mencari cumi di pantai. Cumi adalah sebutan mereka untuk gurita kecil. Malam sebelumnya kak Fah berhasil mendapatkan lima ekor cumi. Bermodalkan senter di kepala dan sandal jepit, kami berangkat naik motor. Bonceng tiga bersama teman saya. Malam sangat pekat meskipun masih jam delapan, karena tidak ada penerangan sama sekali. Jalanannya rusak dan jelek, diapit oleh rimbunan semak belukar. Kadang terlihat rombongan kunang-kunang di sana-sini. Banyak suara hewan-hewan malam terdengar dari kejauhan.




Sesampainya di pantai, ternyata air laut di area pasang surut malam itu masih agak tinggi. Menurut kak Fah, cumi sulit ditemukan kalau air sedang agak tinggi. Sambil mencari cumi, kak Fah menunjukkan kepada kami jenis-jenis keong laut yang bisa dimakan. Tidak ada satu pun cumi yang muncul malam itu. Lalu untuk mengobati rasa kecewa, kami berakhir dengan mengumpulkan keong untuk dimasak bersama mie instan. Dan mie instan itu pun menjadi salah satu mie instan terenak bagi saya. Karena mie-nya sudah ditambah bumbu usaha mengumpulkan keong, pengalaman mencari cumi di pinggir pantai dalam gelap gulita, ancaman bisa ular laut yang kerap bersembunyi di balik batu besar dan suara gemuruh pecahnya ombak yang membuat saya berkali-kali membatin: what am I getting myself into?
***
Ngomong-ngomong, selain bertani, penduduk Pulo Aceh juga pada umumnya adalah nelayan. Kak Fah bercerita bagaimana dia meminta suaminya untuk tidak menjadi nelayan. Karena dia takut dan gelisah jika suaminya pergi melaut. Banyak cerita yang dia dengar dari masyarakat nelayan lainnya. Ada waktu-waktu dimana nelayan-nelayan itu tidak sempat makan, karena harus menyeimbangkan perahu kecil mereka karena ombak besar yang tidak mereda. Ada yang harus memotong tali jangkar yang sedang terpasang karena ombak besar yang datang tiba-tiba sehingga mereka tidak sempat menariknya. Ada juga yang tali jangkarnya ditabrak ikan besar dan menyeret perahu mereka hingga terbalik. Beruntung salah satu dari mereka sempat menelepon ke darat, sehingga teman-teman nelayan lainnya berbondong-bondong mencari mereka ke tengah laut yang gelap. Ketika ditemukan, mereka sedang mengapung sambil berpegangan pada perahu mereka yang sudah terbalik.


Saya bisa membayangkan bagaimana rasanya. Atau setidaknya, saya sudah mendapat gambaran bagaimana rasanya menjadi nelayan di tengah-tengah ombak besar. Dalam sebuah perjalanan menyeberang antar pulau dari Pulau nasi ke Pulau breuh, kami melewati arus pasang disertai angin timur (yang berarti laut tidak bersahabat di kawasan Pulau Aceh). Kami menaiki boat nelayan kecil yang biasanya digunakan untuk memancing ikan di sekitaran pulau. Pertama kalinya dalam hidup saya melihat ombak besar dalam jarak yang begitu dekat. Tepat di samping boat, ada ombak yang lebih tinggi dari kepala saya. Ajaibnya, tidak lama setelah itu, kami berada di atasnya. Dan begitulah seterusnya sampai kami memasuki area yang lebih tenang. Saya takut, sekaligus excited. Dua orang bapak nelayan yang mengantarkan saya dan teman saya tampak tenang saja selama perjalanan. Ah, mungkin itu masih tidak seberapa dibandingkan pengalaman mereka. Selama perjalanan, saya mengagumi sosok mereka. Mereka sangat pemberani. Dan saya belajar bahwa setiap orang berharga dan punya peran pentingnya masing-masing yang tidak bisa digantikan oleh orang lain. Karena itu juga setiap orang berhak dihargai. Bayangkan kalau seorang pegawai kantoran tiba-tiba disuruh jadi nelayan. Belum tentu bisa.

Syukurnya, kejadian buruk seperti yang saya ceritakan di atas tidak sering terjadi. Syukurnya, nelayan-nelayan kecil di Pulau aceh masih tidak perlu pergi terlalu jauh untuk mendapatkan panen yang cukup.

Sementara kak Fah masih tetap pada pendiriannya. Rejeki bisa datang dari mana saja, katanya.


***
Suatu hari, saya berkata pada kak Fah, "sepertinya di sini, kalau tidak ada uang sekalipun orang tetap hidup ya kak". Penyataan saya langsung diiyakannya. "iya dek, orang di sini mayoritas petani, beras sudah ada dari hasil bertani setahun dua kali, mau ikan tinggal mancing, cari cumi atau tiram. Kalau pingin daging pun itu dibelakang kami pelihara ayam dan bebek, umpan ayam juga dari makanan sisa. Bawang, cabe, jahe, dan lain-lainnya ada di kebun. Besok kak Fah mau bikin keripik pisang dari pisang pemberian Mak Akak tetangga sebelah". Dan saya cuma bisa berkata "wow". Sebenarnya kehidupan seperti ini pernah saya saksikan di kampung nenek saya dulu ketika saya masih kecil. Manusia hidup begitu dekatnya dengan alam. Mereka mengambil seperlunya sesuai kebutuhan. Lalu hidup dengan sederhana. Apa yang bisa saya katakan? mereka sepertinya tidak butuh apapun. Dengan semagat kak Fah bercerita pengalamannya pergi ke gunung untuk memetik cengkeh atau ke hilir untuk menangkap udang yang besar-besar, atau mencari cumi di tengah malam bersama temannya yang sedang hamil. Mereka seperti berkecukupan. Tidak merasa kurang sesuatu apapun.

***

Saat itu sedang musim panen cengkeh. Kak Fah mengajak saya ke gunung yang saya iyakan dengan senang hati.




On Instagram

© durrahhs. Made with love by The Dutch Lady Designs.