Puasa Ramadhan di Belanda atau umumnya Eropa Barat tahun ini berdurasi 18 jam. Lebih pendek satu jam dibandingkan tahun lalu yang tepat pada musim panas. Sedangkan tahun ini, bulan puasa jatuh pada penghujung musim semi. Terus terang, saya sempat nervous dalam mempersiapkan diri menyambut Ramadhan kali ini. Delapan belas jam berpuasa bagi saya bukan hal yang sepele. Sewaktu di tanah air saya seringkali kehabisan energi saat semakin mendekati waktu berbuka. Semakin mendekati lebaran, tubuh saya yang cadangan lemaknya sangat minim ini pun semakin lunglai, cadangan lemak dipastikan sudah habis terbakar saat Ramadhan usai. Saya pun khawatir kalau panggilan sayang 'tiang listrik ayah' akan selalu melekat seumur hidup.
Karena akan menjalani puasa 5 jam lebih lama daripada biasanya, saya pun mencoba mempersiapkan diri dengan lebih sering bergerak sebelumnya. Di kampus saya membiasakan naik tangga ketimbang lift atau eskalator, jalur naik sepeda sepulang kampus saya jadikan lebih panjang dari biasanya. Sehari sebelum memasuki Ramadhan, saya belanja barang keperluan banyak sekali, dua kantung belanjaan penuh! Saya berniat mengantisipasi untuk tidak pergi ke centrum selama Ramadhan karena jaraknya yang lumayan.
Nyatanya, Ramadhan kali ini menjadi yang paling tangguh dan ajaib selama hidup saya. Di sini saya sadar bahwa ternyata berpuasa selama 18 jam itu sebenarnya tidak seberat yang saya bayangkan, meskipun harus dijalani dengan kegiatan perkuliahan yang padat. Kebetulan awal Ramadhan bersamaan dengan dimulainya period dengan mata kuliah yang baru. Salah satu konten mata kuliah ini adalah merancang dan menjalankan sebuah penelitian bersama teman segrup. Topik penelitian yang dipilih kelompok saya mengharuskan kami untuk bolak balik mengambil data di lapangan hampir setiap hari selama dua minggu. Lokasi pengambilan data terbilang jauh, 5 kilometer dari kampus, yang pastinya ditempuh dengan sepeda. Lebih parah lagi jalan menuju ke lokasi sangat menanjak. Selama di lokasi pun kami tetap harus bersepeda dari satu titik ke titik lainnya. Jadi bisa dibilang, selama itu saya terus beraktifitas fisik dan pikiran seharian. Pulang ke rumah jam 5 atau 6 sore, saya juga masih harus menunggu waktu iftar di jam 10 malam.
Kenapa saya bilang ajaib? karena selama berpuasa dengan durasi yang melar dari biasanya, kemampuan tubuh saya pun ikut melar. Kondisi lemas di detik menjelang berbuka, yang kalau mengikuti waktu Indonesia, seharusnya terjadi di detik-detik antara jam 6.30 sampai jam 7 (waktu Aceh), di sini saya alami di jam 9.40 sampai jam 10, which is beberapa jam lebih lama. Puasa 18 jam dari jam 3.40 pagi sampai jam 10 malam pun terasa normal-normal saja. Lelah oleh aktifitas seharian pun terasa seperti biasanya. Istirahat, dan semua baik-baik saja. Saya sempat kepikiran, apa saya saja yang terlalu beranggapan lebay terhadap puasa yang 18 jam?
Justru bagi saya, tantangan yang sebenarnya ada di malam hari, dimana saya merasa kesulitan mengadaptasikan jadwal tidur saya dengan waktu late spring. Waktu isya jatuh pada jam 11.30. Lalu jika saya selesai beribadah di jam 12, saya hanya tidur 3 jam sebelum bangun lagi untuk sahur. Tiga jam tentunya sangat kurang untuk waktu istirahat. Jadinya saya menambah waktu tidur saya seusai shalat subuh, sekitar jam 4.30 hingga jam 7.30. Jam tidur pagi seperti itu tidak terlalu menjamin kualitas istirahat yang baik, disamping karena waktu tidur yang terpotong-potong, matahari juga sudah bersinar sangat terang. Beberapa teman saya juga ada yang menyiasatinya dengan makan sebanyak-banyaknya saat berbuka, lalu tidak sahur dan hanya bangun untuk shalat subuh.
Sekarang sudah hari ke-23. Saya dan teman-teman muslim lainnya alhamdulillah masih sehat-sehat dan ceria. Belanjaan yang dua kantung penuh tadi ternyata hanya mampu bertahan hingga 2 minggu pertama. Walaupun sudah terbiasa bersepeda jarak jauh berkat tugas kelompok itu, tetap saja tubuh malas ini enggan untuk bergerak ke toko halal di centrum. Untung bisa nitip tetangga :)
Kenapa saya bilang ajaib? karena selama berpuasa dengan durasi yang melar dari biasanya, kemampuan tubuh saya pun ikut melar. Kondisi lemas di detik menjelang berbuka, yang kalau mengikuti waktu Indonesia, seharusnya terjadi di detik-detik antara jam 6.30 sampai jam 7 (waktu Aceh), di sini saya alami di jam 9.40 sampai jam 10, which is beberapa jam lebih lama. Puasa 18 jam dari jam 3.40 pagi sampai jam 10 malam pun terasa normal-normal saja. Lelah oleh aktifitas seharian pun terasa seperti biasanya. Istirahat, dan semua baik-baik saja. Saya sempat kepikiran, apa saya saja yang terlalu beranggapan lebay terhadap puasa yang 18 jam?
Justru bagi saya, tantangan yang sebenarnya ada di malam hari, dimana saya merasa kesulitan mengadaptasikan jadwal tidur saya dengan waktu late spring. Waktu isya jatuh pada jam 11.30. Lalu jika saya selesai beribadah di jam 12, saya hanya tidur 3 jam sebelum bangun lagi untuk sahur. Tiga jam tentunya sangat kurang untuk waktu istirahat. Jadinya saya menambah waktu tidur saya seusai shalat subuh, sekitar jam 4.30 hingga jam 7.30. Jam tidur pagi seperti itu tidak terlalu menjamin kualitas istirahat yang baik, disamping karena waktu tidur yang terpotong-potong, matahari juga sudah bersinar sangat terang. Beberapa teman saya juga ada yang menyiasatinya dengan makan sebanyak-banyaknya saat berbuka, lalu tidak sahur dan hanya bangun untuk shalat subuh.
Sekarang sudah hari ke-23. Saya dan teman-teman muslim lainnya alhamdulillah masih sehat-sehat dan ceria. Belanjaan yang dua kantung penuh tadi ternyata hanya mampu bertahan hingga 2 minggu pertama. Walaupun sudah terbiasa bersepeda jarak jauh berkat tugas kelompok itu, tetap saja tubuh malas ini enggan untuk bergerak ke toko halal di centrum. Untung bisa nitip tetangga :)
Forest photos by van den Akker



Post a Comment