little things

Monday, 6 February 2017

Heather

Tahun 2009
Saya termasuk penyuka film bergenre romantic comedy dan drama-romance. Karena ceritanya yang ringan dan menghibur, biasanya saya menonton film-film ini jika sedang ingin beristirahat dari tugas sekolah, atau karena lagi butuh hiburan saja. Sekitar tahun 2000 sampai tahun 2010, film dengan genre ini banyak diproduksi dan sebab itu banyak juga film komedi romantis dan drama dengan kualitas yang baik di rentang tahun ini. Kriteria film komedi romantis - drama yang baik dalam kamus saya adalah ceritanya yang tidak basi dan norak, dan akting dari pemerannya yang bagus. Kriteria kedua jadi semakin penting kalau pemerannya juga rupawan :D

Salah satu favorit saya adalah P.S. I Love You yang diperankan oleh Gerard Butler. Cerita di film ini diangkat dari novel dengan judul yang sama karya Cecelia Ahern. Saya duluan menonton film ketimbang membaca novelnya. Disamping jalan ceritanya yang bagus dan pemerannya yang keren, saya juga terkesan oleh salah satu latar ceritanya, yang tidak lain adalah lanscape-nya Irlandia. Di salah satu scene saat Holly, si pemeran wanita, sedang tersesat di sebuah taman nasional, yang menjadi konsen saya adalah tumbuhan seperti semak-semak berwarna ungu yang menjadi latar dari gambar cerita tersebut. Setelah mencari tau, ternyata tumbuhan itu bernama heather, sejenis tumbuhan berbunga. Lalu, seperti biasanya setiap melihat sesuatu yang saya sukai di dalam sebuah gambar, saya selalu berujar dengan innocent: saya ingin melihat itu secara langsung!



Tahun 2017
Januari lalu saya mengambil satu mata kuliah saja yang berlangsung selama satu bulan. Baru tanggal 3 Februari lalu saya dan teman se-segrup melakukan presentasi final. Dalam kuliah ini terselip materi tentang kompetisi tumbuhan di hutan belanda berdasarkan pengaruh siklus nitrogen. Tunggu, saya bukan mau membahas kuliah. Tapi ceritanya saat memberikan materi tentang kompetisi itu, dosen saya menyebut-nyebut heather, saya hanya merasa familiar saja dengan nama itu. Lalu langsung mencoba googling dan ketemu! ah ternyata heather yang ini. Kepala saya pun langsung menyusun rencana untuk berkunjung ke Hoge Veluwe, sebuah taman nasional di belanda demi menuntaskan rasa penasaran saya terhadap heather.

tree climbing berlatarkan heather


Tahun 2016
Beberapa menit yang lalu sebelum menulis ini, saya sedang merapikan folder foto di laptop. Saya membuka salah satu folder berjudul "Wolheze-Nov2016". Folder ini berisi foto-foto saat saya main ke hutan Wolfheze tahun lalu sambil menemani teman melatih kemampuan memanjat pohonnya.
Setelah melihat-lihat sampai zoom-in segala, saya menyadari satu hal. Ternyata saya sudah melintasi padang heather! sudah menyentuh dan memetik heather! Berjalan di setapak yang kiri kanannya heather! oh Tuhan, kemana saja saya? kenapa baru sadar sekarang? Saya memang mendengar teman-teman menyebut-nyebut bahwa tempat yang kami lintasi itu adalah heathland. Dan sudah barang pasti kalau heather tumbuhnya di heathland. Mari tertawakan saya sekarang, saya rela sepenuh hati :')

Jika ingin memaknai, cerita kecil seperti ini pun bisa berarti. Untuk yang satu ini, saya merasa diingatkan lagi: ternyata hidup memang penuh dengan kejutan-kejutan menyenangkan, apalagi kalau kita tau cara mensyukurinya. Alhamdulillah untuk semuanya.

Sunday, 13 November 2016

Autumn



Ada saat-saat di hidupmu, dalam satu hari kamu akan jatuh cinta berkali-kali. Pada Tuhan, pada masakanmu sendiri, pada bunga-bunga di salah satu toko di stasiun kereta, pada ilmu yang baru saja kau pelajari, pada cerita dari seorang asing yang hanya ingin berbicara di sela-sela menunggu jadwal kereta, pada senyum dan tawa teman-temanmu, pada lagu, pada rindu, pada bangunan-bangunan, pada kesederhaan, dingin, dan alam yang perubahannya menyajikan keindahan. 



Akhir-akhir ini saya mendapati diri jatuh cinta berkali-kali pada daun-daun yang berubah warna, dibuai angin, kemudian melepas rantingnya. Mengikuti angin sampai terbawa jatuh pada tempatnya. Saya jatuh cinta pada musim gugur, dimana daun-daun menunjukkan masing-masing warna aslinya, seperti memiliki karakter yang berbeda-beda sehingga lebih mudah dikenali. Pohon honey locust di seberang jalan sana, berwarna kuning keemasan. Red oak, yang pada musim panas berwarna hijau, menunjukkan warna yang sesuai namanya: merah cerah. Beech merubah daunnya yang hijau muda menjadi kuning pucat. Maple berubah menjadi kuning, jingga hingga merah, sesuai jenisnya. Sedangkan daun-daun pohon konifer kebanyakan berwarna coklat.

Warna-warna ini menyatu membentuk sesuatu seperti nada. Berbeda, tetapi selaras. Diiringi dingin yang bagi saya merupakan sebuah kesenangan sekaligus enggan. Kadang saya menikmatinya, kadang tidak. Tetapi tidak akan berlebihan jika saya bilang jatuh cinta pada musim ini. Autumn memang seindah namanya.

Daun-daun yang jatuh mengisi ruang-ruang di halaman rumah, jalan, di atas rumput hijau, bangku dan kendaraan yang di parkir di pinggir jalan. Tidak ada yang luar biasa. Hanya kecantikan yang sederhana. Mereka akan berubah warna lagi menjadi cokelat sebelum akhirnya membusuk dan terurai bersama tanah, memberikan nutrisi untuk pohon-pohon menumbuhkan lagi daun-daunnya di penghujung musim dingin nanti.


Hari ini, autumn sepertinya mulai mengangkat kaki. Mempersilakan musim dingin mengucapkan salam, mengintip malu-malu karena datang terlalu cepat. Suhu semakin menurun hingga di bawah nol. Ranting-ranting pohon bertelanjangan. Saya pun dengan tidak rela mengucapkan selamat jalan, Autumn, sampai jumpa lagi di tahun depan.




Wednesday, 24 August 2016

Sunset Rasa Wageningen


Salah satu hal yang sangat saya sukai dari tinggal di Banda Aceh adalah pantainya yang hanya berjarak tempuh sekitar 20 menit dari rumah saya. Sewaktu kuliah, jarak antara kampus dan pantai bahkan hanya kurang dari 1 kilometer. Saya dan teman-teman sering mengunjungi pantai ini di sore hari seusai kuliah. Kadang-kadang kami ditemani gorengan, air mineral, pernah juga nasi padang. Kalau cuaca sedang cerah, saya suka merengek kepada mereka untuk tinggal sebentar sampai matahari terbenam, barulah mencari mesjid untuk shalat maghrib.

Kalau ditanya kenapa saya suka sekali dengan sunset, saya cuma bisa menjawab, siapa sih yang nggak suka sunset? Ada aura menenangkan saat diliputi suasana pergantian warna langit. Sewaktu melihat matahari terbenam, saya merasa lebih mudah memahami bahwa hidup ini sesederhana melakukan aktivitas di siang hari lalu menutupnya di akhir hari. Lalu akan berulang lagi keesokan harinya. Semua hal menyenangkan, menyedihkan, perasaan bahagia maupun sedih di setiap harinya hanyalah bentuk-bentuk terpisah yang akan berganti seiring pergantian matahari. Saya bisa lebih menyadari bahwa semua hal akan terus datang dan pergi. That everything is temporary.



Saya tidak pernah menyangka akan bisa menikmati sunset selama tinggal di Wageningen. Makanya sebelum berangkat ke sini, saya menyempatkan diri untuk pergi ke pantai pada saat matahari terbenam. Rupanya dugaan saya salah karena semua orang juga tahu kalau sunset akan ada dimana-mana selama bumi masih berputar pada porosnya :)

Sunset di Wageningen mempunyai rasa yang berbeda. Di sini tentu saja tidak ada pantai. Landscape kota wageningen hanyalah tanah datar yang di isi oleh pemukiman, hutan, dan tanah-tanah peternakan. Tapi justru kondisi seperti ini yang juga membuat matahari di Wageningen terbenam dengan indahnya, tidak kalah indah dengan sunset di pantai Lampuuk atau Lhoknga di kampung halaman sana.


A Notebook and A Pen



Kebiasaan saya menulis jurnal pribadi di sebuah buku membuat saya hobi mengoleksi buku-buku catatan yang lucu-lucu. Kalau bukan karena niat untuk belajar mengatur keuangan dengan baik, mungkin semua notebook cantik yang saya temui sudah tertimbun di rumah. Tapi walaupun saya sudah berusaha menahan diri, hasrat untuk membeli buku catatan ini terkadang nggak bisa ditahan. Alhasil ada saja yang saya bawa pulang meskipun saya tahu buku itu belum akan dipakai karena buku-buku yang lama pun belum habis saya tulisi. Nggak jarang juga beberapa buku berakhir sebagai wadah untuk catatan atau coret-coretan iseng saja.

By the way, tahun 2014 yang lalu saya naksir berat sama sebuah notebook milik seorang teman di kelas les bahasa Inggris. Karena si teman nggak mau memberitahu tempat di mana dia membeli buku itu, saya akhirnya mutar-mutar keliling Banda Aceh dan akhirnya ketemu di sebuah toko buku. Yay, saya berusaha menahan diri untuk nggak loncat-loncat gembira sewaktu melihat buku itu terpampang di salah satu rak. Sedikit mengecewakan karena bukunya tinggal satu dan gambar cover depannya tidak sesuai dengan harapan saya. Tapiii, karena sudah perjuangan sekali untuk mendapatkannya, akhirnya tetap saya beli juga.

Ada sesuatu yang spesial tentang buku ini. Saya membuat janji dan memasang tekad bahwa buku itu akan menjadi tempat saya menuliskan jurnal saya selama menjalani kuliah master di salah satu negara di Eropa suatu hari nanti. Saya akan menulisi buku ini dengan sebuah pulpen hadiah pemberian dekan fakultas saya di hari yudisium kelulusan dulu. Pulpen itu juga sengaja saya simpan untuk cita-cita yang sama. Kalau dipikir-pikir, alangkah naifnya karena saat itu jalannya saja saya nggak tahu. But there is no wish left to a waste, as long as we believe. Here’s my first content :)




Wednesday, 20 July 2016

Online Course, A New Thing (For Me)

Saya sering heran kenapa kadang-kadang saya bisa sangat malas, tapi di lain waktu, saya bisa begitu rajin untuk belajar. Waktu datang malasnya, saya sampai membutuhkan waktu berhari-hari untuk mengembalikan mood belajar. Setelah dipikir-pikir, ternyata saya mengalami hal demikian setiap suatu kegiatan sudah terlalu rutin. Yep, saya nggak tahan sama rutinitas. Kalau pun harus melakukan hal tertentu secara rutin, saya selalu berusaha menghadirkan hal-hal baru di kegiatan itu. Contohnya aja, kalau mau belajar terus selama seminggu di rumah, jadinya saya belajar di sudut yang berbeda setiap harinya. Hari ini di kamar, besoknya di ruang tamu, dan besoknya lagi bisa aja di ruang makan. Mungkin karena ini juga saya jadi sangat bersemangat waktu sedang mencoba suatu hal baru.
Nah ceritanya, baru-baru ini saya sedang senang-senangnya ikut online course. Awalnya saya hanya ingin coba-coba, hitung-hitung untuk killing time sambil menunggu jadwal keberangkatan, juga nambah wawasan dan pengalaman ikutan online course. Saya menggunakan dua situs kursus online gratis yaitu futurelearn.com dan coursera.org. Di coursera, saya hanya mendaftar satu course aja, berhubung baru satu yang membuat saya tertarik. Sebaliknya, saya bergabung dengan banyak kursus di futurelearn. Selain karena tampilan dan sistemnya yang (menurut saya) lebih bagus, pilihan-pilihan kelasnya juga sangat menarik hati, bahkan beberapa kelas memang benar-benar sedang saya butuhkan :’)
Kelewat semangat di awal ternyata nggak baik juga. Saya sampai kewalahan mengikuti kursus-kursus yang sudah saya ‘borong’ itu. Untuk mengikuti satu kelas, saya harus menyediakan waktu sekitar 3 jam perminggunya. Di minggu pertama, karena ada 3 kelas berlangsung dengan jadwal bersamaan, jadi saya membutuhkan 9 jam untuk online course. Tadinya saya pikir saya akan bisa-bisa aja mengejar semua materinya karena saya memang sudah punya banyak waktu luang sejak nggak aktif bekerja. Salah besar. Rupanya waktu senggang saya nggak sebanyak yang saya kira. Saya lumayan sibuk juga ternyata :)
Akhirnya, setelah jalan 4 minggu dan jadwal beberapa course lainnya juga mulai berdatangan, saya berhenti mengejar 3 course, dan memilih lanjut di 2 courselainnya yang saya rasa penting. Sedikit kecewa meninggalkan 3 kelas tersebut, tapi beruntungnya, di futurelearn saya tetap bisa kembali mengikuti materi di kelas-kelas yang nggak terkejar tadi meskipun jadwal course-nya sudah berakhir.
Buat kamu yang penasaran seberapa menarik kursus-kursus yang saya ambil (yang membuat saya sampai kalap mau ikutan semuanya), ini saya sebutin satu-satu: Students Taking Charge of Higher Education, Food as Medicine, Introduction to Italian, dan 2 course yang sedang saya jalani sekarang adalahIntroduction to dutch dan A Guide to Writing in English for University Study. Kelas-kelas ini di diselenggarakan oleh universitas-universitas ternama seperti University of Groningen, Monash University, UCL dan University of Reading. Selain itu masih ada beberapa course yang masih upcoming (tapi saya sudah daftar, dong) seperti How Do we age? The Molecular Mechanism of Ageing,Introduction to Ecosystem dan (yang saya sendiri masih bertanya-tanya kenapa saya langsung join padahal belum membaca course review-nya) Making Babies in the 21st century :))


On Instagram

© durrahhs. Made with love by The Dutch Lady Designs.